belajar dari kekecewaan

Bintang Kejora
Karya Bintang Kejora Kategori Motivasi
dipublikasikan 18 April 2016
belajar dari kekecewaan

Adakah yang belum pernah merasakan kecewa? Adakah yang di dalamnya hidupnya penuh dengan kekecewaan? *merenung

Saya rasa, setiap orang pernah merasakan kekecewaan. Coba, siapapun yang tidak pernah sama sekali merasakan kekecewaan boleh lah dengan mengangkat tangan. #apasih hahaha

Kecewa merupakan suatu reaksi yang diakibatkan oleh rasa ketidakpuasan terhadap suatu hal. Bisa kecewa karena tidak memperoleh ranking satu, kecewa karena tidak bisa menggambar manusia dengan sempurna (ini mah curhat), atau bisa juga karena uang jajan bulanan dipotong (hahahha... yang ini jangan sampai deh). Kecewa itu bervariasi bentuknya. 

Bagaimana jika kekecewaan itu dihadirkan oleh seseorang yang paling kita percaya? Duhh, rasanya sangat menyakitkan. Bisa jadi rasa sakitnya bukan karena penyebab kekecewaan itu, namun cenderung lebih "dia kan orang yang paling mengenalku, kok tega sekali melakukan hal itu".  Bisa dikatakan semakin dekat suatu hubungan, akan semakin sakit kekecewaan yang dirasakan.

Saya rasa, kecewa suatu hal yang wajar selama tidak berlebihan. kecewa kemudian lupakan, move up kemudian carilah keceriaan. Tentu setiap orang memiliki trik tersendiri untuk melampiaskan kekecewaan. Ada yang melampiaskan dengan bersedih hati, namun tak jarang yang melampiaskannya dengan memaafkannya kemudiaan menciptakan kebahagiaan. Iya benar, cara yang paling ampuh mengobati kekecewaan bukanlah menangis berhari-hari, mengurung diri dalam kamar atau mendadak menjadi pendiam. Bukan, bukan itu. tentu, cara paling ampuh adalah memaafkan kemudian menciptakan kebahagiaan. Bukankah sering kita dengar bahwa kesedihan akan sangat mudah terobati bukan karena orang lain? Tapi, justru dari dalam diri kita sendiri. Nah, bagaimana caranya? Nah, tentu dengan menejemen diri yang baik. Menejemen diri yang baik itulah yang mengantarkan seseorang pada tingkat pemberian penghargaan terhadap diri sendiri. Mencintai diri sendiri. Dalam hal ini, mencintai diri sendiri bukan berarti egois yaaa... Bedakan antara memberikan penghargaan terhadap diri sendiri dengan egois. Toh, siapa yang akan menghargai diri kita kalau bukan kita yang menghargai diri kita sendiri? Orang lain? Tidak semua orang lain dapat memandang bahwa diri kita ini selalu baik. Ingat, sebaik-baik manusia pasti ada saja yang mencela, dan sejahat-jahatnya manusia pasti juga ada yang membela (pesan: Kakak cantik Agustina E. R.).

Oleh karena itu, yuk mulai me-manajemen diri. Untuk meningkatkan kualitas diri yang lebih baik. Kecewa??? "Hakuna Matata". Jangan khawatir!! Innallaha Ma'anaa. Dan katakan "Aku memang pernah kecewa pada manusia. Namun, dari sana akan ku ambil hikmah bukan karena pedihnya ketidakpuasaan ataupun pengkhianatan tetapi aku semakin membuka mata bahwa ada Allah. Dan aku belum pernah kecewa oleh-Nya."

Sumber gambar: tumbler

Perpusat kampus

18 April 2016

 

Dilihat 287