Surat Cinta

alivia sasa
Karya alivia sasa Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Agustus 2016
Surat Cinta

#1

“jangan menulis!!” kau selalu protes

Aku tersenyum ke arahmu, lalu mengemasi lembaran-lembaran yang berserak di meja. Kau memang selalu datang tiba-tiba. Tiba-tiba? kedatanganmu bisa dipastikan setiap akhir pekan atau di hari libur nasional. Tiba di rumahku tepat pukul 08.15 untuk mampir minum setelah jogging dari pukul 06.00. Sudah hampir setahun kau tak pernah mangkir dari kegiatan ini.

“aku serius, jangan menulis lagi” kau terus menggodaku.

Aku kembali tersenyum, beranjak mengambil 1 botol air putih. Dengan sigap kau meraih lalu meneguknya, bibirmu menempel kepala botol, suara tegukanmu terdengar nyaring dan cucuran keringat yang mengalir di lehermu menambah kesempurnaan. Ini seperti sepaket pemandangan yang keindahannya melebihi karya Davinchi.

“apa?” dia memergoki. “aku seganteng artis korea ya?”

Aku mengangguk, “Seo In Guk” batinku.

“nanti malam aku jemput jam tujuh ya, aku mau membelikanmu buku baru”

Aku berbinar, kau pamit pulang

***

Namanya Zaki, A. Zaki. Tak jelas singkatan A dari namamu, bukan ahmad, abdul, ali, atau A apapun kau selalu mengatakan jika itu hanya huruf A dan dibarengi titik sesudahnya. Harapannya agar aku selalu berada di nomor satu, begitu kau menirukan penjelasan orangtuamu. Dan benar, meski dilanjutkan abjad paling akhir A.-mu selalu menjadikan kamu nomor satu kemudian aku mengekor tepat sesudah absenmu, Aleira Putri.Tapi karena Z cukup sulit diucapkan lidah desa orang-orang lebih sering memanggilmu dengan Jaki atau Jeki, aku sendiri lebih suka memanggil dengan inisial, J. Ada lagi yang lebih fatal, memanggilnya dengan Jeri. Jeri??

 

#2

J, aku ingin mengajakmu kembali pada masa TK, tahun ‘95. Waktu itu hari sabtu, pelajaran olahraga. Kita mengenakan seragam kaos warna putih dengan celana biru tua bergaris putih di bagian luarnya. Pelajaran diawali dengan membentuk dua barisan. Barisan pria di sebelah kanan dan wanita di kiri. Aku suka pelajaran olahraga, karena saat berbaris seperti itu kau selalu sejajar denganku. Kau berada tepat di sebelahku. Tidak seperti barisan upacara, pria di belakang, wanita di depan atau barisan gerak jalan, kita malah terpisah. Satu kelompok pria, satu kelompok wanita, coba ada barisan campuran. Aku berani taruhan kau yang berada di sebelahku.

J, aku memang dewasa prematur. Kedewasaanku datang melebihi usia yang sewajarnya. Aku selalu merasa seperti itu. Jika seseorang mulai belajar tentang cinta ketika beranjak ABG, akhir remaja atau bahkan menjelang pernikahan. Aku sudah mengerti tentang cinta, yang datang karena terbiasa sejak usiaku lima tahun. Aku terbiasa melihat kedatanganmu diantar ibu terkadang mbakmu lalu kau mencium punggung tanggannya, pamitan. Aku terbiasa melihatmu mengambil absen gambar katak lalu mengkaitkannya di papan absensi (berselahan dengan absen gambar cabe) yang tergantung di tembok kelas. Aku terbiasa melihat senyummu setiap pagi menyapa teman-teman, meski kau tak selalu tersenyum dan sering terlihat kecut, aku suka. Aku suka semuanya jika itu tentang dirimu.

Absen kita terbuat dari lempengan triplek yang dibentuk lingkaran dan atasnya diberi pengait serupa gantungan.Pada lempengan tadi tertempel macam-macam gambar hewan dan sayuran. Setiap pagi saat murid datang, ia wajib mengambil satu (sama seperti saat pertama ia pilih ketika menjadi murid baru) kemudian dikaitakan di papan absensi. Jadi terlihat menggantung, kau gambar katak hijau dan aku cabe merah. Papan absenmu berada di sebelahku.Dan ini kali pertama aku melihat pasangan paling romantis sedunia. Sepasang katak-cabe.

