(6) Sang Angin : Menyusup ke Perpustakaan

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Februari 2016
(6) Sang Angin : Menyusup ke Perpustakaan

Aku masih berdiri di ambang pintu kelas 2A.

Bu Wiyati tersenyum lebar, lalu katanya, “Oh iya, saya juga dipesenin begitu tadi,” Bu Wiyati kemudian memanggil Mas Bimo yang mungkin sedang asyik memainkan gitarnya. Mas Bimo hendak meletakkan gitar dari tangannya, namun seorang teman meletakkan suling dan meraih gitar itu. Dengan sopan, Mas Bimo meminta izin keluar pada Bu Wiyati. Bu Wiyati mengangguk lalu menoleh padaku. Aku pun tak lupa mengucapkan terima kasih.

Ya, anak laki-laki bertas oranye itu bernama Bimo. Setelah tadi pagi dia berjalan beberapa meter di hadapanku, sekarang dia juga melakukan hal yang sama. Berjalan ke hadapanku dengan langkahnya yang tenang seperti biasa. Aku kembali seperti orang terkena stroke : saat otakku menyuruh aku segera berpaling, tetapi tubuhku tetap menghadap ke arah Mas Bimo menuju pintu.

Sinar matahari yang sudah mulai meninggi menembus melalui jendela-jendela timur ruang kelas 2A. Dengan Mas Bimo yang sedang berjalan, efeknya seperti ada pendaran cahaya kuning mengiringi kedatangan Mas Bimo ke hadapanku. Layaknya seorang pangeran berkuda putih hendak mengajak seorang gadis desa untuk naik ke kuda bersamanya.

Sesaat dia semakin dekat pada jarak yang tak mampu lagi aku tatap, aku segera membalik badan.

Aku segera berjalan menuju perpustakaan, seolah tak ingin berada di dekat Mas Bimo, sekaligus ada perasaan yang membuat aku tersenyum diam-diam. Senyum yang segera kusembunyikan saat Mas Bimo tiba-tiba sudah berjalan di sebelah kananku!

“Emang ada apa, Ra?”

“Aku nggak tahu, Mas, cuma dikasih tahu Bu Nur suruh manggil Mas Bimo terus nemuin Bu Umi di perpus,” jawabku berusaha menutupi kegugupan dengan banyak berkata-kata. Mas Bimo tidak menjawab.

Ya, mungkin ada sesuatu dengan kami berdua hingga Bu Umi memanggil kami. Apa itu?

Perpustakaan juga sepi, hanya ada Bu Anggi, penjaga perpustakaan yang sering terlihat galak, tapi sebenarnya beliau sangat baik hati dan tegas. Aku dan Mas Bimo masuk. Bu Anggi menatap kedatangan kami, dan aku kikuk akan ditanya macam-macam padahal aku juga tidak tahu untuk apa diminta ke perpustakaan di jam pelajaran ini, apalagi berduaan! Apa yang ada di dalam pikiran beliau nanti? Ternyata tidak, beliau tahu bahwa kami dipanggil Bu Umi.

"Baca-baca saja dulu, saya panggil Bu Umi, ya," kemudian Bu Anggi keluar, menuju ruang guru.

Kikuk yang tadi sudah hilang, tapi ada rasa kikuk yang baru. Nah, sekarang aku dan dia hanya berdua saja di perpustakaan ini. Aku terdiam, menerka-nerka apa yang akan terjadi. Aku juga memikirkan materi yang sekarang sedang diajarkan Bu Nur di kelas. Aku bertanya-tanya bagaimana dengan tugasku? Seharusnya Yanti membuka tasku, mengambil buku tugas Fisikaku, dan mengumpulkannya pada Bu Nur. Dia tahu aku sudah mengerjakan. Dia menyontek pekerjaanku tadi pagi!

Baiklah... Berdua saja dengan Mas Bimo di perpustakaan. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan? Atau... Apa yang akan dia lakukan? Apa yang akan dia katakan? Apa yang akan terjadi? Aku hanya bisa berharap-harap cemas sambil sesekali mencuri pandang padanya, sementara dia berjalan ke rak koran, mengambil koran, lalu kembali dan duduk.

Dia mulai sibuk membolak-balik koran di tangan, dan membacanya dengan serius. Aku juga beranjak ke rak buku, mencari buku bagus yang bisa aku baca sambil menunggu. Aku sesekali mencuri pandang lagi padanya. Pada ekspresi alis tebalnya, matanya, dan raut wajahnya... Hmmmm...

Ups! Dia mungkin merasakan pandangan mataku, lalu melirik. Tapi, aku tidak pintar menghindar. Sesaat kulempar pandanganku ke luar jendela perpustakaan, ke hamparan sawah di samping gedung ini.

Angin dari persawahan dekat sekolah bertiup sepoi-sepoi menggoda dedaunan dan menyusup ke perpustakaan._

  • view 179

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Membaca lagi dari awal setelah melumat episode yang sebelumnya, saya malah jadi banyak heran, koq bisa yah, cerita dengan pendekatan 'tell' seperti ini tak membosankan untuk dibaca? Apakah karena temanya yang bagus atau memang kepiawaian penulisnya dalam menggarap kisah? Keren dan benar2 karya yang amat anomali dan pantas untuk dibedah... ^_ *** Sayang media ini masih sangat sepi, jika tidak, saya akan buat tulisan untuk membedah karya ini dari pendekatan sastra ala saya pribadi... Kisah yang keren... ^_

    • Lihat 1 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Karya yang ehem...^_