Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 22 November 2017   22:51 WIB
Rintik Cahaya

       BINTANG MALAM. Pendaran cahaya dengan latar belakang gelap. Ribuan formasi yang tidak pernah berubah. Dilihat dari bumi hanyalah kelipan kecil bercahaya. Fynn menyukainya. Larutnya malam selalu membuat Fynn ketagihan melihat ribuan titik cahaya itu. Selalu bangun di hampir sepertiga malam, hanya melihat pendaran cahaya dengan gugusan formasi indah. Duduk di atas atap rumah berbekal jaket tebal, nyaman sekali. Andai saja dia dapat pergi ke sana, menyentuh cahaya itu dengan tangan sendiri. Mungkin akan lebih menarik.

       IMPIAN. Sebuah harapan. Atau sebuah khayalan. Tidak melakukan apapun dengan pelukan impian besar di dada. Berharap datang begitu saja. Tidak akan mudah mewujudkannya jika hanya seperti itu pikir Fynn. Impian harus di kejar. Pengejaran yang tidak mudah. Jalan tidak pernah selalu baik, pasti ada yang rusak satu per satu. Bahkan kita merasa harus kembali dan tidak melanjutkan perjalanan.

       “Bagaimana kita mencapai bintang ?” Fynn bertanya di saat pelajaran sekolah. Suasana kelas jadi terdiam. Tidak mengerti pertanyaan. Semua kelas tertuju melihat ke arah depan. Berharap menunggu jawaban dari sang guru.

       Sang guru tersenyum. “Itu tidak mudah” sang guru menjawab singkat. Ibu guru itu tahu kalau mencapai bintang adalah hal mustahil. Akan tetapi, ibu guru punya jawaban yang lebih hebat dari yang dikira. Semua anak di kelas tidak paham jabawan sang ibu dan berharap menunggu jawaban selanjutnya. “Itu tidak mudah, untuk mencapai bintang hanya ada satu cara” Sang ibu guru menambah penasaran anak-anak terutama Fynn sang penanya.

       “Ibuu, bintang itu jauh sekali. Butuh berjuta tahun untuk mencapainya” salah satu anak tidak terima jawaban sang guru. Walau anak itu hanya tau dari saudara nya tentang jauhnya bintang. Tidak yakin sejauh apa. Membuat diskusi satu kelas menjadi riuh. Mulai berdebat dan bersorak satu sama lain.

       “Ehm, baik” ibu guru menenangkan suasana kelas. Semua mata tiba-tiba tertuju kembali ke depan. “Yang dikatakan Sora memang benar. Tapi hanya ada satu pertanyaan ibu ke kalian. Apakah kalian memang ingin benar-benar mencapai bintang ?” Ibu guru mengembalikan pertanyaan para murid. Mata ibu guru tertuju kepada Fynn, berharap dia menjawabnya. Begitu juga teman sekelasnya, semua tertuju kepada Fynn.

       “Saya mau merasakan indahnya cahaya bintang dari dekat bu. Saya penasaran bagaimana bentuk bintang sebenarnya” jawaban itu sanggup membuat teman-teman nya terkagum. Ikut penasaran bagaimana bentuk bintang itu. Selama ini mereka hanya tau bintang bentuknya yaa seperti bintang laut yang ada lima kaki.

       “Sebenarnya . . . “ ibu guru mulai bercerita dengan perlahan. Tapi terhenti sebentar menatap salah satu anak ada yang ketiduran. Akibatnya, beberapa anak dengan cepat membangunkannya dan beberapa dari mereka kesal. Ketika terbangun dia senyum tidak merasa bersalah dan tidak tau jika diskusi dengan ibu guru hampir mencapai puncaknya. Ibu guru hanya tersenyum melihatnya. “kita lanjutkan besok saja ya . . .” ibu guru mulai iseng mempermainkan rasa penasaran anaknya.

        “Jangaaan ibuuu . . . “ hampir beberapa anak bersorak dengan cepat. Sesuai dengan dugaan ibu guru.

       “Baiklah . . .” ibu guru memperbaiki posisi duduknya. Beberapa anak sorak gembira mendengarnya. “Sebenarnya, kita semua sudah merasakan indahnya bintang, bahkan bisa dibilang merasakannya secara langsung. Soal bentuk bintang, kita juga sudah tau “ ibu guru masih memberi jawaban yang susah di cerna anak-anaknya. “Memang kita tidak bisa mencapai bintang, tetapi kalian melupakan salah satu bintang yang ada di dekat kita” anak-anak masih saja kebingungan terhadap jawaban sang guru.

       “Berbeda dengan bintang-bintang yang kita lihat. Selama ini kita hanya melihat bintang di malam hari. Akan tetapi, bintang yang satu ini paling dekat dengan kita dibanding yang lain dan hanya bisa di lihat di siang hari” ibu guru mulai menjelaskan dengan beberapa petunjuk. Memaksa anak-anaknya berpikir lebih jauh dan penasaran lebih jauh. Kelas lain sudah mulai keluar. Bel sudah berbunyi sejak beberapa menit lalu. Tidak ada anak-anak dikelas itu yang mau pulang sebelum menerima jawaban yang jelas. Ada satu anak yang tidur tadi ingin pulang, tapi terhenti oleh tatapan ganas teman-teman nya untuk tetap dikelas.

       “Ribuan bintang bisa kalian lihat di malam hari, beda dengan siang hari yang hanya bisa lihat satu bintang saja” sang guru mulai lagi dengan kata-kata petunjuk. Anak-anak sudah mulai tidak sabar. Kelas mulai riuh, satu dua anak mulai memaksa gurunya untuk menjawab dengan jelas. Dan hanya dibalas dengan senyuman. Ibu guru mengulur waktu dengan mulai membereskan barang-barangnya ke dalam tas.

        “MATAHARI . . . ya dia adalah matahari. Sang bintang yang paling dekat dengan manusia. Hanya bisa dilihat di siang hari, kita juga sudah merasakannya langsung, dan bentuk sebenarnya kalian juga sudah tahu” sepertiya ibu guru menemukan puncaknya dalam diskusi ini. Anak-anak mulai terkejut. Satu dua tidak percaya. Apa benar matahari adalah bintang. Melihat jawabannya, ibu guru tidak main-main. Tidak pernah ibu guru menjawab dengan jawaban yang salah. Sama seperti diskusi sebelumnya tentang BULAN. Beberapa anak mulai mencatatnya, seakan-akan itu adalah rahasia yang besar bahwa matahari adalah bintang. Fynn salah satunya yang paling terkejut, sang pembuka diskusi yang mencintai bintang.

       Fynn tidak sadar. Sang guru tidak menjawab pertanyaannya dengan jelas. Memang mustahil untuk mencapai bintang. Tetapi, satu hal yang Fynn pahami, bahwa dia sudah merasakan bagaiman indahnya bintang. Bahkan dia sekarang sadar sudah merasakan bintang dengan sangat dekat. Lebih dekat dari bintang malam yang dilihatnya. Fynn mulai menyukai matahari sang bintang terdekat. Fynn mulai menikmatinya, dia mulai menikmati keindahan bintang ini ketika terbit dan terbenam. Sejak saat itulah Fynn mulai menyukai warna jingga. Pertanda terbit dan terbenamnya bintang yang dicintainya.

       Sejak saat itu. IMPIAN Fynn mulai bergeser ke hal yang lebih besar. Mengejar suatu khayalan yang mungkin belum pernah orang-orang capai.

Karya : arqifLa -