Ketika Chat Tak Dibalas

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Maret 2017
Ketika Chat Tak Dibalas

“hoah..hari ini melelahkan. Aku tidur ya. Selamat malam” sebuah pesan dilayangkan dari bbm.

Keesokannya, hanya terpampang tanda R. Tak ada balasan. Ya sudahlah. Bagaimana lagi? Inilah beda. Dalam hal-hal seperti ini, pantaskah marah? Perlukah? Kesadaran saya bahwa tidak mudah memasukkan saya kedalam memori orang-orang seringkali membuat saya undur diri. Dan itu mudah, mudah sekali menendang saya dari pandangan orang lain. Tidak perlu 2 orang, tidak perlu persetujuan, tidak menunggu nanti. Saat ini, ketika saya memutuskan pergi maka segalanya berhenti. Mengapa? Ya, karena memang saya adalah sebuah spesies yang tak berkesan. Jadi, sulit memasukkan saya pada memori orang lain. Saya sadar itu.

Adapun saya terus mengontak adalah sekedar memberitahukan kalau saya masih ada, hidup, dan tinggal di bumi. Sepenuhnya ketika saya chat, itu mengabarkan tentang keadaan saya yang baik-baik saja. Sambil, jika beruntung menancapkan mindset ke pikiran mereka bahwa saya “mencari”. Mengabari adalah memberitahu dengan harapan mendapat pemberitahuan kembali. Mengabari adalah hubungan timbal balik. Tapi pada perspektif saya yang sangat tahu diri ini, mengabari adalah tak perlu mencemaskan saya, semoga kamu baik saja. “Semoga” adalah kata harapan, dan tidak semua harapan jadi kenyataan ‘kan? Jadi jika sebuah chat tak berbalas, biar saja ia jadi usang di tumpukan chat-chat lain dan tertindih. Meski aku tidak baik-baik, tidak akan ada yang peduli. Sudahlah!! Siapa yang peduli? Toh chatku juga mangkrak disana tanpa diapa-apakan.

Tiga hari kemudian..

“maaf ya, baru balas. Aku kehabisan kuota waktu itu dan pulsaku juga habis. Mau isi males benget, ini baru ngisi”

“terimakasih ya”

“terimakasih?”

“terimakasih telah minta maaf dan menjelaskan alasannya. Kalau tidak aku akan berpikir sekenanya, semauku sendiri. Dan bisa jadi aku sangat membencimu”

  • view 396