(16) Sang Angin : Madu

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Mei 2016
(16) Sang Angin : Madu

Kami lomba di Sekolah Menengah Pertama 5 Purwokerto. Sekolah ini jelas tampak lebih mewah. Dan yang utama adalah bahwa sekolah ini memiliki gedung aula di bagian depan area sekolah, dan ia cukup besar hingga mampu menampung semua siswa perwakilan dari SMP-SMP di kabupaten ini beserta guru-guru pendampingnya dan tamu-tamu undangan lainnya. Perlombaan akan segera dimulai, dan setiap peserta lomba mata pelajaran akan dibagi ke dalam ruang-ruang terpisah.

Setelah acara pembukaan lomba, sambutan-sambutan, pembacaan tata tertib lomba, dan sebagainya, aku diantar Bu Yanti ke ruangan lomba Biologi. Letaknya tak jauh dari aula besar tadi. Sedangkan aku lihat Pak Sumar membawa Mbak Siti dan Mas Bimo lebih ke dalam area sekolah.

Waktu berlalu. Aku berusaha menahan diri untuk terus-menerus pura-pura berpikir, seolah akan menemukan jawaban dari soal-soal lomba yang tidak aku ketahui. Waktu mengerjakan akan segera habis. Aku sudah mengisi semua jawaban. Banyak yang aku tahu jawabannya. Tetapi lebih banyak lagi yang tidak. Aku menebar pandang mencari bendera putih, atau kamera tersembunyi di sudut-sudut ruangan. Tidak ada. Aku menemukan hal lain. Di depan ruang kelas yang digunakan untuk lomba ini ada sebuah meja. Di atasnya bertumpuk rapi kotak-kotak makanan konsumsi untuk peserta. Jika sudah selesai mengerjakan lomba, peserta boleh keluar dan mengambil satu kotak konsumsi yang menjadi haknya. Tidak mungkin ada bendera, apalagi kamera. Ya sudah, aku menunggu saja, sambil kembali membolak-balik soal. Membaca beberapa, mungkin tiba-tiba si jawaban melambai di sana.

“Ya! Waktunya sudah habis ya, silakan tinggalkan soal dan jawaban di atas meja dan tinggalkan ruangan. Jangan lupa ambil kotak makanannya ya,” seru Ibu pengawas berkaca mata itu dengan ramah.

Sebagian peserta segera merapikan lembaran-lembaran pekerjaan mereka. Aku juga melakukannya, seolah baru selesai mengerjakan juga. Kulihat beberapa siswa tampak gugup mengisi asal. Sang pengawas memperingakan kembali bahwa waktu sudah habis. Siswa-siswa gugup itu merapikan lembaran-lembarannya.

Aku maju saja, meninggalkan bendel tebal soal lomba dan jawaban di atas meja. Kulihat pengawas tersenyum ramah. Aku membalasnya, lalu mengambil satu kotak hakku. Aku keluar ruangan. Kulihat Bu Yanti sudah menanti.

Guru ramah itu segera merengkuh bahuku, “Gimana, Ra? Susah ya?” Aku tersenyum. Bu Yanti mengusap bahuku, lalu lanjutnya, “Ayo tunggu di bawah pohon sana,” Kami pun berjalan beriringan ke pohon di depan aula besar.

Bu Yanti menyarankanku untuk minum, lalu memakan konsumsi yang sudah kuambil. Saat minum, kulihat dari arah belakang aula, Pak Sumar dan dua orang kakak kelasku muncul. Mereka bergabung dengan kami. Kemudian, Pak Sumar dan Bu Yanti tampak bicara dengan senyum jenaka tentang materi yang diujikan. Sepertinya di luar dugaan keduanya.

“Tadi gimana, Ra?” Mbak Siti tiba-tiba mengajakku bicara. Kami oun mulai mengobrol tentang soal-soal yang sulit tadi. Aku bahkan sempat menanyakan jawaban dari soal-soal yang masih kuingat. Mas Bimo dan Mbak Siti mampu memberi jawaban beberapa di antaranya, beberapa lainnya tidak. Tiba-tiba Pak Sumar memanggil Mbak Siti. Mbak Siti menuju beliau.

Tinggal aku dan Mas Bimo. Aku memang sudah pernah berdua saja dengannya, tetapi kali ini terasa lebih ringan. Kami sama-sama tidak diganggu kegugupan akan lomba, karena lomba sudah berakhir. Aku yang gugup karena di dekatnya, tetapi rasa senang membuat semua terasa nyaman saja.

Mulai dari obrolan tentang soal lomba, menjalar entah ke mana. Yang aku ingat, mungkin karena bersifat pribadi dan membuatku merasa lebih dekat, kami saling bertukar arti nama masing-masing. Aku suka sekali dengan ekspresi wajah Mas Bimo saat mengatakan arti namanya: tersenyum. Ia menyertakan madu di sana._

  • view 53