Orang Tua : Angkat Kidang

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Februari 2016
Orang Tua : Angkat Kidang

Kata Mama,

Aku terlahir dengan badan yang kecil, walaupun beratnya cukup normal, 2.8 kg dan panjang 48 cm. Saking kecilnya, seorang tetangga yang menjenguk ke rumah, hampir menduduki aku seraya bertanya, ?Mana dedeknya, Mbak?? lalu segera terkejut saat mama menjawab dengan menunjukku di sebelah pantatnya. Bahkan, dengan badan kecil dan kulit gelap, mama sempat membayangkan aku seperti tikus got yang besar! Baca baik-baik, tikus got! *ups, aku tidak sedang menyebutmu demikian...

Saat proses melahirkan, mama mengalami ?angkat kidang?, demikian orang Jawa memberi sebutan untuk proses melahirkan yang mengeluarkan banyak darah sebelum si jabang bayi keluar. Berbahaya, karena bisa menyebabkan si ibu mengalami kehabisan darah. Tapi aku cukup cepat keluar, sehingga sebelum tengah malam, tepatnya pukul sebelas malam, suara tangisku sudah pecah di ruang bersalin sebuah klinik persalinan, malam 28 April 1992.

Bapakku segera memberi kabar ke kampung halaman mama, bahwa aku sudah lahir. Sepasang suami istri yang baru sepuluh bulan menikah sudah harus mengurus bayi merah (kehitaman). Sebenarnya itu lebih pada sebuah kode agar siapapun saudara mama bersedia pergi ke ibukota dan menemani mama di rumah, membantu mama merawatku. Sementara, bapak harus bekerja dan tidak mungkin bagi keluarga kecil ini membayar seorang pembantu di rumah kontrakan kecil.

Mungkin akan ada yang bertanya, mengapa mama tidak tinggal di kampung saja selama hamil atau paling tidak saat mendekati hari persalinan? Bahkan mbah kakung, sempat mengutus seorang saudara, sepupu mama, untuk menjemput mama pulang. Tapi kembali ke kampung sendirian. Ya, mama berkerja. Kabar bahwa putri bungsunya tetap bekerja dalam keadaan perut besar membuat mbah kakung geram pada sang menantu. Bagaimana bisa anaknya dinikahi oelh seorang pemuda yang baginya tidak bisa membuat bahagia? Menyusahkan saja! Atau tidak sayang istrinya? Ah, atau karena pemuda itu tidak kaya raya!

Tapi tidak ada lagi yang bisa diperbuat.

Mama masih bekerja hingga tanggal 28 April 1992 siang! Mama bahkan mengambil gajinya hari itu. Kebetulan yang terencana, mungkin, karena sorenya aku mulai 'minta' dikeluaran. Mungkin karena aku tahu mama sudah ambil cuti dan gajinya. Petangnya, kebetulan ada saudara sepupu bapak yang sedang berkunjung ke rumah. Dan ketika perut mama mulai berkontraksi, maka untunglah ada dua orang laki-laki yang membantu mama menuju rumah sakit di saat darahnya terus-menerus mengucur...

Pagi, tanggal 29 April 1992, nama dan tanggal lahirku akan ditentukan. Ditentukan? Iya. Karena (masih) memegang adat Jawa, atau entah bagaimana, hitungan tanggal dan hari pada kalender Jawa dimulai sejak sore hari, tepatnya setelah maghrib. Dengan kelahiran tanggal 28 April malam, maka itu sudah masuk tanggal 29 April. Aku bahkan tidak mengerti, bahwa jika memang itu hitungan Jawa ataupun Arab, lalu mengapa tanggal kelahiran nasionalku pun ikut berubah? Maka, ya, aku lahir pada tanggal 29 April 1992. Itulah tanggal yang terus terpatri sebagai hari lahirku. Tempat kelahiranku pun kelak terpatri berbeda...

Nama. Bidan yang membantu mama melahirkan memberi saran yang cukup baik. Dia memberiku nama Asih. Bapak dan mama sudah menyiapkan satu kata. Vindy. Jadilah namaku: Vindy Asih. Bahkan, sebagai bentuk pelayanan dan kenang-kenangan, pihak rumah sakit memberikan handuk berwarna merah muda yang bulu-bulunya di bagian tengah membentuk tulisan dengan huruf kapital ?VINDI ASIH?. Ada yang salah? Iya.

Di rumah kontrakan kecil itu, kini tidak hanya ada dua orang, tapi ada aku... Bayi mungil yang tidak pernah berhenti menangis. Siang dan malam, aku tidak memberi kesempatan pada mama dan bapak untuk beristirahat dengan tenang. Disusui pun aku tetap menangis. Sulit tidur di malam hari, harus terus ditimang dalam pelukan mama ataupun bapak. Seorang ibu baru yang masih lemah, dan bapak baru yang lelah.

Pernahkah kita bayangkan? Selesai dengan perjuangan fisik seorang ibu untuk melahirkan dan perjuangan batin seorang ayah selama proses persalinan. Merawat bayi merah adalah perjuangan lain yang harus dilakukan, wajib dimenangkan. Tidak boleh kalah, apapun dilakukan. Segalanya dipertaruhkan.

  • view 2.2 K