Deri Potter

Biola Yoannita
Karya Biola Yoannita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2017
Deri Potter

            Kalian pasti tau Harry Potter? Yups! Novel karya J.K Rowling yang juga sukses difilmkan itu begitu fenomenal. Harry Potter adalah seorang penyihir, yang tinggal bersama Keluarga Pamannya yang selalu membuat dia tersiksa.

            Dan siapa bilang Harry Potter hanya fantasi belaka? Nyatanya di kehidupan ini ada yang mengalaminya. Deri Anastasia. Cewek berumur awal 20 tahun, yang hidup dengan keluarga Pamannya sejak dia berumur 2 tahun, saat kedua orangtuanya tewas dalam kecelakaan.

            Sebenarnya Paman Deri terbilang cukup berada. Dengan hanya seorang anak, mudah saja jika menyekolahkan Deri ditempat yang layak ataupun membelikan Deri baju yang pantas. Tapi kenyataanya Deri harus puas dengan baju bekas Sepupunya ataupun Tantenya.

            “Ibuuuu, hari ini jadi kan Ke Mall?” Lusi, sepupu Deri satu-satunya merengek manja.

            “Ya, kamu bilang sama Ayah,”

            “Yah, jadi ke Mall kan?”

            Dan tentu saja Paman Deri tidak bisa bilang tidak pada Putri semata wayangnya itu.

            “Anak Ayah mau beli apa sih?”

            “Baju Lusi udah jelek, Yah. Tas juga,”

            Dan begitulah. Bagai kerbau dicocok hidungnya, Paman Deri langsung menuruti kemauan Lusi.

            Lalu bagaimana dengan Deri?

            “Kamu, mau ikut gak, Der?” Pamannya bertanya pada Deri.

            “Deri dirumah aja, Paman” Deri menolak sopan.

            Tentu saja Deri lebih memilih tinggal dirumah, bisa menonton TV sepuasnya saat keluarga Pamannya pergi. Dibanding harus ikut pergi belanja dan berujung harus menjadi babu yang membawa barang belanjaan yang tak terhingga banyaknya.

            “Kamu itu, bagaimana mau gaul, kalau diajak jalan aja nolak mulu,”Pamannya langsung menggerundel.

            Deri cuma tersenyum kecut. Seandainya pun saat jalan bersama dengan mereka Deri diperlakukan sama seperti Lusi, Deri pasti dengan senang hati bakal ikut.

            “Yaudah nanti Tante nitip cuciin baju kotor yah, sekalian juga nanti masak buat makan malam, sama jangan lupa rumah dipel yah Der” selalu seperti itu pesan yang diucapkan Tantenya saat akan pergi.

            Deri hanya mengangguk. Memang dia bisa apalagi?

*****

            Setelah semua ‘pesanan’ Tantenya kelar. Deri langsung merebahkan diri diatas sofa depan TV. Seraya menonton film kesukaannya. Yups Harry Potter! Deri selalu berandai-andai jika saja dia memiliki kekuatan sihir seperti Harry Potter, dia akan menyihir Paman dan Tantenya supaya baik padanya. Bukan keinginan jahat bukan?

*****

            Deri terbangun setelah mendapat mimpi aneh. Bagaimana tidak, dimimpinya ia didatangi sesosok Kakek seperti Albus Dombledore, dan mengatakan bahwa ini saatnya untuk kembali.

            “Ayaaaaaaah,” suara teriakan Lusi langsung membuat Deri terlonjak dan langsung sadar 100%.

            “Kenapa , De?”

            Deri yang penasaran langsung keluar kamarnya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat kamar sepupunya penuh dengan kecoak.

            Pamannya berusaha menghalau kecoak-kecoak yang entah datang dari mana itu dengan sapu, tapi beberapa kecoak justru terbang. Membuat Lusi dan sang Tante makin histeris.

            “Deri kok diem aja sih, bantuin Paman kamu tuh,” Tantenya langsung mendorong Deri dengan paksa.

            “Paman, biar Deri aja sini yang ngurus,”

            “Mana bisa kamu,” seperti biasa Pamannya meremehkannya.

            Tanpa menggubris perlakuan Pamannya, Deri fokus mengucapkan sesuatu seraya menatap Kecoak-kecoak biadab. Dan sedetik kemudian, kecoak-kecoak itu langsung berjatuhan ke lantai dan terkapar lemas.

            Pamannya melihat ke arah Deri dengan pandangan yang sulit diartikan. Deri berusaha sebisa mungkin bersikap biasa. Dia langsung mengambil alih sapu yang sedari tadi dipegang Pamannya. Menyapu kecoak yang sudah tewas itu.

            Deri menghampiri Tantenya berharap akan mendapat apresiasi atas usahanya membasmi kecoak.

            “Kecoaknya udah ilang, Tan”

            “Ini semua gara-gara kamu! Tante sudah bilang berkali-kali bat bersihin rumah. Gini nih jadinya kalo kamu malas! Dasar anak gatau diri!” dan tantenya langsung ngeloyor setelah mengucapkan berbagai makian.

            “Ibuuu” Lusi langsung mengekor Mamanya.

            Deri berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang memaksa untuk keluar. Dengan lesu dia berjalan kembali menuju kamarnya – yang lebih layak disebut gudang- dan melihat Pamannya berdiri berkacak pinggang didepan pintu.

            “Paman, Deri selalu bersihin rumah setiap hari, Kok, Deri gak boong,” Deri berusaha menjelaskan pada sang Paman, walau tahu itu akan percuma.

