Patah

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2017
Patah

Pukul 08.00

UGD masih sibuk. Ambulan silih berganti menurunkan pasien darurat. Terlihat Raisa yang turun bergegas.

“dia korban keroyokan Fi, tetanggaku” ucapnya saat mengalihkan pasien pada Shofi, dokter UGD yang ada di Rumah Sakit itu.

Pasca rawat luka, memar di bagian wajah terlihat jelas, tangan penuh goresan dan tiga jahitan di pelipis sebelah kiri.

“setelah  dari UGD tolong arahkan ke psikiatri. Aku ambil alih Fi”

“siap!! tidak ada luka yang serius. Setelah ini sudah bisa dipindah Sa”

Dokter Shofi tampak memberikan komando pada perawat. Raisa melirik dua dokter magang yang sedari tadi mengikutinya.

“namanya Leya, 25 tahun. Dari keterangan yang didapat ia baru saja mengalami kecelakaan, sampai di rumah disiksa dan dipukul hingga memar karena yang ia pakai motor abangnya”

 

“Hei Leya!! Bangun. Ayo bangun” bentak suara yang tiba-tiba menerobos bangsal Leya. Ia masih menutup mata.

“dia cuma pura-pura dok, pulangkan saja. Dia memang selalu ceroboh. Aku rasa keluarga kami telah mendapat kutukan karena melahirkan gadis seperti dia” pria itu terus ngotot

Mengetahui ada keributan dokter Shofi mendekat. Ia menjelaskan kondisi pasiennya. Raisa beralih  menuju ruangan diiriingi dua dokter magang.

 

“mengapa tidak dipulangkan saja dok? Tak ada luka serius, dan kondisinya baik-baik saja”

Raisa terhenti, mengarahkan wajahnya pada sumber suara. Ia lalu melirik sebelahnya.

“hei kau? Menurutmu mengapa Leya tak dipulangkan?”

“iya, saya juga sedang berpikir. Mengapa dia harus dirujuk ke psikiatri? Apa yang akan diterapi? Apakah ceroboh sesuatu yang perlu dibawa ke poli jiwa?”

“apa yang akan kalian lakukan saat pertama kali menerima pasien?”

“anamnesa” ragu-ragu menjawab

“kamu sudah lihat tadi bagaimana keluarganya memperlakukan Leya?”

“mereka sangat tempramen, aku rasa mereka yang bermasalah”

“fokus kita adalah sebisa mungkin menghindarkan si pasien dari kematian. Sekarang hanya memar, bisa jadi besok kepalanya yang pecah karena terus dipukul. Keledai saja diijinkan salah dua kali. Bahkan kucing akan lari dan anjing akan gigit balik jika disakiti. Tapi apa yang Leya lakukan? Ia diam dan menerima semua pukulan dari keluarganya. Mungkinkah jika dia depresi?”

“mungkin dok” menunduk

“perlukah dia dirujuk ke pskiatri?”

“perlu dok” jawab satunya

“fokus!! Fokus!!” Raisa memukul lengan kedua dokter magang yang ada di hadapannya. “lengkapi status pasien”

“baik dok” Mereka bergegas.

***

Pukul 10.00

Seorang perawat terlihat mendorong kursi roda masuk ke ruangan Raisa. Ia mengarahkannya di depan meja.

“saya tidak apa-apa dok” ucap Leya getir

“saya mengerti mereka. Pasti sulit bagi mereka menerima saya, seseorang yang terlahir dari hubungan yang tak jelas. Satu-satunya keluarga saya adalah Ibu dan dia sudah pergi selamanya. Saya tidak berhak berada di kehidupan mereka. Sungguh tak apa-apa”

Raisa mengarahkan kursi Leya menghadap cermin yang terpampang besar di dinding ruangannya.

“ada seorang wanita cantik yang rela dipukul karena dia mengerti” Raisa membuka suara.

“Wajahnya memar, tubuhnya penuh luka. Kesalahannya adalah karena ia terlahir dari seorang wanita, istri kedua. Sekarang telah meninggal dan mewariskan Ayah serta saudara tiri. Karena ia berasal dari Ayah yang berbeda wajar jika ia mendapat perlakuan kasar, cemoohan, siksaan. Hanya karena dia berbeda dengan saudara tirinya, ia bisa mengerti bagaimana perasaan saudaranya” lanjut Raisa.

