Satu dari Lima Objek Bangunan Bakal Jadi Ikon Kota Bandung

Buddy Wirawan
Karya Buddy Wirawan Kategori Wisata
dipublikasikan 17 Mei 2018
Satu dari Lima Objek Bangunan Bakal Jadi Ikon Kota Bandung

Kota Bandung sudah dikunjungi oleh sekitar 6,9 juta wisatawan, Kota Bandung telah tumbuh menjadi kota wisata. Namun ternyata hingga saat ini, Kota tersebut masih belum memiliki ikon utama yang bisa memrepresentasikan sebuah kota.

“Kota lain punya ikon khas sehingga menjadi daya tarik. Paris punya menara Eiffel, Sydney punya Opera House, nah Bandung perlu hal itu untuk menjadi daya tarik utama. Dampaknya bisa untuk para pengrajin souvenir,”  terang Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Dewi Kaniasari, Selasa lalu (15/5/2018) di Taman Sejarah Balai Kota Bandung.

Dikatakan, Disbudpar Kota Bandung mengajak sejumlah pakar mengkaji objek yang dapat menjadi ikon kota tersebut dan sudah dilakukan pengkajian sejak Desember 2017. Melalui Focus Group Discussion (FGD), para pakar budaya, desain, linguistik, dan lain-lain berkumpul dan membahas ikon itu.

Pakar Sejarah Universitas Padjadjaran (Unpad), Reiza D. Dienaputra mengungkapkan, para pakar telah merumuskan empat indikator untuk menentukan ikon Kota Bandung. Salah satunya adalah adanya representasi sejarah Kota Bandung dalam objek tersebut.

“Selain harus memiliki sejarah, indikator lainnya adalah memiliki keunikan yang tidak ada di tempat lain. Objek itu juga harus menimbulkan kebanggaan lintas generasi, yang semua orang bangga terhadap hal itu. Indikator keempat adalah memiliki spirit kejuangan,” ungkapnya.

 Kemudian berdasarkan indikator itu, terpilihlah lima kandidat ikon Kota Bandung yang masuk ke dalam tahap finalisasi. Kelima objek tersebut adalah Gedung Sate, Gedung Merdeka, Jembatan Pasopati, Monumen Bandung Lautan Api, dan Bandung Creative Hub. Kelima objek tersebut juga dikaji oleh Pakar Linguistik Unpad Susi Yulianti yang menelusiri dengan menggunakan metode korpus. 

Metode linguistik ini menggunakan data dari kumpulan ujaran yang tertulis atau lisan untuk menguji hipotesis tentang struktur bahasa. Susi menggunakan dua korpus, yakni korpus Leipzig yang memiliki koleksi 1,2 miliar kata dalam bahasa Indonesia. Sedangkan korpus lainnya yaitu Indonesian WaC yang memiliki koleksi 192 juta kata.

Hasilnya cukup memuaskan. Dari kedua korpus tersebut, tingkat kemunculan frasa “Gedung Merdeka” dan frasa “Gedung Sate” paling tinggi. Kendati begitu, kedua frasa tersebut berbeda jumlah kemunculannya di tiap-tiap korpus.

Dikemukakan, di Indonesian WaC, ‘Gedung Sate’ paling populer. Tingkat kemunculannya paling tinggi. Kedua adalah ‘Gedung Merdeka’, disusul ‘Jembatan Pasopati’. Sementara itu di Leipzig, ‘Gedung Merdeka’ jauh lebih tinggi dari ‘Gedung Sate’. 

“Di Leipzig, kata ‘Gedung Merdeka’ ada 66.000 kali kemunculan. Sedangkan ‘Gedung Sate’ hanya 2.500 kali kemunculan,” pungkasnya.

  • view 48