Sendiri

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Maret 2017
Sendiri

Sendiri. Kau pernah mendengar itu? Atau mengalaminya? Seorang teman pernah begitu cemas ketika aku mengungkapkan sendirian di hadapannya. Dia bilang itu hanya perasaanku, karena kenyataannya banyak sekali teman yang ada di sekelilingku. Lalu dia mulai menguraikan perjalanan pendidikan ketika masih main-main di sekitar rumah, memasuki TK, SD hingga sekarang.

 

Jika demikian yang dimaksud teman, tentu saja temanku sangat banyak. Ada 12 teman sekelas saat SD, dan jika kau ingin melihat lebih luas kalikan saja 6, itu jumlah teman satu sekolahan. Ada sekitar 45 teman SMP dikalikan 7 untuk satu angkatan dan kalikan 3 untuk jumlah satu sekolahan. Belum lagi SMA, Pendidikan lanjutan, teman-teman dari luar. Jika itu adalah teman, kita sudah sampai pada tahap kelimpahan.

 

Dia terus menguraikan teman-teman yang tinggal dan bertahan, yang ada dalam suka dan duka, yang disebut-sebut sebagai sahabat (katanya) atau saudara, sama saja. Dia terus memberikan pemaparan, penjelasan agar aku tak merasa sendirian. Aku tersenyum ke arah itu, wajah yang buru-buru menangkis kesendirianku. Ku tepuk pundaknya…

 

“aku hanya sendiri” bisikku. Tak lupa kusisipkan sebuah senyum manis, dia menghela nafas.

 

Aku sendiri. Tidur, makan, melangkah, jalan, nonton, baca, bertugas, berlari, sembunyi, semuanya aku lakukan sendiri, tidak ada seseorang di sisiku. Ini jelas, terasa dan bisa dibuktikan. Aku tidak sedang berpersonifikasi atau memainkan kalimat-kalimat konotasi. Aku berkata secara sadar, menggunakan denotasi utuh, sen-di-ri. Hanya itu. Apanya yang berlebihan? Apa yang kau cemaskan? Aku? Kesendirian? Atau….

 

Tenanglah, aku sudah terbiasa. Bahkan perlu adaptasi jika ada seseorang yang beriringan. Apakah sendirian begitu menakutkan? Aku mulai memperhatikan, mungkin saja demikian, begal, pelecehan, kecemasan, perasaan tak diharapkan, berantakan, depresi hingga memilih mengakhiri kehidupan hanya karena sebuah penolakan. Banyak hal yang mungkin bisa terjadi, aku yakin virus sendirian bisa membius manusia dan menanggalkan ingatannya. Jangankan untuk melakukan perhitungan statistik, bahkan untuk membedakan sampah organik dan anorganik mereka tak mumpuni, membedakan rumah dan TPA, taman dan jalan, bahkan dia tak tahu mana kawan dan pacar orang. Eh!!

 

Apakah itu yang kau takutkan, teman? Kau takut aku terjangkit virus itu sehingga terus berusaha menyembuhkanku dengan membayangkan, mengabaikan kenyataan dan menjadikannya sebagai ‘perasaan’.

 

Aku tersenyum.

 

Apa yang aku lakukan saat sendirian? Hem….aku juga melihat itu, efek yang ditimbulkan dari virus yang kau simpulkan dari…entahlah, aku tak yakin orang yang terlalu terlibat dengan orang lain akan mampu melihat itu semua. Kau tahu, ‘terlalu’ hanya membuat sesuatu semakin sesak dan menghalangi inisiatif takdir untuk bebas bergerak. Akan ada banyak hal yang bisa diprediksi dengan keterlibatan ‘terlalu’, ada banyak yang terlewat. Seperti kamu, dalam tumpukan teman-teman itu.

 

Aku tersenyum. Turut menghempas di sebelahmu…

  • view 73