RINDU

Yudhie Noer
Karya Yudhie Noer Kategori Puisi
dipublikasikan 24 Januari 2017
RINDU

Teringat masa kecil itu.
Tanpa waktu
Tanpa batas
Di ujung hari menuju gelap.
Kecuali malam yang seram
dan diam,
terbalut cerita orang-orang tua.
Apa saja dan dimana saja,
kaki kecil ini tak pernah mengeluh.
Kecuali dengan ibu.
Aku sering memandikannya dengan air.
Air mata.
Juga ayah, dengan celoteh tawa dan manja.
Sekarang,
Ibu telah pulang ke rumah barunya.          
Ayah yang tak sabaran juga ikut menyusulnya.
Bersama keluarga dan rumah baru,
yang bertabur bunga dan doa, juga langit yang membentang keemasan.
Mereka tak pernah pernah sekalipun kembali.
Kecuali di dalam ingatan dan album foto kenangan.
-
"Hey! Mau berapa lama lagi kau terus menebar do'a dan mengobrol dengan pusara itu?
Ayo pulang. Langit sudah mulai kehabisan warnanya.
Nanti kau di makan malam yang sebentar lagi memburumu."
-
Suara itu selalu saja menjemputku dengan khawatir.
Sudah lama sekali semenjak terakhir kami berkunjung ke rumah baru ayah dan ibuku,
ia selalu setia menemaniku hingga saat menjelang larut senja.
Dan suatu hari, ketika kami sedang asyik-asyiknya berbalas puisi cinta,
Sang Illahi memanggilnya pulang kembali.
Menyusul mereka yang sudah lebih dulu sampai.
-
"Tenang,
Besok giliranmu lagi sayang.
Aku pasti akan mengunjungimu dengan membawa kembang harum dan do'a-doa yang manis.
Juga puisi cinta dan syair-syair merdu yang dulu selalu aku persembahkan untukmu"
"
"Allahu akbar.. Allahu akbar"
Tak terasa, petang menjemputku cepat sekali.
Hari ini dan hari-hari setelahnya semakin lama semakin singkat terasa.
Sembari menabung rindu,
Aku pun pulang menuju maghrib.
Berharap Dia mau mendengar,
dan menyampaikannya nanti.
Ketika ia memanggilku pulang tanpa pesan.
-
Pontianak, 15/10/16

  • view 52