Pilkada dan Pileg, Bukan Bursa Kerja Biasa

Tyo Joyoteras
Karya Tyo Joyoteras Kategori Renungan
dipublikasikan 09 Maret 2018
Pilkada dan Pileg, Bukan Bursa Kerja Biasa


Pernah ikut atau melihat bursa kerja atau job fair ?.   Jika sudah,  tentu anda bisa dengan mudah membayangkan aktivitas apa yang ada saat bursa kerja tersebut.  Para penyedia lapangan kerja akan menampilkan posisi-posisi yang dibutuhkan di perusahaan mereka lengkap dengan kualifikasi yang dibutuhkan.

Para pencari kerja yang merasa sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan, kemudian cocok dengan penyedia kerja tentu akan melamar.  Idealnya bagi para pencari kerja yang merasa tidak cocok atau ada kualifikasi kunci yang tidak mereka penuhi umumnya tidak akan nekat untuk melamar.  Karena mereka tahu itu hanya buang-buang waktu belaka.

Ada juga beberapa gelintir orang yang tetap percaya bahwa keberuntungan itu ada dan siapa tahu pihak perusahaan tertarik dengan CV mereka.  Hal ini juga tidak salah dan tidak memalukan karena pada dasarnya bursa kerja seperti pasar dimana penjual dengan segala strategi marketing mereka akan menjajakan barang dagangan mereka.

Beberapa gelintir orang tersebut tentu punya bekal berupa CV yang menarik.  Saat itu mungkin posisi yang cocok dengan mereka belum ada dalam dafttar lowongan.  Namun, berbekal CV yang menarik bisa jadi dan kemungkinan juga terbuka ketika pihak perusahaan tertarik dan menawarkan sebuah posisi di perusahaan mereka suatu ketika. 

Sialnya,  ada juga beberapa orang nekat yang tetap menaruh CV atau lamaran mereka meski sebenarnya mereka sendiri sadar bahwa CV mereka sama sekali belum layak untuk masuk ke perusahaan yang mereka tuju.   Keberuntungan memang ada namun bukan serta merta bisa hadir tanpa dibarengi usaha yang maksimal dan tentunya dibarengi akal sehat.

Hal yang sama terjadi pada Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada dan Pemilihan Legislatif atau Pileg.   Tidak bisa dipungkiri baik Pilkada dan Pileg memiliki dampak ekonomi bagi beberapa golongan masyarakat.  Hampir mirip bursa kerja, kedua ajang akbar tersebut menawarkan aneka ragam jenis pekerjaan.

Mereka yang berkecimpung dalam dunia percetakan kaos, biro iklan/advertising, para seniman kelas wahid sampai kelas teri dan hingga pedagang sembako akan mengalami masa panen.  Spanduk iklan dimana-mana, kaos bergambar para calon, berseliwerannya penyanyi dangdut ibu kota hingga level kecamatan sampai pembagian sembako gratis akan menjadi suatu hal yang lumrah.

Ada positifnya memang.  Faktanya, sebagian dari biaya politik yang tinggi  ada yang kembali ke masyarakat dalam wujud pekerjaan musiman.  Bagi mereka yang kecipratan rezeki, musim Pilkada dan Pileg adalah musim yang selalu mereka nanti-nantikan.

Pertanyaanya, apakah mereka yang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif atau kepala daerah sekalipun mengganggap Pilkada dan Pileg adalah sarana pengabdian kepada masyarakat atau hanya sebatas bursa kerja.  Kalau mereka berniat tulus dari dalam hati mereka untuk menjadikan Pilkada dan Pileg adalah salah satu sarana mengabdi dan berbuat sesuatu yang baik kepada masyarakat tentu patut kita dukung.

Masalahnya adalah ketika mereka menganggap bahwa Pilkada dan Pileg adalah bursa kerja.   Mereka yang "nganggur" jangan-jangan sudah menunggu lama untuk menanti bursa kerja akbar seperti Pilkada dan Pileg.

Ya semoga saja, orang-orang "nganggur" dan nekat tidak banyak berseliweran, kemudian turut serta di bursa kerja dengan memajang foto mereka sebagai calon wakil rakyat.  Pengalaman nol, kemampuan belum teruji, niat semata-mata untuk cari makan dan  ilmu politik atau pemerintahan yang seujung kuku namun nekat untuk melamar.

Mau dibawa kemana kira-kira masyarakat kita?????

  • view 65