Sang Angin : Penantian Bersama Mentari Timur

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Februari 2016
Sang Angin : Penantian Bersama Mentari Timur

Pagi sudah bangun, bersiap memulai rutinitas hariannya. Mentari Timur telah menampakkan diri, siap mengawasi kerja kerja pagi.

Anak-anak desa tampak berjalan, beberapa bersepeda menuju sebuah bangunan yang berada di dekat area persawahan. Tidak, bangunan itu memang di area persawahan. Langkahku dan teman-temanku dari arah barat masih diiringi cerita. Seperti seringnya, aku menceritakan film yang aku tonton semalam, hingga begadang. Mereka sangat antusias mendengarkan, bahkan sepertinya mereka kagum. Entah dengan caraku bercerita, atau karena film-nya memang seru.

Sekitar dua puluh meter menuju gerbang bangunan sekolah menengah pertama itu.

Secara otomatis ruang pandangku yang sebelumnya dipenuhi wajah-wajah kawan seperjalanan, kemudian berubah. Di sana, yang ada adalah jalan kecil di tengah persawahan seberang sekolah. Jalan kecil itu menghubungkan jalan desa depan sekolah dengan perumahan warga yang terpisah oleh sawah. Jalan kecil itu kupandang lekat. Menanti dia.

Dan dia benar di sana!

Seorang anak laki-laki menggendong tas sekolah berwarna oranye terang. Ia berjalan ringan di antara kabut embun pagi persawahan yang mulai menguap. Sementara sinar pagi dari arah timur membuatnya seperti semburat siluet pagi hari, tetapi sosoknya sudah begitu aku kenali. Teman-temanku tidak tahu bahwa jantungku berdegub lebih cepat. Napasku mengalir lebih deras dari sebelumnya. Jikapun mereka tahu, biar saja mereka mengira itu sebagai akibat tak berhenti bercerita sejak dua kilometer yang lalu...

Tidak lama kemudian, dia berbelok, hingga kami berada pada jalan yang sama: jalan desa depan sekolah, dan pada tujuan yang sama: gerbang sekolah. Aku tidak tahu apakah dia melihatku atau tidak. Aku hanya tahu bahwa aku segera membuang pandanganku ke arah teman-temanku lagi yang masih setia di sampingku, mendengarkan ceritaku. Dan akhirnya, aku berbelok masuk ke sekolah. Aku yakin, dia berada beberapa meter di belakangku. Tentu saja.

Apa yang membuatku mulai menanti kemunculannya?di jalan kecil tengah sawah setiap pagi? Sejak kapan aku begitu memperhatikan, bahwa caranya membawa tas hampir selalu sama? Dia menggendong tas oranye itu hanya di bahu kanannya. Apakah sejak aku sering bertemu dengannya saat latihan Pramuka? Atau... saat kami sedang bersama dalam rapat OSIS? Ah, semua pertemuan itu belum lama dan belum banyak terjadi. Jumlahnya pun pasti kalah banyak dengan pertemuan kami di bawah sang mentari timur sebelum gerbang sekolah!

Aku tak ingat, tapi begitulah aku setiap pagi : menceritakan apapun pada teman-temanku selama dua kilometer, atau kami saling berbicara apa saja yang menurut kami cukup penting. Tugas rumah jarang termasuk dalam tema obrolan kami. Dia hanya sebagai pembuka untuk pertanyaan klasik berjawaban sudah atau belum, lalu berpeluang dengan pertanyaan lain berjawaban boleh atau tidak. Kadang, tugas rumah pun menjadi penting, jika itu adalah tugas kelompok.

Sekitar dua puluh meter mendekati gerbang sekolah, secara otomatis ruang pandangku dipenuhi oleh binar cahaya keemasan matahari timur, hamparan sawah, jalan kecil itu, dan angin pagi yang sejuk. Angin pagi ini hanya aku yang merasakannya, hanya aku! Tepat saat sosok anak laki-laki dengan tas oranye terang itu mucul.

Atau, angin pagiku padam, jika hingga memasuki gerbang sekolah aku tidak menemukan dia... Mungkin aku terlalu pagi, dia kesiangan, atau sebaliknya.?Tapi setiap hari, saat matahari timur menunjukkan dirinya, begitulah aku sendiri menanti sang angin pagi mengalir...

?

  • view 298