Keyakinan dan Kebiasaan

Yussan Ahmad Fauzi
Karya Yussan Ahmad Fauzi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Agustus 2017
Keyakinan dan Kebiasaan

Dalam ruang persegi aku menjumpaimu dan aku merabamu dengan ke sepuluh jariku. Bahkan aku tak tau apa yang harus kutuangkan dalam rangkaian kata-kata. Sambil menikmati cahaya redup menguning hasil dari buah karya seorang ilmuwan jaman dahulu. Sebut saja, orang-orang menyebutnya Thomas Alpha Edison.  Terimakasih Pak Thomas, berkat kerja kerasmu kita menikmati hasil yang engkau kerjakan.

Konon, bulan ramadhan adalah bulan suci. Di bulan ini kita mendapatkan pahala dari Tuhan dua kali lipat jika kita berbuat baik, melakukan pekerjaan atau beraktivitas dalam hal-hal yang positif. Sampai saat ini kita tetap meyakini hal tersebut. Dan beberapa orang pun mengatakan bahwa bulan apapun dan hari apapun adalah hari yang baik. Tergantung bagaimana kita meresapi hidup keseharian dan mampu merefleksikan atas apa saja yang telah kita perbuat. Apakah kita sering membuat orang lain kecewa? , atau apakah kita sering membuat orang lain tersenyum dan membuat nyaman hati orang lain?

Seorang guru telah berkata “Keyakinan pada hal yang positif akan merubah kebiasaan buruk menjadi positif”, begitupun sebaliknya. Tentu merubah kebiasaan buruk menjadi sesuatu hal yang baik tidak segampang menyongkel kotoran dalam hidung kita. Keyakinan akan selalu ditemani dengan godaaan-godaan atau jebakan-jebakan licik yang dapat mempengaruhi kita untuk tetap kembali melakukan kebiasaan buruk.

Saya jadi teringat ketika menjalani tour silaturahmi “30 Hari Jalan Timur” meliputi Malang, Jombang, Jember, Situbondo, Banyuwangi, Bali, Lombok, dengan bekal yang amat tak masuk akal jika dipikirkan. Yang perlu saya garis bawahi yaitu soal keyakinan. Jika saja saya tidak yakin melakukan perjalanan tersebut, mana mungkin saya tiba dan sampai dalam sebuah perjalanan tersebut. Keyakinan memang harus diyakini dan dijalani tanpa sebuah tendensi keuntungan. Tidak bermaksud untuk menjadi apa, mendapatkan nominal berapa, saya hanya ingin memperbanyak pertemanan secara offline dan mengunjungi langsung kepada saudara-saudara se-tanah air di daerah-daerah yang saya lalui. Saya merasa, pertemuan secara offline atau bertatap muka akan lebih intim daripada kita intim dalam online. Bagiku ini sebuah perjalanan penting yang melelahkan yang juga menyenangkan. Bahwasannya dalam perjalanan seorang diri menemui hal-hal baru dan orang-orang baru membawa pandangan berfikirku menjadi sedikit terbuka dan lebih luas. Pertemuan demi pertemuan akhirnya harus dikahiri dengan perpisahan. Namun dalam pertemuan selalu mendapatkan sesuatu yang baik, tergantung bagaimana kita mencomot saripati saripati dalam sebuah pertemuan walaupun itu sangat singkat. Pelajaran tentang bagaimana kita mencoba beradaptasi pada sebuah lingkungan baru, membaca perilaku sosial, dan bagaimana agar kita bisa masuk dalam kehadiran mereka. Karena saya pikir setiap tempat atau lingkungan memiliki gesturnya masing-masing. Indonesia sudah jelas memiliki gestur gestur setiap daerah yang berbeda-beda. Kita belum tentu bisa heureuy atau bercanda dengan gestur daerah asal kita di daerah yang berbeda. Belum tentu kita bisa dengan seenaknya membawa perilaku keseharian kita di tempat asal dibawa ke tempat yang baru. Maka, dalam perjalanan kemarin saya berusaha keras bagaimana caranya agar kehadiran ku di suatu tempat dapat diterima dan juga bisa bermanfaat bagi siapapun.

Kok saya serius sekali menuliskan ini. hahaha. Tapi biarkan sajalah menulis se-mengalirnya. Karena tulisan bagus tidak dalam

sekali menulis. Menulis adalah “Kebiasaan”. Tulisan ini masih sangat jauh dari kata “bagus” karena saya belum terbiasa  menuliskan apa yang ada dikepala. Ini hanya bagian dari tahap-tahap pembelajaran dan proses membiasakan menulis.

Semoga kedepannya, saya tetap menulis hingga bisa mengubah laku dari yang tadinya bermalas-malasan (kebiasaan buruk) menjadi tulisan-tulisan (kebiasaan baik). Amin.

  • view 35