Second World

BintangMalam
Karya BintangMalam  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 November 2017
Second World

Cukup sudah. hari-hariku dilalui dengan kegamangan yang semu. Berjam-jam ku cari tidak menemukan sesuatu yang indah. Menghabiskan waktu dengan menatap layar handphone. Apa yang sebenarnya aku cari dihidup ini. Bayangkan saja. Dalam satu jam aku berhasil menghabiskan dua puluh persennya menatap layar hp. Aku capek menghitungnya berapa jam aku habiskan untuk satu hari. Apa tidak sakit menatap seperti itu. Jelas sakit sekali. Tapi aku heran, otak sudah di reset berbagai cara agar terbiasa dengan  hal itu. Memilukan sekali hidupku.

Aku masih tetap berbaring. Hanya tanganku saja yang bisa bergerak. Selain itu? Tidak ada tenaga sedikitpun untuk menggerakkan anggota tubuhku. Cerah pagi hari yang kulihat lewat jendela pun tak sanggup menggerakkan diriku. Apa yang kulakukan? Membuka hp dan mulai melihat-lihat kegiatan teman-temanku. Alangkah hebatnya mereka menjalankan kehidupan ini. Ada yang sepagi ini sudah memulai aktivitasnya dengan sedikit kopi. Aku bisa melihat kepulan kopi yang dia minum pagi ini hanya melalui hp. Luar biasa menurut orang-orang 20 tahun yang lalu. Menurutku, di abad ini itu hal yang biasa. Oh iya, ada juga mereka yang menyemangati diri mereka sendiri dengan update kehidupannya di hp. Aku juga bisa melihatnya. Bahkan bisa semua orang melihatnya. Tapi kenapa? aku tidak ikut semangat dari ajakannya.

Haha. Ketawaku seperti biasa. Sinis dan tak ada ekspresi. Melihat alur dunia saat ini. Semua bisa digapai hanya dengan melihat. Selama masih ada mata, aku bisa melihat kehidupan mereka sejauh apapun itu. Contohnya saja, siang ini setelah makan aku dapat melihat seorang artis terkenal di sebuah benua nun jauh disana sedang melakukan make up. Dan aku berfikir, apa kah kita masih perlu kaki untuk berjalan, sedangkan dengan sedikit teknologi dalam genggaman sudah dapat memenuhi segala kebutuhan. Mungkin saja dunia dalam 20 tahun kedepan orang-orang tidak perlu repot lagi untuk berjalan. Ada beberapa orang yang memimpikan hal-hal seperti itu. Kemajuan teknologi membawa evolusi buruk pada manusia.

Jangan salah dulu. Aku salah satu orang yang memimpikan evolusi itu. Dunia dimana orang-orang hanya berbaring di rumah dengan segala teknologi nya melakukan apa yang dia mau. Dunia kedua mungkin saja terbentuk dimana orang-orang menjalankan kehidupannya di dalamnya. Orang-orang menyebutnya Second world, dimana interaksi antar manusia tidak dilakukan di dunia nyata tapi salam dan sapa di lakukan di dunia tersebut. Bekerja, Bercinta, Bermain, bahkan Bebelanja bisa dilakukan di Second World. Orang-orang menjalankan karakternya masing-masing seperti di dalam game pada dunia kedua. Dunia nyata sekarang berpindah tempat hanya untuk mengisi kelemahan dari dunia kedua. Seperti makan, buang air, dan sesuatu yang belum bisa dilakukan di dunia kedua. Bahkan penemuan sudah mulai membuat sebuah suntikan nutrisi agar manusia tidak sulit lagi makan di dunia nyata. Hanya dengan menyuntikkan nutrisi ke tubuhnya, mereka bisa menghemat waktu di dunia nyata.

Apa yang terjadi di dunia nyata tersebut? Kosong. Tidak ada orang dijalanan. Jembatan-jembatan sudah dijalari tanaman hijau seperti tak di urus. Kendaraan bertahun-tahun tidak digunakan terparkir di dalam rumah. Oh iya, bagaimana orang-orang ini berbelanja memenuhi kebutuhan mereka? Mudah saja. Teknologi drone sudah disediakan. Dan melesat cepat datang ke rumah-rumah. Tinggal pesan apa yang dibutuhkan di Dunia kedua, maka drone dengan otomatis mengantarkannya ke dunia nyata. Malam dan siang terasa sepi di dunia nyata sekarang. Tidak ada sedikitpun manusia yang keluar dari rumahnya. Iklim dunia nyata hampir membaik. Lapizan ozon yang hampir sesak napas disebabkan kendaraan sudah mulai membaik. Bahkan hewan buas sekalipun dengan bebas berjalan dijalanan raya. Mengagumkan dunia baru ini.

Lalu apa yang mereka kejar di dunia kedua. Sama seperti di dunia nyata, orang-orang bekerja, menjalakankan industri, berdagang, sekolah dan sebagainya. Bisakah kalian membayangkannya. Pekerjaan di dunia kedua kebanyakan membuat teknologi. Industri otomotif terhebat pada masa dunia nyata sekarang sudah beralih menjadi perusahaan teknologi yang mendukung Second World. Manusia sudah hampir tidak membutuhkan dunia nyata lagi. Sekolah-sekolah negeri sudah berpindah 100% ke dunia kedua. Mereka menganggap lebih efektif membuka sekolah di dunia kedua dibandingkan dunia nyata. Dunia televisi juga begitu, orang-orang membuat film didunia kedua. Lebih berimajinasi dan mudah dilakukan dibanding dunia nyata yang repot dalam membuat desain lokasi pengambilan film.

Bagaimana dengan dunia olahraga? haha. Sama saja. Teknologi dunia kedua sudah tak dapat dicerna manusia yang hidup pada zaman masih dunia nyata. Orang-orang olah raga di dunia kedua seperti biasa dan tubuh mereka yang ada didunia nyata juga ikut merasakan dampak dari olahraga tersebut. Maka tidak dapat dipungkiri, sepakbola masih olahraga terfavorit mereka di dunia kedua. Sama seperti di dunia nyata, pertandingan bola antar negara menjadi sesuatu yang berharga bagi mereka.

Sudah terbayangkah kalian dengan kehidupan tersebut. Tapi sayang. Itu hanya masih perkiraan yang masih aku impikan. Lihatlah sekarang. Aku hanya bisa berbaring di tempat tidur di rumahku. Keseharianku hanya melihat hp. Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang masih dapat berjalan. Menikmati jalan raya menggunakan sepeda motor, berlarian sore hari di lapangan bola, pulang sekolah bersama teman-teman berjalan kaki. Indahnya. Tapi hal itu hanya sebuah kemustahilan. Satu hal yang menurutku dan aku harapkan sekarang ini adalah second world. Aku ingin merasakan bagaimana berjalan kembali. Walau itu hanya di dunia kedua. Kerinduan itu pun masih aku simpan sampai sekarang. Apakah itu akan terwujud? Aku tidak tahu. Tapi satu yang pasti. Aku akan menunggunya. . .

  • view 32