(7) Sang Angin : Hembusan (masih) di Perpustakaan

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Februari 2016
(7) Sang Angin : Hembusan (masih) di Perpustakaan

Aku masih mencuri-curi pandang pada Mas Bimo, yang tampak begitu sibuk dan serius dengan korannya. Sementara aku di sini juga masih sibuk berpura-pura mencari buku bacaan. Akhirnya aku mengambil buku fisika, karena kupikir mungkin sebaiknya aku membaca bagian materi yang sekarang sedang diajar Bu Nur di kelas. Meskipun, semalam aku pun sudah membacanya di rumah.

Aku baru saja akan berjalan dan duduk kembali, saat Bu Umi, guru yang terkenal dengan kecantikannya, masuk dengan senyumnya yang indah seperti biasa. Aku mengurungkan niatku dan mengembalikan buku fisika itu ke rak buku mata pelajaran. Mas Bimo juga mendongak, lalu melipat koran di tangannya, dan meletakkan koran itu di meja. Bu Umi memandang kami berdua, lalu aku segera duduk di sebelah Mas Bimo.

“Wah, rajin sekali baca-baca ya?” Kata Bu Umi, lalu duduk pada kursi yang berhadapan dengan kursi kami.

"Bimo, Ratih,"

"Iya, Bu,"

"Maaf memanggil kalian keluar kelas pelajaran. Oke, langsung saja yah. Ada lomba mata pelajaran tingkat kabupaten. Ibu sebagai guru Biologi harus memilih perwakilan dari sekolah kita. Nah, Ibu mau kalian berdua belajar dan mempersiapkan diri untuk lomba itu. Nanti Ratih belajar saja sama Bimo mengenai materi Biologi kelas 2. Bimo, nanti ajarin Ratih, ya?!"

Aku dan Mas Bimo diam. Lebih tepatnya, aku terkejut. Aku?! Mengapa aku?! Bukankah aku masih kelas 1 ??! Mas Bimo juga sepertinya gugup. Tapi dia berusaha tetap tenang. Bu Umi tersenyum memahami keterkejutan kami.

"Nggak papa, kan bisa belajar dulu. Jadi nanti Ratih pokoknya belajar saja dulu sama Bimo, ya. Ibu soalnya senang melihat buku catatan Biologi kamu tempo hari. Ternyata kamu rajin merangkum, bahkan sampai bab yang belum diajarkan di kelas. Jadi Ibu percaya, Ratih bisa belajar lebih jauh."

Boleh aku lenyap saja saat itu?

Tidak.

Lalu aku teringat saat minggu lalu Bu Umi selesai mencatat di papan tulis depan kelas, beliau berjalan berkeliling di antara bangku-bangku siswa, lalu beliau berhenti di sebelah mejaku dan Yanti. Beliau memperhatikan buku catatanku, lalu memintanya. Beliau membuka-buka buku catatanku, dan membacanya sambil tersenyum. Aku dan Yanti hanya bertatapan bingung.

"Bagaimana, Ratih?" Pertanyaan Bu Umi mengagetkanku lagi.

"Oh, iya Bu,"

Tampaknya beliau mengerti bahwa aku gugup, dan beliau tersenyum, lalu melanjutkan kalimatnya.

”Sudah, nggak papa. Pokoknya kamu belajar aja bareng Bimo, yah? Jadi untuk seminggu ini, kalian nggak usah ikut pelajaran. Setelah bel masuk, kalian ke perpustakaan aja. Kalian pelajari materi-materi kelas 1 dan 2. Nanti Ibu atau guru Bilologi lainnya juga datang membantu. Bimo nanti bantu Ratih juga ya?"

Mas Bimo mengangguk sopan.

"Ya sudah kalau begitu. Kalian boleh kembali ke kelas masing-masing, terima kasih ya,

"Sama-sama, Bu."

Aku dan Mas Bimo menjawab bersamaan dengan berusaha tersenyum seindah senyum Bu Umi.

Gagal.

Jadi, mulai besok, aku akan menghabiskan sepanjang hari bersama Mas Bimo di perpustakaan? Seharian! Mungkin, aku tidak akan terlalu peduli apakah ikan cucut dan ikan hiu memiliki struktur penyusun tulang yang sama, yaitu tulang rawan. Atau bahkan jika tulang ikan lele, yang padahal tidak lebih besar dan menyeramkan dibandingkan ikan hiu, justeru memiliki tulang sejati. Begitu pula perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan akan tampak sama di mataku, entahlah dengan dinding selnya, mitokondria, dan vakuola kontraktilnya. Aku tidak peduli. Yang penting : bagaimana aku dan bagaimana caranya aku seharian, selama seminggu, di perpustakaan, bersama dia!_

  • view 140