(15) Sang Angin : Pagi Merah Jambu

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Mei 2016
(15) Sang Angin : Pagi Merah Jambu

"Sudah, nggak papa, semangat aja," Bu Yanti merengkuh bahuku, seolah tahu bahwa aku gugup. Lalu beliau mengajak kami semua berjalan lebih ke sebelah timur, tepat sampai di depan rumah makan ayam goreng yang terkenal itu.

"Ayo kita tunggu busnya,”

Kami menanti angkutan berwarna oranye yang akan membawa kami ke kota adminsitrasi kabupaten : Purwokerto. Bu Yanti dan Pak Sumar masih tertawa-tawa dengan kisah pagi ini yang sempat membuat bingung guru mata pelajaran dengan keberangkatanku.

“Untung kamu ke sini, Ra. Soalnya sekolah kan udah ndaftarin 3 siswa, jadi kalo tadi mau bawa 3 siswa, takutnya kamu beneran udah di sini. Kami tuh nunggu-nungguin kamu di sekolah, tapi karena udah jam 7, takut kesiangan sampai sana, jadi kami berangkat aja, mudah-mudahan kamu beneran udah di sini. Kalo kamu nggak di sini, sekolah ya cuma kirim wakil 2 orang buat 2 mata pelajaran. Untung bener kamu udah di sini, Ra,” Mbak Siti memulai obrolannya denganku dengan wajah ramahnya yang sejuk.

Gugupku menjadi lebih reda. Aku paham, dia memang pantas menjabat sebagai ketua PMR.

“Hehehe, iya, Mbak. Kemarin sodara aku yang kasih tau. Aku malah cuma baca-baca tadi malem, nggak tau juga materinya apa aja,”

“Nggak papa, Ra, yang penting maju dulu, hehehe, kami juga cuma baca-baca ya, Bim?” Mbak Siti menoleh pada Mas Bimo.

Aku sekilas memandang Mas Bimo yang menyimak obrolan dan menyetujui pernyataan Mbak Siti.

“Orang dikasih taunya juga kemarin siang, Ra, pas mau pulang sekolah,” Kata Mas Bimo, membuat debar jantungku bertambah lagi setelah tadi cukup mereda.

“Iya, Ra,” imbuh Mba Siti.

Aku mengangguk-angguk. Obrolan mungkin bisa berlanjut jika Bu Yanti dan Pak Sumar tidak memperingatkan kami bahwa bus yang kami tunggu datang. Bus berhenti, lalu kami naik satu per satu. Aku duduk bersama Mbak Siti, Pak Sumar dengan Mas Bimo, sedangkan Bu Yanti duduk dengan seorang ibu berkerudung hijau di belakangku dan Mbak Siti.

Bus melaju. Pak Sumar mulai membicarakan materi Matematika. Mbak Siti membuka tasnya, dan mengambil buku catatan Fisika. Aku tidak mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Bu Yanti dengan ibu berkerudung hijau di belakang, sepertinya tentang cuaca yang cerah pagi ini. Sementara, aku melirik lagi ke arah Pak Sumar dan Mas Bimo yang kursinya berseberangan denganku dan Mbak Siti. Ini sungguh kejutan, bahwa aku dan Mas Bimo bersama-sama menjadi wakil sekolah untuk lomba. Aku bisa seharian lagi bersamanya.

Aku memandang hamparan sawah di sebelah kanan jalan raya ini. Dalam diam, aku setuju dengan obrolan Bu Yanti di belakang tentang cuaca cerah. Tapi aku merasakan sesuatu yang lebih. Karena semilir angin pagi, terasa begitu segar melalui jendela-jendela bus ini. Sinar mentari yang hangat menyinari alunan deru bus oranye yang kian cepat. Dan Mas Bimo ada dalam bus yang sama denganku. Dia adalah bingkisan dari Tuhan yang dikirim dalam kotak hijau, berpita merah jambu dari dunia utara.

Ah, ingin aku katakan pada Bu Yanti dan ibu berkerudung hijau di sebelahnya, atau bahkan pada seisi bus beserta pak sopir dan kondekturnya bahwa, ini bukan hanya pagi yang cerah. Ini adalah pagi yang cerah, dengan kejutan yang indah.

  • view 80