(12) Sang Angin : Logika

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 April 2016
(12) Sang Angin : Logika

“Nggak, sama anak kelas 2A,”

Wajah China Mas Toro menjadi begitu menyenangkan setelah menelan makanan itu. Lebih tepatnya, setelah dia selesai mengucapkan nama kelas itu. Aku hampir tersenyum sumringah, tetapi Mas Toro masih menghadapku. Dia bisa tahu kalau aku tiba-tiba tersenyum.

“Oh, kelas 2A,” jawabku biasa saja. Pura-pura.

Aku mungkin tidak bisa menikmati hari-hari belajar bersama Mas Bimo sepuas hati. Aku mungkin tidak jadi mewakili sekolah untuk lomba Biologi beberapa minggu yang lalu. Aku mungkin juga belum sempat belajar lebih jauh lagi. Kemungkinan-kemungkinan yang pahit menyakitkan hati.

Tetapi, sekarang kata "mungkin" menjadi terdengar demikian manis. Mungkin aku akan mengulang semua itu dengan lebih manis. Iya. Aku tidak ingin menebak berapa perbandingan kemungkinan manis ini dengan kemungkinan pahitnya. Bahkan, aku cukup percaya diri dengan kemungkinan manisnya. Katakan saja, ini perasaan yang kuat.

Sekolah bisa saja mengirim lebih dari satu perwakilan. Dengan demikian, jika si A tidak menang, mungkin si B yang mendapat keberuntungan. Atau, jika kita tidak sedang bicara kejuaraan, mengirim lebih dari satu wakil akan memungkinkan lebih dari satu siswa juga yang mendapat pengalaman ikut lomba. Ini semua tentang sebuah kemungkinan, peluang.

Nah, untuk alasan yang pertama, sekolah akan mengirim aku dan Mas Bimo untuk lomba Biologi besok. Siapa lagi? Mas Bimo sudah pernah ikut lomba, aku sudah pernah belajar! Sedikit memang, tetapi lumayan juga : sampai sakit.

Jika nanti Mas Bimo sudah naik ke kelas 3, atau tidak bisa diikutkan lagi pada lomba-lomba, aku menjadi pengganti yang cukup terlatih sejak dini. Lepaskan sejenak bayang-bayang bersama Mas Bimo, bayangan menjadi wakil sekolah untuk lomba-lomba mendatang juga menggiurkan, bukan?

“Iya, itu loh, yang ketua PMR,”

JEGGEERRR!!

Di antara bayangan manis yang mengalir, tiba-tiba Mas Toro berucap demikian, lalu menyuapkan nasi dan tumis kangkung ke mulutnya. Wajahnya begitu polos dan jujur saat mengucapkannya, sehingga dalam sepersekian detik aku ingin memaksa supaya dia bohong saja!

Bukan! Bukan ketua PMR! Melainkan Mas Bimo! Aku ingin Mas Toro mengatakan itu dengan jelas. Kalau perlu, isi mulutnya aku keluarkan dulu! Lagipula, yang aku tahu, ketua PMR itu anak emas Bu Nur, Guru Fisika! Dia jagoan Fisika! Bukan Biologi!

“Ketua PMR?” Tanyaku berusaha tampak heran saja, bukan kecewa.

“Iya,” Mas Toro mengunyah makan siangnya.

Bilangan bulir harapan menyamar menjadi perkiraan. Itu belum begitu bahaya, sampai gumpalan-gumpalan perkiraan bersatu padu, menjelma dirinya sebagai premis-premis logika. Premis pertama bahwa aku pernah diminta belajar untuk lomba Biologi, lalu premis kedua bahwa Mas Bimo juga mengalami hal yang sama. Jadi, silogisme ini seharusnya benar bahwa aku dan Mas Bimo yang akan berangkat lomba menjadi perwakilan sekolah! Di bagian mana salahnya?

Tentu saja, salah! Dengan terlalu percaya pada perkiraan, aku berhasil meyakinkan diri bahwa itu semua adalah logika, kebenaran sahih yang tak terbantahkan jua. Padahal nyatanya, hanya harapanku semata... Harapan saja.

Ah, perkiraan. Harapan. Perasaan. Bukan Biologi. Bukan ilmu pasti. Begitulah saat kau termakan perkiraan yang menuruti harapanmu saja. Perasaan yang tidak pasti mengalahkan pola pikir sehingga membangun paksa alur-alur premis logika yang dibenar-benarkan. Hasilnya adalah silogisme palsu, yang hanya menuruti keinginan-keinginan : napsu.

Lalu, aku pulang meninggalkan Mas Toro makan. Aku bahkan tak menyapa uwak ketika berhadapan.

Aku jalan. Tertunduk. Diam._

  • view 101