“Tapi Leya, apakah ada orang yang bisa memilih dari rahim mana ia dilahirkan? Berasal dari keturunan siapa? Seseorang bisa memilih teman, ia bisa memilah siapa yang akan didekati, tapi tak bisa memilih orangtuanya sendiri. Yang perlu kamu mengerti sebelum saudaramu dan keluargamu adalah, dirimu sendiri. Larilah……!!”

Mata Leya meleleh. Ia tak tahan melihat pantulan wajahnya yang sembab.

“kesalahan apa yang sudah aku perbuat?”  batinnya meratap.

 

Pukul 12.00

Raisa membereskan meja dan bergegas. Setelah 10 menit perjalanan ia sampai di tempat tujuan. Seorang pria paruh baya duduk mantap di kursi dekat jendela, menikmati kendaraan yang lalu lalang. Raisa mendekat.

“Pey?”

Pria di hadapannya menoleh.

 

Namanya Fheno, panggilannya Pey. Dia adalah teman masa kecil, cinta masa kecil, tetangga waktu kecil dan hubungan kami adalah kekal. Karena meskipun masing-masing takdir melemparkan ke tempat yang jauh, nasib selalu kembali mempertemukan kami. Kami seperti saudara, dan bukankah itu abadi?

 

Raisa segera duduk, secangkir capucino hangat sudah tersaji di meja. Ia mengangkat ganggang dan langsung menikmati aromanya hendak minum.

“Ra, kemarin ada yang nembak aku”

Muncrat, capucino di mulut batal tertelan. “apa?!! Kan...aku bilang juga apa. Jika kamu mau membuka mata dan melihat sekeliling kamu bakal nemu orang-orang yang juga menginginkanmu”

“lalu Pey?” Raisa melanjutkan

“aku rasa kami tak sepadan”

“tolak saja Pey. Kamu tidak terlihat seperti orang yang akan memperjuangkannya, lagipula dia wanita. Kalau harus memilih wanita lebih memilih orang yang mencintainya daripada orang yang dicintainya. Kata Tere Liye sih gitu”

“kenapa orang-orang mudah sekali mengungkapkan perasaannya, Ra?”

Raisa tersedak, kali ini capucino berhasil masuk ke mulut namun melenceng melewati kerongkongan bukan tenggorokan. Ia segera meletakkan cangkir.

“sialan!! Kamu nyindir aku ya?”

“hha..bukan bermaksud gitu Ra. Tapi, kenapa kamu dulu juga suka sama aku?”

“sini lihat tanganmu”

Fheno menyodorkan telapak tangan ke muka Raisa.

“genggam” Raisa memerintah. Dari pergelangan tangan Fheno, jemari Raisa mengambil jarak 10 cm, lalu meremasnya, kemudian membalikkan. Kini punggung tangan Fheno yang ada di hadapannya.

“ini, yang bikin aku suka sama kamu Pey”

Beberapa vena tampak menjalar memenuhi punggung tangan Fheno.

“Sudah bisa dipastikan jika kamu pekerja keras, atau memang pekerjaanmu yang keras”

“bukan karena ganteng ya?”

Raisa menatap Fheno, ia kemudian menyentil tangan Fheno sembari melepas genggamannya

“aww…”jeritnya

 

”kau ingat waktu dulu aku menyatakan perasaanku?”

“kenapa?”

“entengnya kamu bilang sudah tahu. Sudah tahu? Sejak kapan kamu tahu? Aku menghabiskan seumur hidupku untuk mencari tahu. Aku menunggu Bila memberikan buku, setelah Fahd Pahdepie menyelesaikan Jodoh-nya dan Galih Pandu mengijinkan antologi puisi perdanyanya terbit. Setelah ‘Jodoh’ selesai tiba-tiba bayangan itu punya nama, Fheno. Aku harus bagaimana jika hanya aku saja? Galih menguatkan dengan cerita daun pintunya, yang siap patah setiap ada tamu” Raisa menghela nafas.