Sejak saat itu aku sadar, ketika usiaku merangkak ke lima, aku telah jatuh cinta. Benar-benar dewasa sebelum waktunya....

 

#3

J, tak terasa sudah 3 tahun kita berteman. Berawal dari TK dan berlanjut di SD yang sama. tidak seperti kedewasaanku, kecerdasanmu yang tumbuh lebih dulu. Kau pintar sebelum waktunya. Nilaimu selalu bagus, pujian seringkali membanjiri hingga kau tenggelam dalam kesempurnaan. Selain pintar,juga sopan dan manut. Benar-benar Mr Perfect. Setiap hari datang dengan seragam rapi, berdasi, bertopi, dan ketika kau membuka tutup kepalamu, rambutmu yang klimis terlihat mengkilap disapu cahaya pagi, sepatumu selalu hitam, tak pernah lupa menyempatkan dilap. Dan wajahmu J, matamu sipit tapi memiliki bola yang lebar-hitam, meski tak mancung hidungmu tertata sebagai proporsi yang pas berjarak dengan bibirmu yang tipis, gigimu berjajar terlalu rapat sehingga menonjolkan satu bagian ke depan, dan kegingsulanmu menambah keindahan yang akan terpancar dari setiap senyum lebar yang tergambar dari mulutmu. Kau dan seperangkat perangaimu memiliki nilai estetik yang tak tertangguhkan, benar-benar indah. Setelah Davinchi aku melihat panorama yang lebih abstrak melebihi karya Afandi.

Rapot caturwulan I di tahun pertama kita sekolah telah keluar, Kau juara 1. Semua yang terbaik pastilah nilaimu. Untuk apa nilai bagus? Menjadi bintang kelas? Dan sekolah? Sebenarnya kenapa kita harus sekolah? Entah setan macam apa yang merasuk, aku terus menyimpan pertanyaaan untuk apa sekolah didirikan.

Aku tak malu mendapat nilai jelek. Jika ada teman yang mengolok aku hujani dia dengan pertanyaan ‘kemanfaatan sekolah’ dan telak. Mereka bahkan tak membayangkan pertanyaan itu apalagi memikirkan jawabannya. Karena sebuah pertanyaan tak terjawab, tak ada yang tahu tujuan dari yang sedang aku jalani sekarang, aku berjalan lenggang. Untuk apa sekolah dan belajar?

J, untung saja kau pintar. Meski tak memiliki jawaban atas pertanyaanku paling tidak aku memiliki motivasi baru, kamu. Aku jadi giat belajar agar kita bisa berbicara banyak hal. Selepas magrib aku meminta bapak atau tante untuk mendampingi belajar. Pelajaran pertamaku adalah membaca. Baca? ya, aku baru lancar membaca ketika naik kelas 3. Perkembanganku memang tak begitu pesat, namun sejak kesadaran itu datang aku jadi gemar belajar, aku membaca banyak tulisan, iklan, koran, headline saat berita dibawakan, baliho, poster, selebaran, rambu aturan, tak ada yang terlewatkan. Aku tak ingin kehilangan kemampuanku agar bisa berkomunikasi denganmu.

J, kelas 3 usai sebentar lagi. Itu artinya hanya tinggal 3 tahun lagi aku bisa leluasa melihatmu. Kali ini aku buru-buru dari kantin menuju kelas karena bel masuk berbunyi. Aku terkejut mendapatimu membenturkan kepala di pintu, berulang kali. Sambil terus berkata biar aku yang mati saja. Apa yang terjadi? anak usia 8 tahun menginginkan mati? anak-anak datang meleraimu, kau tampak tenang dan kembali ke bangku. Untuk kali pertama, hatiku hancur seketika. Saat itu rasanya aku ingin menepuk pundakmu dan bilang biar aku saja. Aku saja yang mati menggantikanmu. Kau tumbuh dan berkembang dengan sempurna, aku berusaha setengah mati hanya agar terlihat sama. Biar aku saja yang mati karena aku tak bisa membayangkan kelanjutan hidupku tanpa kehadiranmu. Keesokannya kau beraktifitas seperti biasa, syukurlah.

