Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Teknologi 5 Juli 2018   17:37 WIB
Ternyata Biaya Pengolahan Air Limbah Bisa Ditekan

Air merupakan kebutuhan pokok untuk bagi manusia,  tanpa air kehidupan di bumi ini mustahil ada. Meskipun air terdapat dimana-mana namun tetap saja belum mencukupi, dan sebagian besar masih terbuang sia-sia.

Air mencakup sekitar 70% dari permukaan planet tetapi hanya sekitar 1% yang dapat kita gunakan sebagai air tawar. Jumlah yang sedikit ini adalah sumber daya yang kita andalkan setiap kali kita minum, mandi, menggunakan toilet atau memasak, dan kebutuhan lainnya baik disektor Industri dan Pertanian keduanya menggunakan air, yang nantinya sebagian besar air yang digunakan akan menjadi air limbah.

Meskipun demikian, ini bukan akhir dari cerita, akan tetapi dapat dilihat sebagai awal yang baru. Dimana saat ini di kota-kota di dunia terdapat jaringan pipa saluran pembuangan yang membawa air limbah menuju ke Instalasi pengolahan air, yang sampainya disana, ia melalui berbagai tahap pengolahan termasuk filtrasi ekstensif, pengolahan menggunakan bakteri serta disinfeksi, nantinya Air limbah melalui beberapa tahap pemurnian.

Spesialis Kepala Divisi Sistim Air & Lingkungan di Toshiba Infrastructure Systems & Solutions Corporation, Yukio Hiraoka  menyadari kebutuhan untuk mereduksi konsumsi energi dalam pengolahan air limbah.

“Fasilitas air limbah banyak mengkonsumsi energi  - di Jepang, 0.7% dari seluruh kebutuhan listrik. Ini adalah persentase yang relatif tinggi untuk satu proses Industri apalagi kalau kita menyadari bahwa 30% sampai 60% di gunakan untuk proses Aerasi,” ucap Hiraoka.

Yukio Hiraoka berbagi ide untuk pengolahan air dengan biaya lebih rendah.

Sepintas, nampaknya penggunaan energi tinggi adalah sesuatu yang tidak mungkin dihindari. Air yang beroksigen merupakan kebutuhan dasar dalam pengolahan air limbah, dan ini membutuhkan listrik.

Menurut Hiraoka pada prinsipnya, perbandingannya sederhana: semakin banyak listrik, semakin banyak oksigen yang di masukkan kedalam air; semakin sedikit listrik, semakin sedikit oksigen.

Yang berarti juga berkurangnya jumlah air bersih. Meskipun Hiraoka sangat menyadari hal ini, dirinya juga bertekad untuk merubah kondisi ini dengan mengurangi konsumsi energi sambil mempertahankan jumlah dan kualitas air bersih.

Hiraoka menjelaskan lebih lanjut dalam pengolahan air, karena kami mengambil sikap yang berhati-hati, kami cenderung memasukkan oksigen lebih banyak dari yang sebetulnya dibutuhkan didalam proses aerasi.

Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa proses pengolahan berjalan cukup baik sehingga dapat memenuhi persyaratan pengolahan yang ketat. Namun tidak memerlukan tingkat oksigen yang tinggi pada setiap saat.

"Pada dasarnya manusia memiliki pola tertentu  dalam kegiatan mereka. Misalnya orang jarang mencuci piring pada tengah malam sehingga komposisi air limbah berubah pada periode tersebut," jelasnya

Konsumsi listrik dapat dikurangi jika kita memahami hal ini dan menyesuaikan jumlah oksigen yang digunakan.

Karya : Buddy Wirawan