“saat kita bertemu setelah sekian lama. Ada hal samar yang mulai tampak, janjiku terhadapmu terkuak. Aku bahkan mengatur jadwal konsultasi dengan seniorku. Berkat kau Pey, aku jadi tahu jika mengalami under value yang aku bawa dari persepsiku di masa lalu, perasaan dibuang. Aku rentan dengan hal yang berhubungan dengan perpisahan, kehilangan, penolakan, pengabaian. Aku jadi agak sensitif dengan pertemuan dan hal-hal baru di sekitarku. Bukankah kau juga begitu? Kita terlalu sama”

“aku? Enak aja!!”

 

“Aku pikir rasa cintaku padamu seperti cintaku pada Keanu Reeves atau Mel Gibson, yang ga perlu konfirmasi. Tapi ternyata? Ah!!” Raisa mendesis.

“Jika dulu aku tahu secinta itu padamu pasti sudah sejak lama aku mengungkapkannya. Mungkin kau akan sinis, kesal, marah atau paling parah mengabaikan. Mungkin aku juga bakal patah hati, coret-coret tembok, garuk-garuk aspal, koprol Surabaya-Jogja atau nangis dua hari dua malam. Tapi selesai” lanjut Raisa.

“hha…emang kayak gitu ya Ra?”

“aku selalu menghadapi kenyataan secara betina Pey. Apa ada pilihan lain? Aku hanya perlu mengalaminya saja kan? Cuma, aku ga nyangka kalau patah hati bisa sesakit itu”

 

Raisa menatap pria di hadapannya, “kamu sakit, Pey” ia menceletuk

“Bagaimana bisa anak usia dini menghadapi trauma tanpa meninggalkan bekas luka?” lanjutnya.

“ngomong apa sih?”

“Aku sadar jika aku terlalu drama lalu aku mendekatimu karena kupikir darimu aku bisa belajar kenyataan. Tapi nyatanya kamu lebih drama, mimpimu adalah membahagiakan orang lain, memenuhi kebutuhan mereka padahal kamu bukan doraemon, menjaga kedamaian padahal juga bukan spider man, kamu terus memikirkan dan mengusahakan yang terbaik bagi orang lain. Kita terlalu sama”

“itu kompensasi Ra?”

“atas apa? Kehadiranmu? Kelahiranmu ditengah-tengah mereka? Merasa bersalah, suatuself-contemp, perasaan jijik terhadap diri sendiri. Seolah-olah darimu segala kesalahan bermuara dan membayangkan andai kau tak ada. Ah!! Kita terlalu sama”

“Ra…”

“Pey, seseorang harus bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri” lanjut Raisa.

 

“aku pergi untuk melindunginya dari hal-hal yang tak perlu dipikirkan”

“ah bulsyit!! Bagaimana bisa seseorang menjaga dengan meninggalkan? Itu sama sekali ga keren. Keren itu, ayo hadapi bersama”

“kamu ga tahu sih Ra”

“aku memang belum tahu, tapi bersamamu hanya keyakinan yang aku miliki. Ayo, hadapi bersama” Raisa menjorokkan muka ke hadapan Fheno dan menekan intonasi, sedikit berbisik.

“bener-bener deh ni bocah”

“keren kan Pey?” ia kembali menormalkan duduknya, “Seharusnya seperti itu yang menginspirasi bukannya saling pergi. Hadapi. Pengabaian tidak akan menyelesaikan masalah"

“dia cinta mati sama aku Ra”

“masak? Aku juga lho..”

“hasssh…..” Fheno megoyak poni Raisa

“bagaimana jika dia nekad bunuh diri?”

“hha…mau kamu apakan orang yang sudah mati? Kuburkan dengan layak. Itu yang bisa kita lakukan kan? Kamu tidak bisa menjamin kebahagiaan orang lain Pey, bahkan jika itu orangtua, kerabat, saudara, sedarah, setali pusar atau mungkin orang yang sangat kau cintai. Kamu tidak bertanggungjawab atas kebahagiaannya. Kamu tidak perlu terlalu keras untuk mengerti, tidak apa-apa jika tidak mengerti, terima saja. Kamu hanya perlu memastikan keberadaanmu, selalu ada untuknya. Pey,” Raisa membenarkan duduknya, dadanya tegap. Pandangannya matap dengan dua tangan yang saling menelangkup disela jemari tertata di atas meja.