            PLAKKK!!

            Sebuah tamparan keras hinggap dipipi Deri, membuat air matanya yang sejak tadi tertahan sukses keluar, “Paman....”

            Dan tanpa berkata apa-apa Pamannya meninggalkannya yang berurai air mata.

            Uh oh, apakah kehadiran kecoak adalah salahnya? Ini salah kecoak, bukan salah Deri. Tapi tentu saja deri tidak bisa berkata apa-apa selain berusaha menerimanya.

            Jika ada yang salah, maka itu pastilah salah Deri. Dan jika Deri melakukan hal yang benar, tak sekalipun itu dihargai.

            Begitulah kehidupan yang diraskan Deri. Entah sudah berapa sering Tantenya menyebut dia tidak tahu diri, parasit, benalu dan sejenisnya.

            Dengan kesedihan yang tiada tara Deri langsung masuk seraya mengunci pintu kamarnya. Menangis sepuasnya tanpa suara. Jikapun suara tangis Deri terdengar memangnya siapa yang akan peduli?

*****

            “Deriiii, banguuun!” suara gedoran pintu membuat Deri langsung terjaga.

            Matanya bengkak bekas menangis semalam. Dan tidak bisakah Tantenya memberi dia waktu untuk sekedar menenangkan diri?

            Dengan enggan, Deri melangkahkan kaki menuju pintu, dan membukanya. Tampaklah Tantenya sudah berdiri didepan, dengan wajah yang jauh dari kata ramah.

            “Kebiasan banget sih kamu. Liat udah jam berapa ini!” Deri melihat jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 pagi.

            “Maaf, Tan,” Deri langsung meminta maaf walau sebenernya jarang sekali terjadi dia bangun kesiangan seperti ini.

            “ Sarapan belum siap, nanti kalau Lusi bangun dia kelaparan, kamu mau tanggung jawab?!”

            Deri hanya menunduk karena tahu akan percuma menjawab Tantenya.

            “Ada apa sih, Bu, pagi-pagi udah ribut”

            Deri menunduk semakin dalam tak berani melihat Pamannya.

            “Ini, nih Yah. Keponakan kamu emang males banget. Anak perawan kok bangunnya siang mulu,”

            “ Iya, udah, bu yang penting kan Deri udah bangun,”

            “Ayah gimana sih? Pantes aja Deri kayak gitu, Ayah kurang tegas sih,” Tante deri langsung gak terima sikap suaminya yang tidak kooperatif.

            “Deri pikir Paman, Tante sama Lusi bakal sarapan di luar, ini kan weekend” Deri berusaha memberikan penjelasan, yang langsung disesalinya sedetik kemudian.

            “Pikir, pikir! Kamu tuh kebanyakan mikir, hasilnya gak ada!” tuuh kan Tantenya langsung menyerang balik penjelasan Deri.

            “Yasudah kamu bikin sarapan aja sana” Pamannya langsung melerai       Duuh pokoknya Deri emang selalu salah deh. Bener aja Deri salah apalagi salah? Dan Deri harus pasrah dan mengalah untuk kesalahan yang bahkan dia gak buat sekalipun.

*****

            Deri kembali mendapat mimpi tentang sang Kakek tak dikenal. Dan dia curiga bakal ada Kejadian aneh lagi dikeluarga Pamannya. Deri langsung memasang telinga, bersiap akan teriakan yang sebentar lagi mungkin bergema. Tapi hingga satu jam Deri menajamkan pendengarannya tidak ada yang terjadi.

            Penasaran, Deri keluar kamarnya. Dan betapa terkejutnya dia melihat Paman, Tante dan Lusi berdiri bagaikan patung.

            “Paman, Pamaaaan” Deri menggoyang-goyangkan badan Pamannya yang benar-benar kaku.

            “Tante, Lusiii” mereka sama sekali tidak bergeming.

            “Deri, ini saatnya kamu kembali, Nak” Deri langsung mencari-cari sumber suara.

            “Ka-kamu siapaa?” Deri berteriak frustasi karena tak juga menemukan sosok lain selain dirinya dan Paman, Tante serta Lusi yang menjadi patung.

            Dan betapa kagetnya dia mendadak melihat sesosok Kakek yang selalu muncul di mimpinya.

            “Ini sudah saatnya Deri,”

            “Saat apa?”

            “Kamu harus tau siapa kamu sebenarnya,”

            “A-aku?” Deri menujuk dirinya makin bingung.

            Sang Kakek, tiba-tiba saja mengarahkan telunjuknya ke tembok. Dan layaknya sihir-sihir yang sering Deri lihat di TV, tembok itu berubah menjadi sebuah layar, dengan gambar dirinya versi jadul.

            “I-itu, aku?”

            “Dia adalah Nenek Buyut Kamu, Deri. Ratu kami, bangsa penyihir.”

            Melihat Deri hanya diam, sang Kakek kembali melanjutkan, “ Ini saatnya kamu kembali, Deri dan menyelamatkn bangsa Penyihir,”

            “Ta-tapi, aku, bba-gaimana bisa?” Deri menjawab tergagap.

            “ Apa kamu lebih memilih hidup disini dengan keluarga yang bahakn tidak pernah menganggap kamu keluarganya?”

            “Tapi, bagaimana aku bisa menyelamatkan penyihir?”

            “Karena kamu adalah yang terpilih, Deri,”

            Dan berikutnya Deri sudah berada didunia yang sama sekali dengan dunia yang tadi ditinggalinya.

           

           

 

  • view 89