Sang Angin : Tiupan Prasasti

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Februari 2016
Sang Angin : Tiupan Prasasti

Aku ingin ucapkan banyak hal padamu, terutama tentang kisah kita yang kamu pasti tak tahu. Bahwa sinar mentari pagi pernah membantuku menemukan sosokmu di antara uap embun pagi dan rumpun benih padi. Bisik angin sering mengantar degub jantungku ke ruang hampa di antara kita. Bahkan, dinding dengan cat pucat, yang ringkih, lapuk, retak, pun pernah menyangga bahuku saat kamu melangkah di antara kicau sore.

Aku pikir aku harus berteriak, agar kamu menoleh! Karea berbisik lewat punggung manusia, hanya memberiku catatan kecil. Jejak pena dari jemarimu. Hmm, andai aku berteriak, hanya akan ada tawa gelak, sedangkan langkahmu tetap tegar berderak. Diam, adalah caraku berdoa di antara embun pagi, bantuan sinar mentari, bisik angin, dan dinding lapuk...

Kamu pasti tidak tahu, bahwa riuh melodi yang dikumandangkan manusia-manusia itu, kuharap sampai di lantai ruang hampa antara kita. Menjadi gema pengisi kesendiriannya.

Lalu waktu memisahkan sinar mentari dari embun pagi, merampas jejak-jejak langkahmu dari angin pengayun benih padi. Maka, mencari adalah harapan, obat, atau bahkan belenggu yang tanpa kusadari memenjarakan kepastian.

Saat padi mulai ranum, wahai kamu yang tertiup angin sore, seperti nelayan merengkuh pantai kembali setelah mengarung badai. Aku menemukanmu lagi, bukan di antara embun pagi. Bukan pula bersama sinar mentari pagi. Melainkan bersamaaroma asap dan terik siang hari. Namun kamu tetap sama, dengan kesejukan di sungging senyum embunmu.

Ruang hampa berubah, menjadi selembar kertas. Bukankah kita harus menulis kisah kita? Atau kamu inginkan kayu jati, agar ia terukir rapi? Akan kucari di tengah rimba masa. Atau kamu dambakan prasasti? Akan kucari batu pada aliran sungai, bahkan berlian hingga kedalaman samudera.

Padi sudah ranum, terik siang, asap, lembaran, bongkahan. Sempurna kamu genggam dalam impian-impian masa depan. Aku pun berlompatan berirama aliran jantung dan detak napas, bernyanyi dalam malam, menari menggoda khayalan/

Aku lupa, padi ranum harus dipanen, terik siang beralih petang, asap pun melahirkan serpihan abu, dan kertas terlanjur basah. Luntur, oleh air mata.

Waktu kemudian merampas siang, memisah teriknya dari aroma asap. Kini, malam menjelang.

Tidakkah kamu ingin kembali mengulang siang? Atau memulai dari pagi? Tidakkah kamu tahu aku menunggu?

Kamu diam, aku tidak ingin berteriak, angin enggan berbisik. Kertas basah yang terlalu pedih, luruh menjadi abu. Beserakan di lantai ruang hampa kita. Aku tidak ingin membersihkannya. Kamu? Jelas tidak, kamu bahkan tidak tahu.

Lalu malam turun. Aku bertemu rembulan yang ceritakan cahaya matahari dan mengajakku menunggu pagi merambat pelan, dalam renungan-renungan kisah bintang.

Senyum angin malam berhembus, membawamu ke ujung jendela kamarku. Giliran kamu, menemukanku yang terdiam di antara gempita gelap malam dan pekat kesunyian. Aku sedang mendengarkan bulan dan merenungi kisah bintang. Mengapa kamu datang sekarang?

Inilah potongan kisah kita. Akan kuselesaikan ketika bulan menutup ceritanya. Akan kubersihkan bubuk abu di ruang hampa kita, akan kuambil kayu jati dan batu permata untuk prasasti yang sekarang menjadi dambaanku sendiri.

Karena kamu akhirnya tahu, bagimu aku sudah mati. Tak lagi menyibak uap embun dan sinar mentari pagi. Aku diam, tenang mendengar rembulan, kisah bintang, dan keindahan malam...