Pulang Bersamanya

Pulang Bersamanya

BintangMalam
Karya BintangMalam  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Juli 2017
Pulang Bersamanya

Sungguh menarik. Aku belajar seharian di sekolah berjuang mendapatkan nilai. Jika itu baik dan aku juara kelas akan dipandangi banyak orang-orang di sekolah. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin bagiku. Nilaiku standar dan tidak banyak berjuang. Aku lebih suka memikirkan hal yang lebih hebat daripada itu. Sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan sekolah. Mata pelajaran segudang saja sudah membuatku hampir muntah dengan memikirkannya saja.

“Sebelum kita mulai, mohon tugas minggu kemarin dikumpulkan dahulu!” guru ku memberi perintah seolah ini adalah tugas negara yang sangat penting. Jangan berpikir kalau aku tidak membuatnya. Aku tetap mengerjakannya walaupun ada beberapa yang tidak paham. Aku tidak takut berapa nilai yang diberikan. Tapi aku sangat heran, kenapa ada sebagian teman kelas melihat tugas temannya hanya karena guruku memperingatkan kalau tugas itu akan menjadi pertimbangan nilai akhir. Sungguh mengherankan bagiku.

Siang itu, seperti biasa aku masih berada di dalam kelas. Menunggu pelajaran berakhir sama dengan menunggu suatu hadiah yang tidak kunjung datang. Kantuk yang sulit sekali aku tahan efek dari makan siang membuatku ingin mencuri-curi tidur. Sebagai orang yang biasa duduk di bagian tengah kelas aku bisa saja menyelinap untuk tidur. Maka aku berdirikan buku catatan dan mulai menyandarkan kepala ke meja. Beberapa menit tertidur tidak mengapa menurutku.

Sampai teganya, teman-teman kelasku tidak ada yang membangunkanku. Aku masih tertidur padahal bel sudah berbunyi. Kepala ku pusing sekali habis bangun dari tidur. Dengan cepat aku membereskan peralatan dan bersiap untuk pulang. Sebelum aku benar-benar ingin meninggalkan kelas, aku terkejut ada seorang perempuan yang masih duduk di dalam kelas. Aku mengenalnya. Bukankah dia seorang juara kelas tahun ini. Bahkan nilai yang dia punya tertinggi di sekolah mengalahkan adik-adik kelas 1 dan 2. Dia tidak terlalu memperhatikanku, maka aku memutuskan untuk segera pulang agar tidak mengganggunya belajar.

“Akhirnya kamu bangun juga, syukurlah” tiba-tiba perempuan itu menyapaku sesaat aku mau berdiri. “Aku mengira kamu tidak akan bangun sampai hari gelap” perempuan itu tersenyum kepadaku. Senyuman itu manis sekali. Membuatku kaku dan tidak dapat bergerak. Aku tidak menyangka ternyata ada perempuan sebegitu ramahnya di dalam kelas ini. Selama ini aku hanya peduli diriku sendiri sampai tidak tahu ada orang seperti ini.

“A.. apa yang kamu lakukan disini?” Aku bertanya kaku sekali. Sungguh memalukan.

“loh, bukannya kita sama-sama belajar disini, sekolah?” Dia malah bertanya balik.

“Maksudku ini kan sudah jam pulang, kenapa belum pulang kerumahmu?” Aku menjelaskan, kali ini lebih lancar dari sebelumnya.

“Oh, tidak apa-apa” dia menjawab. Sungguh jawaban yang sulit sekali bagiku. Padahal pertanyaan yang aku berikan mudah sekali. Mungkin inilah perbedaan orang jenius denganku. Mereka lebih sering memberikan jawaban-jawaban yang sulit untuk pertanyaan yang mudah. Membingungkan.

“Boleh aku ikut pulang bersamamu, Touga?” Dia bertanya

“Eh, ikut kerumahku?”

“Bukan, maksudku bisakah kita pulang bersama? Sebentar lagi perkejaanku selesai, lagian jalan pulang kerumah kita sama” Dia menjelaskan

“Eh, baiklah” aku menjawab.

Ada dua yang aku bingungkan. Kenapa perempuan ini bisa tahu namaku. Padahal seingatku aku jarang berkomunikasi dengan perempuan di dalam kelas. Tapi itu mungkin saja karena sudah sewajarnya tahu nama teman-teman di kelas. Yang lebih membingunkan itu, kenapa dia bisa tahu kalau jalan pulang kerumahnya sama dengan ku. Mencurigakan. Jangan-jangan aku akan dijadikan bahan penelitian oleh si jenius ini. Satu lagi, kenapa aku otomatis mengiyakan ajakannya. Menakutkan.

“Apa kamu sering pulang larut begini, Annisa?” aku memberanikan diri bertanya setelah hampir setengah perjalanan dilalui dengan diam.

“Hmm, tidak begitu sering” dia menjawab. “Ngomong-ngomong, panggil saja aku Cha, terlalu formal memanggil nama Annisa menurutku” dia tersenyum.

Duhai angin sore, senyumannya manis sekali. Aku sampai tidak bisa bertanya apa lagi. Perjalanan pulang pun dilalui dengan diam lagi setelah sedikit percakapan. Hei, bukannya dia yang meminta ikut bersamaku pulang. Lalu, kenapa pula dia yang tetap diam. Seharusnya aku sudah jadi bahan wawancara atau penelitian apalah yang aku jadi objeknya.

“Hei” dia tiba-tiba berhenti.

“Ada apa?” aku bertanya.

“Rumahku melalui jalan ini” dia memberi tahu.

“oh baiklah, sampai jumpa” belum sempat aku mengatakannya dia sudah berlari pulang. Dan menoleh kepada ku beberapa meter setelahnya. Melambaikan tangan kepadaku. Angin sore itu berhasil melambaikan rambutnya. Ditambah guguran daun pada saat itu. Aku merasakan waktu sempat berhenti. Menyaksikan perempuan yang senyumnya manis sekali. Aku mencoba membalas lambaian tangannya, tapi tidak bisa. Tubuhku kaku. Mungkin inilah hal hebat yang pertama kali kurasakan. Sesuatu yang belum pernah ada di sekolah. Bahkan aku tidak bisa mendefinisikannya. Senang rasanya. Bahkan aku tidak tahu kelanjutan cerita untuk esok hari. Apa aku bisa pulang dengannya lagi atau tidak.

  • view 186