Ibu, sumber kekuatan yang tak terbantahkan

Bintang Kejora
Karya Bintang Kejora Kategori Motivasi
dipublikasikan 08 April 2016
Ibu, sumber kekuatan yang tak terbantahkan

Dua tahun silam. Tentang gadis desa berusia 18 tahun yang begitu bertekad memiliki cita-cita. Cita-cita yang entah dari mana asalnya. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya terinspirasi terhadap cita-cita tersebut. Iya, inspirasinya sederhana. Dari sebuah lagu:

Nenek moyangku
Seorang pelaut
Gemar mengarung
Luas samudra
Menerjang ombak
Tiada takut
Menempuh badai
Sudah biasa.
Ya. Dari lagu itu yang sering dinyanyikan kakek. Itulah sumber inspirasinya. Iya, menjadi seorang PELAUT. Sungguh kata yang begitu mengagetkan bagi kedua orang tua mendengar anak gadisnya memutuskan ingin menjadi pelaut. Bagaimana tidak, orang tua kaget bukan karena pesimis akan ketidakmampuan membiayai sekolah di Politeknik Pelayaran. Jelas bukan. Namun, lebih kepada apa kata orang lain. Bagaimana kata tetangga nantinya. Iya, lebih kepada pemikiran orang lain. Untuk masalah mampu dan tidaknya, orang tua gadis ini sangatlah berharap bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Iya sarjana, begitu orang dewasa berpendidikan menyebutnya. Menjadi sarjana dan memakai toga yang mereka (orang tua) harapkan. Mereka ingin anak yang menjadi sumber kebahagiaannya menjadi sosok yang berpendidikan dan berperilaku santun sehingga separah-parahnya dapat menjadi orang berpengaruh di masyarakat lingkungan tempat tinggal. Namun, hal ini tidaklah mudah. Hidup dilingkungan yang masih berpegang teguh pada paradigma lama bahwa hakikat perempuan adalah dirumah. Untuk apa sekolah tinggi-tinggi toh nanti akan di dapur juga pada akhirnya. Kurang lebih begitulah pemikiran yang ada di lingkungan si gadis berada. "Setinggi-tingginya seorang perempuan bersekolah, pada akhirnya akan bekerja di dapur kelak setelah bersuami". Sungguh mematahkan semangat.

Waktu berlalu tanpa menghiraukan pemikiran orang lain. Bukan karena mereka tidak membicarakan. Bukan pula telinga tak peka untuk (sengaja) mendengar. Hanya saja, gadis sibuk merancang masa depan. Belajar dan berlatih untuk mencapai impiannya. Tidak mudah. Terlebih Semangat yang up dan down begitu cepat. Labil. Galau. Itulah masalah yang sering dialami remaja. Begitu banyak Perguruan Tinggi menawarkan ini dan itu. ?namun, gadis ini tetap pada impiannya. Baginya sekarang adalah berlatih, apa yang dikatakan orang itu adalah masalah kesekian. Bukan prioritas tapi perlu untuk dipikirkan. bukan sekarang, nanti. Sekarang fokus pada impian. Begitu pikir si gadis. Sibuk melengkapi syarat pendaftaran dan persyaratan tes potensi akademik, tes kesehatan dan tes kesemaptaan. Sungguh menguras tenaga dan pikiran.

Inilah saatnya!! Tes potensi akademik berlangsung. Huh... menghela napas panjang, seminggu kemudian diumumkan dan lolos. Tahap pertama yang memuaskan. Senyum mengembang terlihat diantara dua pasang mata yang senantiasa mendampingi berjaga untuk menunggu pengumuman. Tanpa sadar, air mata menetes sebagai rasa syukur telah mendapatkan kemudahan dari Allah. Semoga Allah senantiasa membersamai setiap langkah, begitu gumam si gadis. Tanpa berkata, tatapan Ibu dan bapak cukup menjelaskan bahwa mereka sepakat merestui langkah mimpi yang diambil si gadis. Seolah si gadis menangkap sinyal "kami mendukungmu, Nak. berusahalah lebih keras lagi. Kami bangga akan dirimu. "?

Singkat cerita. Tes Kesehatan dan Kesemaptaan usai. Tepat di bulan ramadhan pengumuman akhir tes masuk menjadi calon pelaut. masih terekam jelas. Hari ke-27 bulan ramadhan, pukul 01.00 WIB. Tepat, dini hari. Tiga pasang mata saling menunggu pengumuman itu. Satu harapan ada satu nama "Desy Fitriyani" sebagai calon taruna nautika. Hening. Diam. Tenang membuka pesan. Airmata menetes tanpa bisa dikendalikan. Pecah begitu saja tanpa izin sang pemilik mata. Allah telah berkehendak lain. Ini bukan jalanmu. "Aku gagal. Aku telah gagal mewujudkannya."?

