(13) Sang Angin : Balada Angkutan Hijau

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Mei 2016
(13) Sang Angin : Balada Angkutan Hijau

Pagi setelah kabar mendadak tentang lomba Biologi.

Aku sudah tiba di perempatan jalan raya Margasana. Embun masih enggan meninggalkan tatar udara, bahkan masih menempel pada kursi tunggu penumpang bis di sana. Burung bersiulan memanggil mentari. Roda sepeda motor usang saudaraku sudah bergulir di atas aspal berlubang-lubang. Selesai mengantarku, ia kembali pulang. Ada jejak-jejak suka cita bangga di sana, ada pula bisikan segala nasihat. Ah, aku tidak menikmati embun menguap dari kursi bambu itu. Sejak jam enam, aku sudah berada di sana. Merapal segala doa yang bisa kuingat, menghitung dan mengira-ngira kebenaran. Apakah aku sedang mengundi sesuatu yang bukan ilmu pasti? Atau sekedar mempercayai ucapan dari anak laki-laki jujur yang adalah sepupuku sendiri?

Aku duduk di bangku bambu, di samping sebuah tiang besi tinggi penyangga papan besar dengan tulisan nama menu olahan ayam Margasana yang terkenal. Tulisan reklame sponsor di papan itu juga terpampang nyata : merk sebuah bumbu penyedap vetsin yang sudah melegenda lezatnya.

Kursi bambu ini khusus untuk calon penumpang bus ke arah timur : Sampang atau Purwokerto. Jalan Margasana memang sudah sejak lama menjadi penghubung nama-nama kota populer sepanjang jalur mudik dari Jakarta. Kalau sedang arus mudik, kendaraan begitu ramai, bahkan bisa macet. Tetapi, pagi ini masih jauh dari idul fitri. Kendaraan yang lewat hanya angkutan umum yang sesak oleh anak-anak sekolah berseragam putih abu-abu dan motor-motor pedagang yang hendak pergi ke pasar. Beberapa truk pembawa singkong dari arah utara juga ikut serta meramaikan jalanan pagi Margasana.

Aku bisa saja menghitung sebelas dua belas kendaraan yang lewat, tetapi menghitung waktu yang berjalan terasa lebih berat. Jam merangkak cepat, sementara Pak Sumar belum juga terlihat. Sinar matahari yang tadi redup mulai menghangat. Sekarang, pukul tujuh lebih seperempat.

Asem!

Apakah aku termakan ulah iseng Mas Atno dan kepolosan Mas Toro? Mungkin sebaiknya aku menyeberang ke toko kelontong di pojok perempatan itu, lalu naik angkutan desa ke arah utara : hendak ke sekolah saja. Ini sudah mulai jam pelajaran, dan aku duduk di perempatan jalan? Dengan memakai seragam? Siswi macam apaan?!!

Aku akan mengamuk pada dua manusia iseng itu. Tega sekali mereka mengerjai aku sampai begini! Atau sebaiknya aku sedikit bersabar, menunggu sedikit lagi. Rasanya tidak mungkin juga Mas Toro dan Mas Atno membohongi aku sampai ke sini. Mungkin, Pak Sumar sedang dalam perjalanan.

Sebelumnya, angkutan hijau dari mana pun tampak biasa. Lewat satu, tak akan jadi soal apa, aku bisa menanti yang berikutnya. Andai tidak dapat pun, aku mungkin bisa berjalan kaki saja jika menanti angkutan hijau terlalu lama. Tetapi, pagi ini rasanya ia menjadi begitu berharga. Setiap kehadirannya, kuperhatikan pintunya, siapa yang turun dari dalam sana.

Dan, akhirnya salah satu angkutan hijau itu berhenti tak jauh dari kursi panjang bambu tempat aku duduk.

Pria dengan rambut beruban itu memang selalu tampak tersenyum saat diam. Apalagi saat tersenyum sungguhan, sungguh menawan. Aku yakin, saat muda beliau jadi pujaan. -apa ini?!- Pria pengajar matematika yang penyabar, dan tidak pernah tampak gusar –aku belum melihatnya-. Seperti biasa, senyum beliau senantiasa menampakkan jajaran gigi rapi nan putih berkilau.

Pak Sumar turun dari angkutan, tentu saja sambil tersenyum memandangku. Jujur, itu sungguh melegakan._

  • view 61