Lupaku

Fauzia El
Karya Fauzia El Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 November 2016
Lupaku

Memiliki istri yang sholihah tentu sudah menjadi dambaan para suami. Begitu pun para mertua, pasti bahagia jika anaknya bisa mendapatkan jodoh seorang wanita sholihah.
Dan setiap wanita muslim pastilah ingin mencapai kesholihahan itu.
Lantas, istri sholihah itu yang bagaimana sih?

Aku adalah seorang istri, menantu, dan juga ibu.
Setelah menikah, aku ikut suami dan tinggal bersama di rumah orangtuanya. Cita-citaku sedari awal menikah adalah 'menjadi istri sholihah'.

Suamiku berprofesi sebagai pelaut. Kami terpaksa harus menjalani LDR di dalam pernikahan kami. Dan ketika suami bekerja, aku harus tetap berada di rumah mertua, bersama mertua dan anak bungsunya (ipar), serta seorang ipar lagi yang sudah berkeluarga.
Saat suami berada di rumah, aku menjalankan tugas rumah tangga biasa, melayani suami, layaknya ibu rumah tangga lainnya. Di saat suamiku jauh, aku tetap menjalankan tugasku di rumah ini sebagai menantu. Ya, melayani kedua mertuaku. Lika-likunya tentu saja ada, tetapi aku masih selalu diberi kekuatan oleh Allah.

Waktu berlalu. Aku dan suamiku dikaruniai seorang anak laki-laki. Dan aku pun menjadi ibu, sungguh membahagiakan. Meskipun kesibukanku bertambah, beban dan pikiranku semakin berat, aku berusaha untuk tetap bahagia.

Aku menjalani hari-hariku dengan wajar. Berusaha mewujudkan istiqomahku untuk menjadi istri sholihah. Berlaku sebagai istri, menantu, dan juga ibu bagi anakku yang kini baru menginjak 1 tahun.
Tapi siapa sangka, aku melupakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang mengantarkanku sampai di titik ini.

Pada suatu waktu, tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiranku.
Sudah sholihahkah aku di mata suamiku?
Sudah sholihahkah aku di mata mertuaku?
Ya, mungkin sudah. Dan mereka akan selalu menganggapku begitu.
Aku banyak bersikap manis, selalu patuh dan menuruti semua yang mereka inginkan (selama itu baik).
Dan berhasil, mereka menyukaiku, selalu menceritakan hal baik tentangku kepada orang lain.
Ya, bagi mereka, aku selalu sholihah.

Aku sampai di titik ini. Tapi aku lupa pada yang mengantarkanku pada tujuanku.
Ya. Bapak dan ibuku.
Aku bahkan lupa, yang membuatku bercita-cita menjadi istri sholihah adalah nasihat mereka berdua.
"Jadilah istri yang sholihah. Ketaatanmu kini bukan pada kami berdua, melainkan pada suamimu. Sedangkan suamimu harus taat pada orangtuanya. Maka kamu pun harus taat pada keduanya". Itulah penggalan nasihat bapak dan ibu di hari pernikahanku. Tidak henti air mata ini mengingatnya, bahwa aku hampir saja melupakannya.

Aku meninggalkan keluargaku, demi ketaatanku pada suamiku.
Aku melupakan bagaimana bapak dan ibu mengajarkanku sholat melalui jamaah mereka setiap hari.
Aku melupakan bagaimana bapak dan ibu bersautan membetulkan bacaan Al Quranku yang masih keliru.
Aku melupakan bagaimana bapak dan ibu menertawakanku kemudian membetulkan bacaan doa setelah makan yang tertukar dengan doa bangun tidur.
Dan masih banyak hal lagi yang ternyata hampir aku lupakan.
Aku pun melupakan doa restu bapak dan ibu sehingga aku tumbuh menjadi wanita sholihah.

Maafkan anakmu ini bapak, ibu..
Wanita yang dianggap sholihah ini melupakan sejarah bagaimana ia bisa menjadi sholihah bagi suami dan mertuanya.
Semoga aku tetap mampu istiqomah, sehingga pengorbanan bapak dan ibu untukku tidak sia-sia.
Terima kasih telah menjadikanku seperti ini, sehingga aku diterima dengan baik di keluarga baruku.
Jangan pernah berhenti memberikan doa dan restu untukku.
Dan insya Allah, tidak akan lagi ada lupaku untuk semua yang bapak ibu bekalkan untukku.

"Allaahummaghfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo"

Semoga sholihahku pun mampu menjadi amal baik bapak dan ibu di dunia dan akhirat nanti. Aamiin.

  • view 179