Antro

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Lainnya
dipublikasikan 04 September 2016
Antro

Akhirnya kita dipertemukan atas dasar kemanusiaan.

Kau adalah Antro. Pertemuan pertama kita adalah Jl.Semarang. Saat itu aku sedang memilah buku, kau sibuk membaca di gundukan kertas berjajar. Aku penasaran, mondar-mandir menarik perhatian. Kau makin fokus. Aku mendekat, duduk tepat di depan sampulmu. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karya Puthut EA. Tiba-tiba kau mengakhiri bacaanmu, aku buru-buru memperbaiki duduk meraih satu buku dan segera membuka, halaman mana saja. Kau meninggalkan buku itu di sebelahku, sejak saat itu kita terus bertemu.

Aku melihatmu. Di panggung memetik gitar mengiringi musikalisasi puisi Galih Pandu Adi yang dibawakan Latree Manohara, juga kau ada pada akustik Air Mata Hujan-nya Indiana Senja. Pernah aku melihat gambarmu di pigura yang dibawa Happy Salma saat Monolog Inggit. Kau juga hadir di Rembang, saat mas Amien Prop melakukan pementasan. Kau duduk tepat di sebelahku, hingga teater usai aku hanya tahu kalau ada kamu. Tak ada lagi fokus untuk mas Amien. Apa kau ingat, pernah memberikan kembang pada Palestina Bila saat manggung di Unirow?

Ketika aku turun di Alun-alun Tuban, saat menelusuri Boom kau sudah ada di ujung, menghirup laut.

karena laut tak pernah takluk, lautlah aku” penggalan Toto Sudarto Bachtiar terucap di akhir ritual sebelum matamu terbuka, lalu pergi. Hingga saat ini aku hanya menyaksikan dari kejauhan. Meski samar, kau selalu datang. Seolah-olah tak kau ijinkan aku sendirian.

Bagaimana caranya aku mengenalmu? Satu-satunya hal yang aku rasakan, kau seperti bayangan. Refleksi dari doa-doa yang tersamarkan. Doa? Samar? Aku tarik sebuah garis yang membawaku kembali. Pada puisi, monolog, pameran, teater dan segala pagelaran. Kau tidaklah samar, akulah yang sendirian. Bagaimana caranya aku mengembalikanmu?

Aku kembali pada Jl.Semarang. Persis seperti dugaan kau duduk membawa sebuah buku di tangan. Tidak membaca seperti biasa, kau menulis. Sekarang aku akan pastikan, kau yang samar atau aku yang sendirian. Ku tepuk pundak sebelah kanan.

“hai” sapamu ramah

“aku Antro dari Yunani, anthropo yang berarti manusia. Jadi, aku bertugas pada kemanusiaan. Kau manusia, kan?” kau memperkenalkan

“Antro? Aku Ielsa”

“Ielsa?” ia tersenyum, menyerahkan catatannya.

 

Ku cintaimu dengan menggenggam

Agar tegap kau berjalan

Dan bukan sendiri yang kau rasakan

Untuk itu aku tak mencintai dengan angan-angan

  • view 183