Menuju Masa Lalu

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 April 2017
Menuju Masa Lalu

 

Sebuah Surat

Je, tahun 2016 Tere Liye mengorbitkan Tentang Kamu, kau sudah baca? Saat itu aku merasa akan habis di seperempat abad. Semua saudara dan teman-temanku sudah menikah, aku terus dikelilingi dengan pertanyaan ‘kapan?’ Sebab, jangankan menikah, bahkan kenampakan dengan lawan pun enggan.

Buku itu menceritakan tentang Sri Ningsih dan jalan hidupnya. Ia yang baru menemukan jodohnya di usia 37 ketika di London, berjodoh dengan pemuda asal Turki yang berusia 39 tahun, Hakan. Berumah tangga selama 13 tahun tanpa menghasilkan keturunan karena berbeda rhesus. Genetik kadang bisa sekejam itu, Je. Akhirnya Hakan meninggal dan Sri kembali sendiri hingga senja menjemput ajalnya. Apakah mereka jodoh?

Je, beberapa waktu lalu aku juga membaca Jodoh, Fahd Pahdepie penulisnya. Ia bercerita tentang cinta masa kecil yang terbawa hingga dewasa. Sena yang tergila-gila pada Keara sejak masih belia. Akhirnya Keara meninggal setelah lama mengidap Spinal Muscular Atrophy, kemudian Sena melanjutkan hidup dengan wanita lain, Laila. Ah, hidup memang harus terus berjalan. Jika seperti itu, mana yang dikatakan jodoh? Sena dengan Keara? Atau Sena dengan istrinya, Laila?

Tentang jodoh. Jika kau perhatikan Je, Keara menuliskan pendapatnya tentang jodoh pada sinopsis Novel Sena sebelum dikirim ke penerbit, bahwa orang yang kau sangka “belahan jiwa” sering kali hanya semacam perantara, atau bahkan pengalih perhatian dari belahan jiwamu yang sesungguhnya.

Meski sedikit berbeda, Sena juga mengutarakan tentang ‘jodoh’nya. Kita berjodoh meski kita tak menjadi sepasang kekasih yang menikah, tinggal bersama, memiliki anak-anak dan hidup bahagia hingga maut memisahkan kita. Kita berjodoh meski impian dan rencana-rencana kita tak tercapai. Kita berjodoh karena bagaimanapun Tuhan telah mengizinkan kita bertemu, menuliskan kisah kita berdua dan berbahagia di salah satu persimpangan kehidupan yang pernah kita alami bersama.

Je, jika setiap orang memiliki persepsinya sendiri tentang jodoh barang kali jodoh hanyalah sebuah rasa, perasaan berjodoh. Maka tak perlu risau jika jatuh cinta, karena cinta saja tak jaminan jodoh.

Je, aku baru saja menuntaskan Sunset Bersama Rosie ketika menulis ini. Buku itu berkisah tentang Tegar yang berteman dengan Rosie sejak dalam kandungan. Mereka sahabat yang sudah seperti saudara, dekat sejak kecil. Tegar si pecinta memilih memendam perasaannya, meski telah ia sadari bahwa ia mencintai Rosie sejak lama, sejak masih ingusan, saat berlarian kala hujan, ketika rambutnya masih kepang dua. Ia memilih bungkam ketika teman yang baru diperkenalkan, Nathan bergerak cepat. Melesatkan busur asmara saat usia perkenalannya baru dua bulan. Bayangkan Je, 20 tahun vs 2 bulan? Gila benar pola percintaan jaman sekarang. Tapi Je, sebenarnya sejak dulu, ketika jaman purba hingga bumi mau punah seperti itulah jika berurusan tentang perasaan, njlimet.

Je, malam itu ketika mendaki Rinjani, Tegar sudah mempersiapkan skenario untuk menembak Rosie. Sengaja mengajak Nathan agar ketika dia mendapat jawaban yang tak sesuai harapan ia bisa mengandalkan Nathan untuk mengambil alih keadaan. Namun kenyataannya, Nathan lebih cepat mengambil alih keadaan bahkan sebelum Tegar memulai ritualnya. Dan Tegar memilih pergi, jauh, menghilang. Tanpa mengijinkan Rosie mengetahui perasaannya.

Je, kenapa Tegar memendam perasaannya selama 20 tahun? Dan kenapa aku baru menemukan buku ini sekarang, ketika 20 tahun sudah aku memendam perasaanku. Padahal buku ini sudah terbit sejak 2011. Aku percaya setiap cerita memiliki pembacanya, setiap kisah berjalan seirama dengan garis situasinya. Itulah jodoh, mudah pada waktunya. Jadi, aku kumpulkan niat, bulatkan tekad, saat ini juga akan aku sampaikan semua kegelisahanku terhadapmu. Tentang dirimu yang sering tergambar dalam mimpiku, tentang perjalanan kita, tentang kita pada akhirnya. Aku selalu membayangkan hal-hal semacam itu, apakah kamu tahu?

Je, aku tak akan membayangkan apa reaksimu, atau lebih tepatnya mengabaikan. Aku hanya perlu menghadapi, kemudian menerima kenyataan. Kisah ini tak boleh berlarut-larut dan menyakiti banyak pihak. Kutelusuri kontakmu, kunyatakan perasaanku. Kau buru-buru menutup pintu, mengusirku dari hadapanmu. Seketika aku patah, bukan karena penolakan tapi mendapatimu yang sama sepertiku, mudah sekali menutup pintu. Aku hanya tersenyum ke arahmu, senyum kecut. Lalu aku dipertemukan dengan Kisah Sang Penandai, garapan Tere Liye 6 tahun lalu. Seorang putri Nayla yang saling jatuh cinta dengan pemuda yatim piatu yang miskin papa, Jim. Jim yang pengecut dan Nayla yang terus meyakinkan cintanya. Perjalanan mereka penuh badai hingga menuju Tanah Harapan, disanalah mereka dipertemukan. Apakah mereka jodoh, Je? Berjodoh sejak awal.

Je, sebenarnya yang ingin aku sampaikan ketika bilang ‘suka kamu’ adalah kenyataan bahwa ada lebih dari 7 milyar penduduk di dunia. Dan diantara 7 milyar lebih penduduk dunia itu ada spesies dari klan bumi yang juga menanti kebahagiaanmu, diantaranya aku. Bahagialah, Je. Aku sayang kamu..

 

 

 

 

  • view 68