Sang Angin : Kejutan Semilir Pagi

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Sang Angin : Kejutan Semilir Pagi

Pagi yang tenang, saat aku sudah tiba di perempatan jalan raya. Hari itu, aku dan beberapa siswa yang akan mewakili perlombaan mata pelajaran tingkat kabupaten. Aku diberi tahu begitu mendadak kemarin siang. Baru saja sampai di rumah, seorang kakak kelas yang kebetulan rumahnya bertetanggaan denganku, mampir ke rumah dan mencariku. Aku baru saja berganti pakaian dan menuju ke ruang makan, saat mendengar seseorang memanggilku dari luar, maka aku membuka pintu depan.

?Ra, tadi aku dititpin pesen sama Pak Sumar, katanya kamu disuruh belajar Biologi. Besok disuruh ikut lomba, katanya kamu disuruh nunggu di Margasana besok pagi jam 6.?

?Hah?Bohong lah, Mas,?

Aku sudah hafal, dan semua orang sudah tahu bahwa Mas Atno memang anak yang baik, pintar, lucu, humoris, dan juga suka usil.

?Iya, tadi begitu. Kalo nggak percaya, tanya aja sama Toro. Tadi pas aku dipanggil, ada Toro juga. Paling ntar Toro kasih tau juga.?

Aku masih belum percaya, karena bisa saja dua anak laki-laki ini bersekongkol. Aku sudah pernah jadi korban ide gila mereka!

"Masih nggak percaya, Ra? Sana tanya sendiri deh, sumpah lah yakin aku nggak bohong kali ini!"

Iya, kemarin-kemarin dia sering bohong memang...

Mas Atno berusaha meyakinkan aku sambil bersiap pergi dari jalan depan rumah, hendak melanjutkan langkahnya menuju rumah. Tatapannya seperti seorang calon membeli yang menggertak akan pergi jika harga tawarnya tidak disetujui oleh penjual. Dan aku bukan penjual!

"Ya udah, nanti aku tanya Mas Toro,"

"Okeh," teriak Mas Atno sambil berlalu, kemudian bersiul-siul menggoda angin.

Oh iya, di Sang Angin: Berhembus di Perpustakaan, aku ceritakan bahwa aku diminta belajar Biologi juga untuk ikut lomba mata pelajaran tingkat kabupaten. Nah, selama tiga hari itu aku habiskan jam sekolahku untuk belajar bersama dengan Mas Bimo di perpustakaan. Kami hanya membaca buku cetak Biologi masing-masing, merangkum, dan mencoba memahami, menghapal, dan banyak juga mengerjakan soal-soal. Kebanyakan kami menikmati buku masing-masing, tak banyak saling bicara. Lagipula, sesekali aku lihat, Mas Bimo memang tampak serius. Aku juga lebih nyaman dan fokus menyerap materi dengan membaca. Dan, tentu saja, terlalu banyak bertanya padanya juga membuat pikiranku ke mana-mana. Tidak fokus. Percuma.

Seharian mengejar materi Biologi, malamnya di rumah, aku mengejar materi di kelas. Aku meminjam buku catatan teman, menyalin, membaca ulang, dan mencoba memahami sendiri. Aku terlalu asyik dan terlalu bersemangat, sepertinya, sehingga aku aku lembur, aku telat makan, dan pada malam ketiga, kebetulan aku pergi ke warung Uwak (sebutan untuk kakak dari ayah atau ibu untuk orang Banyumas), dan tiba-tiba angin dingin hadir, lalu gerimis menyusul. Aku segera pulang. Uwak menawariku payung, tapi aku menolak karena saat itu hanya gerimis. Ternyata, tak lama setelah itu, hujan lebat datang. Aku berlari. Uwak memanggilku, tapi aku hanya berlari.

Pagi harinya, aku tidak bisa bangun. Kepalaku begitu berat, sementara badanku menggigil hebat. Badanku panas, mataku panas. Sejak hari itu hingga beberapa hari ke depan, aku tidak masuk sekolah. Maka, tidak ada belajar bersama dengan Mas Bimo, tidak ada hembusan angin di perpustakaan. Angin itu sedang meliuk-liuk dalam tubuhku, sama kuatnya dengan rasaku ingin segera bertemu Mas Bimo di sekolah masuk sekolah. Tentu saja, kesempatan untuk kompetisi mewakili sekolah pada saat itu pun lepas...

