Rumah Anak

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 November 2016
Rumah Anak

Anak itu berdiri, mengamati papan yang tertancap dengan jargon yang terbaca sebelumnya. Kakinya tak beralas, mengenakan kaos oblong lusuh dengan setelan celana kedodoran yang bawahnya dilipat hingga mata kaki. Wajahnya tampak serius memperhatikan tulisan yang ada di hadapannya. Setelah 10 menit ia mulai melangkah, menjejak halaman menelusuri sepanjang lorong bangunan putih dengan ruang berjajar yang sudah sepi. Kakinya yang dekil membentuk jejak di lantai putih, mebekas langkah-langkah tanpa disadari.  Ia terhenti di sebuah mading warna-warni, berisi tentang 10 hak anak.

  1. Hak untuk BERMAIN 
  2. Hak untuk mendapatkan PENDIDIKAN 
  3. Hak untuk mendapatkan PERLINDUNGAN 
  4. Hak untuk mendapatkan NAMA (identitas) 
  5. Hak untuk mendapatkan status KEBANGSAAN
  6. Hak untuk mendapatkan MAKANAN
  7. Hak untuk mendapatkan akses KESEHATAN
  8. Hak untuk mendapatkan REKREASI
  9. Hak untuk mendapatkan KESAMAAN
  10. Hak untuk memiliki PERAN dalam PEMBANGUNAN 

   Mengeja pelan, dari nomor satu hingga sekian. Wajahnya kecut menuntut, tak mengerti yang dimaksud. Belum selesai membaca petir tiba-tibar menyambar, ia tersentak. Bukan hanya langit, perutnya bergemuruh mengingat tentang sarapan terakhir yang didapatnya kemarin. Berbalik mengabaikan mading, perhatiannya tertuju pada langit yang mulai gelap. Senyumnya mengembang, ia lebih tertarik dengan hujan daripada hak yang tidak ia dapatkan. Matanya berbinar menyambut hujan yang makin lebat. Kakinya maju selangkah, di tepi teras kelas, tangannya menengadah. Ia arahkan air langit itu kedalm mulutnya.

***

Tangan mungil itu meraih tangan ibu, menggenggam erat seperti takkan lagi bertemu.

“Bu, kau tahu apa hakku?”

“hak anak?”

Bocah itu mengangguk. Ibu mulai mengeja dari hak pertama hingga ke sepuluh. Si anak mengernyit, Ibu berhenti. “ibu salah?”

“hak anak cuma satu”

 “apa?”

“memiliki Ibu”

Ibu mengernyit.

“aku baru saja bertemu seorang anak, wajahnya mirip sepertiku. Bedanya aku lebih bersih”

Ibu tersenyum, menyibak rambut anaknya.

“Bu, apakah setiap anak memiliki ibu?”

Si Ibu meraih bocah, memeluknya erat seolah tak kan ada lagi kesempatan yang akan didapat.

“setiap anak pasti punya ibu. jangan khawatirkan itu!!” ia menjelaskan

Hujan mulai reda, petir kedua menyambar tak kalah kerasnya. Bocah itu tersentak, terbangun dengan halaman hijau yang basah. Perutnya masih keroncongan, persis seperti bangunan yang ia sandari sekarang. Kosong dan sepi.

“Aku berimpi”

 

 

  • view 171