Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 15 Agustus 2016   09:29 WIB
Anti Aborsi

 “Bagaimana rasanya lolos dari aborsi?”

Aku, seperti halnya kamu. Berasal dari pertemuan ovum dan sperma. Aku rasa tidak ada yang pernahtahu rasanya jadi ovum. Ovum terbentuk di ovarium yang terletak di sebelah kanan-kiri berjarak kurang lebih 12cm dari rahim wanita. Hanya satu yang matur dan keluar tiap bulan, Tuhan mengaturnya sedemikian. Aku tidak terbentuk dari satu, perlu pendukung lain, sperma. Sperma terbentuk di testis yang terbungkus dalam skrotum. Dalam pengeluarannya pun diperlukan jalan yang cukup panjang dan berliku. Kedua bahan dasar itu diletakkan di tempat yang sangat rahasia. Lalu Tuhan menurunkan aturan lewat agama, norma, hukum, budaya.

Ketika ovum dan sperma bertemu menjadi aku, kabar itu disebar dengan tanda mual-muntah dan haid yang tak kunjung datang. Aku mendapat sambutan. Ada yang bahagia, ada yang seketika berduka. Aku adalah berkah, tapi bisa juga mengubah wanita baik-baik menjadi pembunuh. Heh!! Membunuh janinnya sendiri, aku. Aku tidak pernah tahu mengapa kehadiranku tidak diterima. Apa karena usianya yang terlalu muda? Terlalu tua? Jarak dengan kehamilan pertama yang terlampau jauh atau terlalu dekat? Terlalu banyak anak? Pernah gagal kehamilan atau bersalin dengan bantuan alat? Atau mungkin karena yang lain. Karena dia hamil diluar nikah? Tanpa suami? Tidak diinginkan suami? Karena lingkungan mentabukan? Atau hamil sebagai istri kedua? Lalu kenapa? Dimana salahnya? Bagian mana yang menunjukkan itu salahku? Bukankah mereka yang mempertemukan kami menjadi aku. Apa mereka lupa dulu mempertemukan kami dengan begitu bahagia, dengan tawa yang menyatu, namun setelah tahu terbentuk aku mereka berubah. Mungkin aku adalah akibat. Aku menjadi tersangka atas korban pembentukanku. Tak ada penerimaan. Bagaimana rasanya menjadi orang yang tak diharapkan kehadirannya?

Akhirnya akubenar-benar ada, menjadi zygot dan bertumbuh menjadi morula pada hari ketiga, trofoblast, blastocyst dan menempel pada dinding rahim di hari ke enam. Seiring berjalan waktu jantungku mulai nampak, organ-organku terbentuk sempurna. Tapi aku merasa aneh, suatu cairan masuk dan memicu kontraksi dinding rumahku, aku tercekik namun bertahan. Keesokannya aku merasa guncangan makin dahsyat dari luar, pijatan-pijatan itu membuatku berpikir apakah yang lain juga merasakan ini? Apakah mereka merasakan apa yang aku rasakan? Betapa kerasnya berjuang untuk hidup, tak ada perlindungan, tak ada kepercayaan. Sekuat tenaga aku (tetap) bertahan.

Trimester pertama kulampaui dengan aman, syukurlah. Tunggu!! Ada yang aneh. Ekstremitasku tak lagi tumbuh, jari-jariku tak utuh, sebagian tulangku ada yang berhenti tumbuh. Bagaimana? Apakah aku akan terlahir beda? Ah, mungkin semua yang terlahir sama juga, tak memiliki organ yang sempurna, dan inilah kesempurnaan sesungguhnya. Aku sama seperti janin-janin lainnya, aku pasti tumbuh sama seperti mereka. Lihat saja saat aku keluar nanti, akan aku tanyakan bagaimana mereka dulu bertahan? Apa yang sudah mereka korbankan untuk kehidupan mereka sekarang?

Aku semakin besar, usiaku sembilan bulan kandungan. Saatnya dilahirkan. Aku tak ingin keluar, aku tak ingin hidup dengan kehidupan yang telah dipilihkan. Ternyata aku berbeda, tidak semuanya mengalami nasib sama. Aku akan jadi binal, aku akan menjadi orang yang sangat misterius. Perasaanku bisa sangat drop atau fly dalam menghadapi cobaan. Jarang sekali aku merasakan ‘rasa’ secara wajar. Aku jarang bergaul. Aku adalah orang yang sangat sendirian. Aku hidup di kehidupanku sendiri, maka tak ada satu orang pun yang boleh tahu. Keberadaanku sama dengan tidak ada. Aku adalah orang yang tidak pernah diharapkan kehidupannya. Aku gila. Schizofrenia.

 

 

 

Karya : alivia sasa