Waktu seperti berlari saat kita bersama. Caturwulan III kelas 5 telah usai, pembagian rapot sebelum menentukan kenaikan kelas. Ada kabar yang tak biasa. Kau mendapat juara 1, dan tak berubah sejak 5 tahun lalu. Bedanya bukan hanya kau, ada aku. Jika biasanya aku selalu tertinggal satu langkah di belakangmu sekarang kita seri. Bahkan setelah bersusah payah aku tetap belum bisa mengunggulimu. Aku kegirangan menarik perhatian, kau biasa saja seperti tak ada apa-apa. Euforiaku tak ada gunanya. Aku mulai lelah, berlari-lari menujumu berharap kau akan menoleh padaku. Meski pandanganku tak memiliki fokus lain selain dirimu tapi rasa cintaku mulai pudar, ketertarikanku pada pelajaran mulai berkurang. Kelas 6 diakhiri dengan juara 3, ada anak baru yang mengisi posisiku dan kau, tak usah ditanya kau berada dimana.

Setelah penerimaan rapot kelas jadi lengang, class meeting, kerja bakti dan semua kegiatan informal digelar. Pulang sekolah aku selalu buru-buru, berusaha menghindar dari keterikatan takdir denganmu. Entah mengapa akhir-akhir ini kau membuntutiku. Setiap pulang sekolah kau selalu menguntit sambil menyanyikan ‘kecupan’nya Lilis Karlina.

Aku selalu menutup telingaku dan itu membuatmu makin menyanyikannya. Aku tahu lagu itu. Mimik Lilis Karlina yang manyun saat mengucap “kecupan sayang…muuuuuuuach” dan hobiku yang nonton india mejadikan perpaduan yang tak sewajarnya. Aku tidak suka. Melihatmu membuntutiku sambil memonyong-monyongkan bibir menirukan dia, aku suka. Aku tidak membencimu, bagaimana bisa? Tapi membayangkan Lilis Karlina pada adegan film india, sunguh itu bukan imaji yang cocok untuk anak kelas 6 SD. Mengertilah…

 

#4

EBTANAS usai. Kita melanjutkan di sekolah yang (masih) sama. Kita bahkan berada di kelas yang sama. Cintaku tak lagi prioritas. Kau makin pudar dalam radarku. Kecerdasanmu mendatangkan kembang-kembang lain setiap waktu. Setiap pagi, terlebih jika ada PR sekumpulan anak-anak elit siap menghisapmu, dengan begitu kau menjadi kawanannya dan aku makin tak tertarik. Naik kelas VIII ruangan diacak, tapi (lagi-lagi) kita sekelas.

“Kebetulan ya?” ucapmu

“iya” balasku sekenanya.

Kebetulan? Apa ada sesuatu yang kebetulan? Kelas tiga kita kembali satu ruangan, itu artinya dari TK hingga SMP selama 11 tahun kita satu kelas. Jika SMA kita melanjutkan di sekolah yang sama aku jamin kita akan kembali satu ruangan. Denganmu, hanya keyakinan yang aku miliki. Untung kau melanjutkan di sekolah kejuruan dan aku ke negeri. Kita tak mungkin satu ruangan. Sejak itu aku kehilanganmu. Sesekali kita bertemu, saat berangkat atau pulang sekolah, terkadang kita satu bis. Aku pernah menyapamu, tapi pernah juga kau tak melihat ke arahku. Meski tak sekuat dulu, cinta tetaplah cinta.