Untuk kompetisi saat itu, Mas Bimo yang akhirnya mewakili sekolah. Yah, kalau dipikir-pikir memang sudah sepantasnya begitu, aku saja yang terlalu bersemangat. Hehehehe...

Karena mendengar kabar dari Mas Atno itu, napsu makan siangku menguap. Aku bergegas keluar, bermaksud menemui Mas Toro, yang tidak lain adalah sepupuku.

?Uwak, Mas Toro di mana??

?Lagi makan, di halaman belakang,? kata uwakku yang memiliki warung kelontong itu.

Aku berlari ke halaman belakang rumah uwak, dan melihat Mas Toro sedang berjongkok di dekat? pintu belakang, masih mengenakan seragam putih biru. Ada piring di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sibuk menyuap dan sesekali menyebar nasi ke arah kerumunan ayam dan anak-anaknya yang ikut sibuk makan bersama sang majikan.

?Mas, Mas Toro!?

?Eh, Ra. Kenapa? Oh iya, tadi Pak Sumar nyariin. Tadi aku sama Atno dipanggil buat bilangin kamu, suruh belajar Biologi buat besok lomba ke kabupaten. Besok pagi kamu disuruh nunggu di Margasana. Nanti Pak Sumar dateng anter kamu ke Purwokerto,?

Aku menatap dan mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Mas Toro yang penuh nasi itu.

"Jam berapa, Mas?" Aku mencoba meyakinkan diri mengenai informasi itu.

"Jam 6, Ra. Pake seragam putih biru,"

Entah bagaimana, mengetahui bahwa kemungkinan informasi ini adalah benar, menumbuhkan harapan dalam hatiku. Biologi. Siapa lagi selain aku?

"Siapa lagi yang disuruh lomba, Mas? Aku doang?"

?Nggak, tadi kayaknya ada anak kelas 2 kok,?

Aku terlonjak dalam hati. Mas Bimo! Sepertinya aku dan Mas Bimo kali ini yang akan menjadi wakil sekolah untuk kompetisi Biologi besok! Jelas, siapa lagi? Kemarin Mas Bimo sudah berpengalaman, dan aku, paling tidak sudah belajar. Mungkin sekolah benar-benar ingin aku mencoba maju ke kompetisi itu. Mungkin karena aku sudah belajar (sampai sakit) dan sekolah merasa ingin menghiburku? Dan, jika kemarin hanya satu orang yang diikutkan, sedangkan sekarang dua orang, itu berarti aku dan Mas Bimo!! Benar-benar hiburan!!

?Itu loh, yang ketua PMR,? Lanjut Mas Toro memecahkan angan-anganku dengan begitu tega. Rasanya ingin aku korek mulutnya yang penuh nasi itu, dan meminta dia untuk mengulangi kalimatnya. Barangkali kepenuhan nasi mengganggu lidahnya mengucapkan informasi yang benar!

"Ketua PMR?"

"Iya," Mas Toro mengunyah makan siangnya dengan nikmat, tanpa tahu hatiku yang terkunyah-kunyah...

?Oh, gitu. Ya udah, makasih ya, Mas.?

Lalu aku pergi, dan Mas Toro kembali sibuk dengan piring dan ayam-ayamnya.

Dan pagi ini pun tiba. Aku duduk sendiri di kursi bambu panjang tempat calon penumpang menunggu bus atau angkutan ke arah timur, arah kota kabupaten. Sedangkan sepanjang jalan raya ini masuk dalam jalur mudik selatan. Kalau sedang arus mudik, kendaraan hilir mudik begitu ramai. Tapi, pagi ini masih jauh dari idul fitri. Kendaraan yang lewat hanya angkutan umum yang sesak oleh anak-anak sekolah berseragam abu-abu putih dan motor-motor pedagang yang hendak pergi ke pasar, atau beberapa truk pembawa singkong dari arah utara.

Tukang-tukang ojek di pangkalan yang tidak jauh dari kursiku duduk sesekali memperhatikanku. Ada yang bertanya aku mau ke mana, lalu kujawab saja mau ikut lomba ke kabupaten. Dia tersenyum senang dan kagum, lalu berlanjut rumahku di mana. Aku pun menjawab dengan polos nama dusunku. Ada tukang ojek yang kenal salah satu priyayi di dusunku, dan bertanya rumahku sebelah mananya rumah beliau. Kami pun jadi mengobrol ringan tentang sekolah di mana, bersama siapa ke kota kabupaten, lomba apa, berapa anak yang ikut lomba, dan sebagainya. Lama-lama mereka berhenti menanyaiku dan kembali ke aktifitas mereka. Aku juga risih terlalu lama ditanya-tanya...