Suara tangis pecah hingga hidangan sahur tak lagi begitu berkesan. Hanya ada tangis seorang anak perempuan dan dua pasang mata tanpa bersuara. Tak mampu mengutarakan tanya. Namun seakan sudah menerima pesan bahwa anak mereka belum berhasil memeluk cita-citanya.

Esok hari setelah pengumuman menjadi esok yang bisa ditebak. Tidak seperti biasanya, dimana esok tidak pernah kita ketahui. Namun ini berbeda. Iya, hujan tanya. Mmmm,,, entah pertanyaan atau sebuah perkataan basa-basi yang seolah ingin membenarkan paradigma di lingkungan, "sudah, kodrat perempuan adalah di dapur. "

Hanya mampu menghela napas. Semoga Allah memberikan ampunan. Kata-kata spontan yang terlontar begitu menyakitkan itu akan menjadi pemacuku. Iya, mulai hari ini. Mulut memang terkatup, ingin berteriak tapi bukan saatnya. itu hanya akan membuat mereka merasa menang. dan si gadis kalah. Jangan. Jangan lakukan.?

? Begitu terjal jalan yang kamu tempuh, Nak. Duduklah. Temani Ibu menghabiskan secuil pisang goreng ini. Ibu merasa begitu lelah. Apakah kamu pun? Banyak gelisah dan kecewa yang terlukis di pelupuk matamu. Mendekatlah. Bersandarlah pada orang tua ini, mungkin bahuku tidak lagi kuat. Tetapi, bolehkah Ibu menjadi pendengar kali ini? Ibu sudah terlalu sering menasihati. Sekarang, Ibu ingin kamu berbagi luka. Ibu tidak akan mengobati luka itu, karena ibu sadar tidak akan mampu. Tapi, ibu ingin memelukmu. Menangislah di pangkuan ibumu ini,Nak. ?-Suatu hari ketika si gadis memperoleh cacian. Dan Ibu merasakannya.

Bangkit. Semua Perguruan Tinggi telah tutup pendaftaran. Si gadis mulai membuat rencana lagi. Rencana yang berbeda dari perencanaan awal. Bisa disebut inilah jalan kritis. memutuskan bekerja. Mengisi waktu luang hingga ada lagi pendaftaran di Perguruan Tinggi. Menunggu adalah waktu yang tepat waktu itu, tentu menunggu dengan tetap melakukan langkah kecil. Bekerja di percetakan pada siang hari dan menjadi pemandu les di rumah. Belajar mata pelajaran bersama anak SD, SMP dan belajar mengaji bersama anak-anak yang masih polos. Kepolosan itulah simbol ketulusan yang memberikan ketenangan. Bersama mereka (anak-anak) banyak cerita dan si gadis tidak lagi takut untuk bermimpi. Semua berkat Ibu yang selalu memberi motivasi dan menceritakan kisah orang sukses. "Untuk mencapai kesuksesan, butuh suatu pengorbanan dan kehilangan. Ikhlaskan. Toh ingat, Nabi Muhammad Rasulullah SAW menjadi kekasih Allah dengan banyak rasa sakit. Dibenci. Difitnah. Dicaci-maki. Mendapat ancaman akan dibunuh. Peganglah kalimat Ibu, Nak. Untuk berjaya, kamu harus berani sakit."

Pendaftaran Perguruan Tinggi.?

Memutuskan berhenti bekerja dan mulai mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi. Membuka perpustakaan kecil dan menemukan buku catatan kecil bertuliskan "Konsultan Pertambangan". Iya, begitulah tulisannya. Cukup satu baris. Si gadis mengingat kembali kapan ia menuliskan itu. Sungguh susah. Sangat sulit mengingat dalam kondisi keingingintahuan yang tinggi. Beberapa memori bertabrakan. "Ah... saya lelah."

Berhari-hari masih dengan selembar kertas catatan itu. Akhirnya, ketemu. "EUREKA". Ya, ini dituliskan waktu kelas 4 SD. Kemudian me-review setiap peristiwa seluk beluk dan alasan dua kata tersebut tertulis. Iya, mungkin inilah petunjuk.?

Si gadis mendaftar di salah satu perguruan tinggi yang memiliki program studi Teknik Pertambangan. Dan terpilihlah. Di kota ini. Kota yang selalu mengaitkan perasaan di kala sunyi. Kota Pelajar, begitu terkenalnya. "Semoga cita-cita ini terkabul. Dan Allah Ridlo ya, Nak."

Apa yang membuat si gadis bangkit, itulah karena Ibu. Ibu yang selalu membersamai. Benar bahwa ketika semua orang lain tiada yang percaya padamu, dialah orang yang berada di barisan terdepan memberikan keadilan padamu. Ibu. Sangat mengapresiasi kepada Ibu-Ibu hebat di seluruh dunia. "Aku sayang Ibu karena Allah"

?

?

  • view 215