Aku ingin mencintaimu dengan mata, agar melihat saja cukup

Aku ingin mencintaimu dengan telinga, agar mendengar saja cukup

Aku ingin mencintaimu dengan hati, agar prasangka saja cukup

Aku ingin mencintaimu dengan semua yang aku miliki,

agar aku bisa melihat diriku sendiri

dan tak melulu menuntutmu untukku

Aku hanya ingin mencintaimu, itu saja

 

#5

Kita benar-benar berpisah. Aku. Kamu. Kehidupan kita tak lagi jalan beriring. Masa SMA aku lalui dengan datang-duduk-diam-pulang. Aku menjadi orang yang paling buru-buru untuk sampai kembali ke rumah. Aku jadi pendiam, bukan karena lebih tenang menuju kedewasaan. Aku benar-benar diam, tanpa suara. Beranjak kelas XII, aku seringkali merasakan nyeri di sebalah wajahku. Mengonsumsi obat migrain menjadi kebiasaan baru, aku selalu menyimpannya didalam tas. Tapi makin lama intensitas kambuh semakin sering, tak hanya nyeri, rasanya seperti ada sengatan listrik yang menjalar di sebagian pipi, bibir, hidung dan rahang. Obat migrain tak lagi membantu, setelah setahun mengandalkannya akhirnya aku menyerah juga. Ibu membawaku periksa. Di dokter umum, beliau merujuk ke spesialis syaraf. Di syaraf, aku didiagnosa Trigeminal Neuralgis. Dari hasil MRI dokter menjelaskan ada tumor jinak yang menekan pembuluh darah di syaraf cranial, tepatnya syaraf nomor 5 (syaraf trigeminus namanya). Syaraf ini bertanggungjawab pada 3 divisi: mata, rahang atas, rahang bawah.

Aku makin sering nyeri, saat gosok gigi, menyentuh wajah, mengunyah bahkan bicara. Semua kegiatan yang berhubungan dengan itu jadi terganggu. Bicara menjadi hal yang menyakitkan. Sejak itu aku lebih suka menyampaikan sesuatu dengan tulisan. Aku belajar bisu.

J, tiga tahun tak bersama telah menghilangkan kemampuan yang terus aku pupuk sejak kelas tiga, membaca. Meski aku tetap bisa mengerti tulisannya, aku tak lagi punya kemampuan untuk berbincang denganmu. Bicara bukan lagi hal mudah, J. Aku harus menahan serangan nyeri luar biasa pada wajahku ketika ingin mengucap sesuatu. Maafkan aku. Kamu dimana?  

 

#6

Enam tahun tak ada komunikasi, tiba-tiba kau kembali.

Kau mengunjugi rumah, adik menyambutmu dan mempersilakan lalu dia memanggilku. Kau!! Aku hampir tak percaya namamu terdengar lagi. Aku sudah tak memiliki kekuatan atas kebahagiaan sesaat jika ternyata ini hanya gurauan adikku, karena dia seringkali melakukan ini. Tapi akhirnya aku pastikan juga, kau ada disana. Duduk di ruang tamuku, kursi dekat pintu.

“hai Ira, apa kabar?”

Aku diam

“kamu kurusan ya?” kau terus melontarkan pertanyaan dan aku hanya menatap gamang. Terdengar ada tamu, Bapak keluar dari kamar dan menyuruhku membuat minuman. Sekarang hanya ada kau dan Bapak, berhadapan.

“nak Jeri, lama ga ketemu. Kuliahnya lancar?” (sial!! Ternyata Bapak yang fatal melontarkan panggilan, Zaki ke Jeri??)

“iya pak ga terasa ya. Terakhir kali SD, hobi banget main sini. Kuliahnya insyaallah masih setahun lagi,hehe.. Bapak sehat?”

“iya, alhamdulillah”

Kemudian bercerita tentang Ira yang sering mengalami migrain sejak kelas XII dan diketahui terkena Trigeminal Neuralgis di akhir SMA.

Zaki mengkristal.

Ira datang membawa minum, Bapak pamit ke belakang. Ira menyerahkan secarik kertas, menanyakan.

“kerasan ya di tempat sekarang??”membubuhkan moody tawa.

“semua tempat sama Ra. Sama menyakitkan”

Ini kehancuran kedua, “ternyata tidak hanya aku, kau juga merasa tidak ada tempat yang baik-baik saja” batin Ira.

 

#7

Sejak saat itu, satu tahun yang lalu kau tak pernah mangkir dari kegiatan ini. Datang di akhir pekan atau hari libur nasional. sampai di rumahku tepat pukul 08.15 untuk mampir minum setelah jogging dari pukul 06.00.

Tepat pukul tujuh malam, seperti janjimu kau menjemputku.