Penantian sejak jam enam kurang, dan sekarang sudah jam tujuh lebih seperempat!

Asem!

Apakah aku termakan ulah iseng Mas Atno dan Mas Toro? Mungkin sebaiknya aku menyeberang ke Toko Pojok, lalu ikut naik angkutan desa yang ke arah utara, membawa aku kembali ke sekolah. Ini sudah jam mulai pelajaran! Nanti aku akan mengamuk pada dua manusia itu! Tega sekali mereka membohongi aku sampai begini! Atau aku tetap menunggu saja? Tidak mungkin juga mereka membohongiku sampai membuatku pergi ke Margasana pagi-pagi. Mungkin Pak Sumar dalam perjalanan menuju Margasana. Iya, mungkin.

Maka, angkutan warna hijau, warna khas angkutan desa kami, yang berjalan dari arah utara menjadi sangat menarik bagiku untuk aku perhatikan setiap kehadirannya. Tak lama kemudian, salah satunya berhenti tepat di depan kursi tunggu yang aku duduki. Aku melihat wajah Pak Sumar tersenyum lebar, lalu beliau turun sambil tertawa.

?Owalah, kamu sudah di sini rupanya. Kami tunggu-tunggu di sekolah, Bapak kira pesan Bapak kemarin tidak sampai,?

Pak, kalau pesan Bapak tidak sampai dan saya berangkat ke sekolah seperti biasa, apa lalu saya akan tetap dibawa untuk lomba padahal saya belum belajar dan tidak tahu apa-apa??

Aku tersenyum sopan saja, lalu menyalami tangan beliau. Setelah Pak Sumar turun, Mbak Siti menyusul turun dan tersenyum ke arahku. Aku pun membalasnya.

?Ini, Ra, hari ini ada lomba MIPA. Yang dilombakan itu Matematika, Fisika, dan Biologi,? Pak Sumar masih terus berbicara, sementara dari sudut mata aku masih bisa melihat orang lain yang turun. Setelah Mbak Siti, ternyata ada Bu Yanti, Guru Biologi kelas 2.

"Jadi yang sekolah kirimkan tiga anak," aku masih bisa mendengar kata-kata Pak Sumar dan tetap menatap beliau.

Namun, setelah Bu Yanti, aku kehilangan fokus dengan apa yang diucapkan Pak Sumar. Sudut pada pandangan mataku menangkap Mas Bimo turun dari angkutan yang sama!

Aku tidak ingin bisa menahan diri untuk melirik ke arah pintu angkutan. Dan suara Pak Sumar diganti dengan suara Bu Yanti yang juga tersenyum lebar sambil berjalan ke arah kami setelah membayar ongkos angkutan.

?Waaah, alhamdulillah, Ratih sudah di sini. Kami kira tidak masuk, mau ditinggal saja tadinya,?

Aku terkekeh, lalu menyalami tangan Bu Yanti, dan aku tidak bisa menahan diri untuk menyapa Mas Bimo dengan senyuman sedikit saja. Hanya sebentar. Aku tidak bisa bertatap muka dengannya berlama-lama.

?Iya, jadi nanti Siti yang maju buat Fisika, Bimo yang Matematika, Ratih Biologinya. Kan kemarin kata Bu Umi, Ratih sudah belajar Biologi bareng Bimo kan?? Sambung Pak Sumar.

Menyadari bahwa aku berada di tempat ini adalah untuk mengikuti perlombaan, membuatku terkejut. Sebelumnya aku sibuk dan gugup bertanya-tanya dalam hati mengenai kebenaran informasi ini. Dan setelah tahu bahwa informasi ini memang benar, aku tatap sibuk dan gugup juga...

Pak, memang Bu Umi tidak cerita kalau saya belajar sampai sakit ya, Pak? Kenapa saya yang Biologi Pak? Kenapa bukan Mas Bimo yang kemarin sudah maju? Kenapa saya yang masih kelas 1, Pak? Kenapa Pak? Kenapa tidak menunjuk kelas 2, Pak? Bu Umi menunjuk saya hanya karena melihat buku catatan Biologi saya, Pak. Bukan berarti saya jagoan Biologi, Pak. Saya belajar Biologi sampai sakit, Pak. Bu Umi tidak cerita, Pak? Pak??

