SANG PEMIMPI

Yudhie Noer
Karya Yudhie Noer Kategori Renungan
dipublikasikan 08 Februari 2017
SANG PEMIMPI

 

  • Suatu hari, di saat mentari menggelar pagi,
    Suara-suara burung bernyanyi lalu meneriaki kantukku,
    “Hey, bangun, bangun lah dari mimpi mahal mu,
    kau takkan bisa membelinya kecuali para petinggi-petinggi yang haus akan kasta’’
    Ah sial, dasar pengganggu, urus saja urusanmu sendiri!
    Aku pun enggan menatap cahaya, sembari menarik kembali penghangatku
    Sebab aku tak mau menghapus kabut mimpi yang telah ku bayar dengan rasa lelap tidurku
    Oh mimpi, kenapa terlalu singkat kau sajikan, apakah kau takut dengan pengganggu sialan itu?
    Seketika, kau pulang begitu saja sementara aku sedang sangat ingin melahapnya.
    Dengan kecewa, ku terpaksa bangkit dari peristirahatan.
    Bergegas ku ke kamar mandi, membasuh beberapa kantuk di setengah sadar,
    lalu lekas ku memilih beberapa setelan dan membungkus tubuh dengan kain bercorak berbeda dari atas sampai bawah.
    Seperti biasa, ku duduk di muka rumah, ongkang-ongkang kaki,
    Sambil memandang sekitar, ku tenggak perlahan kopi serta melahap beberapa angan seperlunya, berharap lekat di ingatan dan tidak lari dibawa hembusan angin.
    Sesekali ku lihat waktu yang bersegera hampir meninggalkan start
    Ku hela nafas sejenak, berharap sang waktu untuk sedikit bersabar menunggu,
    Kemudian ia kembali lalu berbisik,
    “Apakah tabunganmu sudah cukup untuk membeli semua angan yang kau mau,
    sementara kau ongkang-ongkang kaki lantas memusuhiku,
    Apakah kau tidak malu dengan matahari yang tak lelah selalu membuka mata untuk harimu?”
    Sejenak aku tertegun, lalu bergegas bersiap enyah dari kursi malas
    Dan segera ku menghangatkan waktu, dengan menjual cucuran keringat ,
    untuk membeli bukti,bahwa aku bukanlah sang pemimpi.
     

    Pontianak, 3 desember 2014

Dilihat 50