"RUMAH PRESIDEN DAN CERITA AKAR TROTOAR"

Yudhie Noer
Karya Yudhie Noer Kategori Puisi
dipublikasikan 23 Januari 2017

Di sebuah kota besar
Diantara binar-binar lampu dan para gedung pencakar langit
Sunyi dan dingin menyelimuti malam yang sebentar lagi menjemput pagi.
Terlihat seorang pria paruh baya,
memungut beberapa sampah dan karung yang sudah hampir penuh.
Pria itu tampak kelelahan.
Badannya berlumur bau, kotoran dan sisa mandi keringat yang sudah hampir kering.
Setelah merapikan pekerjaannya,
ia pun berjalan sambil memanggul dari sisa sisa di dalam karung itu,
hendak menuju sebuah warung untuk rehat dan minum karena kehausan.
Berharap mendapat sesuatu pengganti teman sepi dan lelahnya.
Setibanya di tempat yang dituju, ia pun memesan secangkir teh hangat.
Ongkang-ongkang kaki sambil menikmati hangatnya teh,
ia pun disuguhi dengan hiburan mata.
Sebuah tayangan acara berita yang membahas tentang ibu kota.
"Bagus ya rumahnya? Besar lagi. Lengkap dengan perabotan yang seharga puluhan milyar. Wah, seandainya.." Seorang tukang becak yang duduk di sebelah nyeletuk ke arahnya, sambil menunjuk ke arah tv.
Ia hanya tersenyum, tak bisa berkata-kata.
Karena di dalam kepalanya tak cukup ruang untuk itu, hanya ada kata lapar dan istirahat saja.
Tak beberapa lama kemudian, suara adzan shubuh berkumandang, merobek pekat kesunyian dipagi itu.
Setelah membayar minuman dengan beberapa sisa koin rupiah di saku kaos usang berlogo partai yang dikenakannya,
ia pun beranjak dari tempat itu, meniti jalan berliku menuju peristirahatan di bawah kolong jembatan Latuharhary.
-
Singkawang, 31/10/2016

  • view 48