Surat ke Pluto

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Agustus 2017
Surat ke Pluto

Ini bukan kali pertama aku menyebutmu. Mendengungkan namamu dalam hatiku. Namun keinsyafan itu datang ketika sekejap kita bertemu. Hatimu bergejolak menyeru “hei, dekati aku. Dekati aku” seperti itu bias yang terpancar dari matamu. Aliran darahku berdesir membelah masa yang lalu-lalu, yang penuh tapi kosong, yang ramai tapi sepi. Senandung rindu terus diputar dalam memori hatiku, yang dulu beku kini mulai mencair, lumer. Aku meminta agar Tuhan menghentikan dan mengharap sebanyak ampunan yang bisa diwakilkan kata-kata. Dan kata-kata. Ternyata belum mencipta satu saja yang namanya bahkan mendekatipun tidak, untuk mewakili perasaanku saat ini. 

Sejak pertemuan itu, satu tahun lalu. Setiap malam aku membungkus rindu. Rinduku padamu terus muncul meski telah kupangkas. Ia seperti jariyah yang makin lebat dan hebat ketika ditebas. Berantakan. Aku nyaris tak memiliki ruang untuk menyimpan rinduku padamu. Mau tahu dimana aku menyimpan semua itu? jadi, setiap malam aku mengumpulkan rinduku. Kukeluarkan seluruh isi hatiku, kuikat dalam buku lalu kumasukkan dalam almari. Kau tahu ada berapa almari dalam rumahku? Semua penuh akan rindu yang kutabung untukmu. Entah kapan kau akan mengambilnya. Mengurangi sedikit beban lemari kacaku.

 Astaga!! Aku jatuh cinta.  Apa ini yang disebut cinta? Jika demikian aku jadi punya jawaban mengapa selama ini belum merasakan. Karena aku belum mengalaminya.

Jadi begini, pertemanan kecil kita itu terukir pada stupa yang kita tinggal saat beranjak dewasa. Kau di kenyataan, memilih jalani hidup dengan mengalami. Jadi kau mulai perjalananmu dengan menyibak riuhnya jalanan, berkenalan, bercerita untuk kemudian menyatu dengan mereka. Aku di mimpi, memilih jalani hidup dengan merasakan. Jadi kulari ke hutan, menelusuri belukar, menyibak semak dan sesekali membikin api dari ranting-ranting yang kering. Aku mendalami sepi yang maha dan membangun bukit-bukit sunyi di sana. Dengan begitu aku tak lagi sepi. Ah, sepi. Aku lupa yang kubuat itu bukit sunyi. Sebuah ruang hampa dengan hamparan kosong di sana. Bagaimana aku mengharap ‘tak lagi sepi’ dari kondisi seperti ini.

 Kau dan aku jelas berbeda. Tapi ada satu yang sama, kita terlupa akan rasa cinta. Seharusnya kita sudah jatuh terjerembab dan bersenang-senang. Hei, kita beranjak dewasa tapi takdir memisah begitu rupa hingga menempatkan kita pada masing-masing ruang yang sama. Sama?

Ya, tunggu sebentar. Jadi di tengah belantara, ketika apiku mulai habis dan semilir angin jadi gigil sekumpulan truk berbondong-bondong mendekat, menghampiriku. Truk dengan muatan beton, krecak dan pasir itu berselancar di jalan, mengelilingiku, menindih semak yang kusingkap dulu. Wajahku yang pucat pasi tak memiliki daya untuk berkomentar. Aku nyaris hilang dalam gigil yang sepi, sendiri. Seberkas cahaya tiba, sebuah siluet menepis wajahku jadi abu. Dengan berat kuangkat wajah, kutatap lamat garis yang timbul di antara pancaran sinar yang hangat. Kemudian aku hilang kesadaran. Dalam ketidaksadaranku, hatiku meletup-letup menunjukmu. Ya, itu kamu. Segaris wajah yang mengkristal pada stupa yang telah ditanggalkan. Bukit-bukit yang sunyi-sepi-sendiri riuh akan sentuhan kehangatan pada dermis. Aku dengar kau bisikkan.

“ini tak lagi hutan. Akan ada jalanan panjang yang membentang dan manusia ditugaskan untuk mengalami bukan hanya merasakan”

 Semilir angin kembali menimpa ekstremitas, tapi bukan gigil. Udara tak lagi dingin seperti yang lalu-lalu. Aku tak beku, jemari di ujung kakiku mulai berwarna sedikit merah muda. Aliran darah mulai mengisi vena yang terbuka dan aorta berdegup tanpa luka. Hanya sedikit rasa sakit dan secercah harapan, sebuah kedamaian yang besar.

 “apakah kau siap?”

 Suara itu kembali. Aku yang masih di pembaringan belum tersadar benar. Namun perlahan, pasti, ketika warnaku berganti tak lagi pasi dan aliran darah sudah sampai pada nadi, terus menjalar memenuhi otak, syarafku bereaksi. Mataku sedikit terbuka dan hendak terbelalak seandainya bisa. Kulihat pohon-pohon jadi beton bertingkat, warna-warni. Jalanan gaduh dan klakson bersahutan memainkan akustik tiap pagi dan petang, asap-asap ikut menyemarakkan. Aku tergugu, sesungguhnya aku ragu. Terlalu lama hidup ‘merasakan’ membuatku jeri untuk ‘mengalami’. Mengalami adalah mimpi yang sudah kumasukkan ke dalam peti dan kukubur dalam. Seolah tak ada lagi hal-hal yang perlu dijalani.

 “jadi bagaimana?”

 Aku sesak beralih dimensi, seharusnya. Tapi aku seperti telah ‘menjalani’. Bersamamu, bumi tak semenakutkan itu. Dan kedamaian menelusup diam-diam.

Ya Tuhan, aku jatuh cinta. Jadi seperti ini tho rasanya cinta? Alhamdulillah. Aku tidak tahu apakah cintaku akan jadi baik dan membaikkan atau sebaliknya. Aku tidak tahu apakah ini akan merugikan atau bahkan menyakitimu. Aku tidak tahu apakah kamu akan malu dengan rasa cintaku. Aku tidak tahu. Sungguh aku tidak tahu. Dan dalam keadaan seperti itu aku cemas, seharusnya. Biasanya seperti itu. Namun kedamaian menelusup diam-diam. Kini dadaku penuh akan damai.

Aku rasa pertemuan kita saling mengobati.

 ***

“nak, kelak kau akan terlahir dari sepasang B. Jika tak terlahir sebagai B, kau akan terlahir sebagai O. Meski tak sesempurna A, dan tak seunik AB kau dikelilingi oleh orang-orang yang percaya bahwa tugas manusia hidup adalah, tetap hidup. Ibumu adalah seorang penulis dan Bapakmu vokalis. Jadi baiknya kau hidup dengan merdeka. Bersinergilah dengan alam, hidupilah perjalanan, nyanyikan suaramu dengan lantang. Karena orangtuamu adalah perpaduan dua dimensi yang barangkali sulit dimengerti. Dan kau mampu pahami”

 

Bumi, 2017

  • view 38