Aku mengangguk-angguk. Sepertinya itu tidak membuat wajah gugupku tertutupi, karena Pak Sumar dan Bu Yanti tersenyum.

?Sudah, nggak papa, semangat aja," Bu Yanti merengkuh bahuku, lalu mengajak kami semua bergerser lebih ke sebelah timur, tepat sampai di depan sebuah rumah makan ayam goreng yang terkenal itu.

"Ya sudah, ayo kita tunggu busnya,?

Kami menanti angkutan berwarna oranye yang akan membawa kami ke kota kabupaten. Bu Yanti dan Pak Sumar masih tertawa-tawa dengan kisah pagi ini yang sempat membuat bingung guru mata pelajaran dengan keberangkatanku untuk ikut lomba ini.

?Untung kamu ke sini, Ra. Soalnya sekolah kan udah ndaftarin 3 siswa, jadi kalo tadi mau bawa 3 siswa, takutnya kamu beneran udah di sini. Kami tuh nunggu-nungguin kamu di sekolah, tapi karena udah jam 7, takut kesiangan sampai sana, jadi kami berangkat aja, mudah-mudahan kamu beneran udah di sini. Kalo kamu nggak di sini, sekolah ya cuma kirim wakil 2 orang buat 2 mata pelajaran. Untung bener kamu udah di sini, Ra,? Mbak Siti memulai obrolannya denganku dengan wajah ramahnya yang sejuk.

Gugupku menjadi lebih reda. Aku paham, dia memang pantas menjabat sebagai ketua PMR.

?Hehehe, iya, Mbak. Kemarin sodara aku kaasih tau. Aku malah cuma baca-baca tadi malem, nggak tau juga materinya apa aja,?

?Nggak papa, Ra, yang penting maju dulu, hehehe, kami juga cuma baca-baca ya, Bim?? Mbak Siti menoleh pada Mas Bimo.

Aku sekilas memandang Mas Bimo yang menyimak obrolan dan menyetujui pernyataan Mbak Siti.

?Orang dikasih taunya juga kemarin siang, Ra, pas mau pulang sekolah,? Kata Mas Bimo, membuat debar jantungku bertambah lagi setelah tadi cukup mereda.

?Iya, Ra,? imbuh Mba Siti.

Aku mengangguk-angguk. Obrolan mungkin bisa berlanjut jika Bu Yanti dan Pak Sumar tidak memperingatkan kami bahwa bus yang kami tunggu datang. Bus berhenti, lalu kami naik satu per satu. Aku duduk bersama Mbak Siti, Pak Sumar dengan Mas Bimo, serta Bu Yanti duduk dengan seorang ibu berkerudung hijau di belakangku dan Mbak Siti.

Bus melaju. Pak Sumar mulai membicarakan materi Matematika. Mbak Siti membuka tasnya, dan mengambil buku catatan Fisika. Aku tidak mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Bu Yanti dengan ibu berkerudung hijau di belakang, sepertinya tentang cuaca yang cerah pagi ini. Sementara, aku melirik sebentar ke arah Pak Sumar dan Mas Bimo yang kursinya berseberangan denganku dan Mbak Siti. Ini sungguh kejutan, bahwa aku dan Mas Bimo bersama-sama menjadi wakil sekolah untuk lomba. Aku bisa seharian lagi bersamanya.

Aku memandang hamparan sawah di sebelah kanan jalan raya ini. Dalam diam, aku setuju dengan obrolan Bu Yanti di belakang tentang cuaca cerah. Tapi aku merasakan sesuatu yang lebih. Karena semilir sang angin pagi, terasa begitu segar melalui jendela-jendela bus ini. Sinar mentari yang hangat menyinari alunan deru bus oranye yang kian cepat. Dan Mas Bimo ada dalam bus yang sama denganku. Ingin aku katakan pada Bu Yanti dan ibu berkerudung hijau di sebelahnya, atau bahkan pada seisi bus beserta pak sopir dan kondekturnya bahwa, ini bukan hanya pagi yang cerah. Ini adalah pagi yang cerah, dengan kejutan yang indah. ^^

?

?

?

?

  • view 199

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Harusnya kemarin diikut sertakan dalam even 'Cinta dalam Aksara' nya Asma Nadia... ^_

    • Lihat 4 Respon