“pertama yang perlu kamu mengerti sebelum orang lain adalah dirimu sendiri. Jika sesuatu terasa penuh dan tak tertangani pergilah ke psikolog atau psikiatri. Tuhan selalu menurunkan perantara untuk menyampaikan maksudNya. Jangan jadi orang yang selalu baik-baik saja, itu terlalu sombong”

 

“aku harus bagaimana Ra?”

“kamu suka ga sama dia?”

“aku merasa ga pantas Ra”

“kamu cinta ga?”

“aku masih berantakan, terlalu beresiko buat dia”

“bukan dia Pey, aku tanya kamu. Kamu bisa ga sama dia? Seorang pria harus jatuh cinta Pey, cinta akan membuatmu hidup. Dan orang yang hidup mampu berjuang. Wanita, segan sekali dengan perjuangan”

 

“dia terlalu hebat, dewasa, dia punya semuanya. Terlalu baik buat aku”

“nah itu..itu..jangan katakan itu padanya. Kau tidak tahu apa yang sudah dikorbankan untuk bisa sampai kesana. Jangan mengoyak pertahanannya. Jika akhirnya kau pergi, pergilah dengan tenang”

“maksudnya?”

“hebat, strong, apalah-apalah tadi adalah pertahanan dirinya. Jika kau mengatakan itu lalu pergi itu sama saja dengan membunuhnya”

“apa sih Ra”

“secara tidak langung kamu mengirim pemikiran bahwa yang dia lakukan selama ini hanya akan membuat orang lain pergi. Jika akhirnya kamu pergi, minta maaflah kemudian undur diri. Hanya itu”

“?????” Fheno mengernyit

“ya, bilang kalau kamu ga bisa. Lalu minta maaf, lalu undur diri-pergi. Udah. Minta maaf akan membuatnya merasa dihargai, undur diri akan menjadikannya tahu diri”

“jika dia tidak terima, Ra?”

“hemm…kelak ketika kau jatuh cinta Pey. Memikirkan apakah dia? Apakah lingkungannya? Apakah orang-orang? jangan dulu pikirkan itu. Tak usah terlalu cemas. Wanita paling tahu bagaimana melampiaskan amarahnya. Ada yang lebih penting, dirimu. Ketika kau jatuh cinta Pey, pastikan. Apakah aku akan bahagia jika itu dia? Apakah aku siap menghadapi apapun bersamanya? Apakah ada alasan yang mungkin membuatku pergi? Aku. Fokuskan pertanyaan itu pada dirimu. Kau bukan satu-satunya spesies yang bermasalah, dan di dunia ini tak ada orang yang tak bermasalah. Jatuh cintalah…”

 

“bagaimana denganmu Ra? Jangan-jangan masih ada masa lalu yang belum selesai”

“enak aja!! Aku udah tuntas, emang masa depannya aja yang belum datang. Belum ada orang yang menggebrak mejaku lalu berkata, ehm.. Raisa!! ayo hadapi bersama

“hha…kamu beneran nunggu yang kayak gitu?”

“iyalah, yang kayak gitu bakal susah diusir pergi. Hha..”

“hha… Gila”

Tawa mereka menguap, menyatu di udara. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 14.00.

 

*masa depan

 

 

 

Kepada Jodoh-nya Fahd Pahdepie, kepada quote-nya Palestina Bila, kepada Rel Kereta dan Bangku Tunggu yang Memucat-nya Galih Pandu Adi. Terimakasih.

 

Kau, adalah satu-satunya orang yang entah bagaimana aku tidak masalah memberikan tulisan tanganku padamu. Aku ingat surat pertamaku adalah tentang permintaan maaf yang aku tujukan padamu semasa SMA. Aku lupa detailnya tapi aku ingat sekali kenapa aku mengirim tulisan itu.

 

Aku, adalah orang yang entah mengapa begitu mempertimbangkan perasaanmu. Hal yang bisa dilakukan seseorang untuk orang lain adalah menghibur. Tapi entah bagaimana aku ‘sok’ menjaga perasaan itu. Kecemasan kerap timbul seolah-olah aku telah melakukan hal yang diluar dugaan hingga melukaimu.

 

*masa lalu

  • view 109