(14) Sang Angin : Menguap Meleleh Membeku

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Mei 2016
(14) Sang Angin : Menguap Meleleh Membeku

“Owalah, kamu benar sudah di sini, ternyata, Ra! Kami tunggu-tunggu di sekolah, Bapak kira pesan Bapak kemarin tidak sampai,”

Aku nyengir, lalu menyalami tangan beliau.

Pak, kalau pesan Bapak tidak sampai, saya pastinya berangkat sekolah seperti biasanya. Dan, jika saya berangkat sekolah seperti biasa, apakah Bapak akan tetap membawa saya lomba?

Lalu, Mbak Siti, gadis hitam manis ketua PMR itu turun dari angkutan, tersenyum ramah padaku. Aku membalas senyumnya.

“Ini, Ra, hari ini ada lomba MIPA. Yang dilombakan itu Matematika, Fisika, dan Biologi, hehehe,” Pak Sumar tertawa sebelum melanjutkan kisahnya, “nah, surat undangannya sampai di sekolah itu kemarin siang. Pas anak-anak sudah pada pulang,” Pak Sumar masih terus bercerita, sementara dari sudut mata aku masih bisa melihat orang lain yang turun setelah Mbak Siti : Bu Yanti, Guru Biologi kelas 2.

“Jadi, sekolah mengirimkan tiga anak,” Aku masih menyimak Pak Sumar dan tetap menatap beliau.

Namun, setelah Bu Yanti turun, sudut pandanganku menangkap orang lain yang turun. Kata-kata Pak Sumar menguap bersama embun, mengudara, lepas tak terdengar telinga. Aku justeru dengan jelas mendengar ucapan terima kasih Bu Yanti saat membayar ongkos. Sementara fokus pandangan mataku langsung ke arah pintu angkutan.

Anak laki-laki dengan tas oranye itu menunduk dengan syahdu keluar dari angkutan. Semilir angin pagi seolah menerpa wajah dan gerakan tubuhnya, saat berjalan ke arahku. Arah kursi bambu, tentu saja. Lalu, aku tidak tahu apakah ini bayanganku, atau sungguh nyata adanya : dia sempat melihat ke arahku!

Oh Tuhan, mungkin sebenarnya ke kursi bambu. Lagi, bukan aku. Aku menjadi sedikit gusar pada si kursi bambu. Lain kali, dia tak boleh dekat-dekat aku.

“Waaah, alhamdulillaah, Ratih sudah di sini! Kami sudah untung-untungan nih berangkatnya, kalau Ratih nggak di sini, berarti berangkat bawa dua anak saja,” Ucap Bu Yanti terdengar senang dan lega.

Aku ter-hehe, lalu menyalami tangan Bu Yanti. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh pada Mbak Siti, terutama Mas Bimo. Kami saling tersenyum, tetapi tidak lama. Tidak, karena ibarat embun menguap karena panas matahari, aku justeru bisa meleleh karena pesona anak laki-laki ini...

“Iya, jadi nanti Siti maju untuk Fisika, Bimo yang Matematika, Ratih Biologinya. ‘Kan kemarin kata Bu Umi, Ratih sudah belajar Biologi,” sambung Pak Sumar, suaranya kembali jelas sekarang –di titik fokus konsenterasiku-.

Pak, memangnya Bu Umi tidak bercerita kalau saya belajar sampai sakit? Lagipula mengapa bukan Mas Bimo yang Biologi lagi? Mengapa juga saya yang masih kelas satu? Bu Umi memilih saya hanya karena melihat buku catatan saya, Pak. Itu tidak berarti saya jagoan Biologi, Pak. Saya belajar sampai sakit, Pak. Bu Umi tidak cerita, Pak? Pak?

Seperti embun juga, pertanyaan-pertanyaan itu menguap padahal masih di otak. Mulut dan lidahku membeku tak berucap, aku mengangguk-angguk saja bak paham dengan mantap.

Sebelumnya aku sibuk bertanya-tanya akan kebenaran informasi ini. Kemudian lega karena benar, aku tidak dikerjai oleh Mas Atno. Ternyata, memang benar : anak laki-laki usil itu bisa jadi pembawa kejutan menyenangkan.

Namun, aku menjadi sibuk lagi. Sibuk dalam gugup dan kata-kata yang membeku : aku akan lomba! Aku bersama Mas Bimo!_

  • view 62