(11) Sang Angin : Mendadak Biologi Lagi (?)

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 April 2016
(11) Sang Angin : Mendadak Biologi Lagi (?)

Siang panas.

Baru sampai di rumah, seorang kakak kelas yang rumahnya bertetanggaan denganku, mampir mencariku. Aku sudah berganti pakaian, bersiap akan makan. Sedangkan anak laki-laki hitam manis itu berdiri di halaman rumah, memanggilku dengan semangat.

“Raaaa!”

Aku membuka pintu depan.

“Ra, tadi aku dititipin pesen sama Pak Sumar, katanya kamu disuruh belajar Biologi. Besok ikut lomba ke Purwokerto. Jadi kamu besok nunggu aja di Margasana jam setengah tujuh,”

Mas Atno terkenal sebagai pribadi yang nyentrik. Humoris, ceria, lucu, dan memiliki sejuta ide untuk berbuat usil. Menyenangkan, memang. Tetapi ini membuatku sulit untuk menelan ucapannya itu bulat-bulat.

“Bohong lah, Mas!”

“Beneran, Ra. Kalo nggak percaya tanya aja Toro. Tadi pas aku dipanggil, ada Toro juga. Paling juga nanti dia kasih tahu kamu,”

Aku masih diam, belum percaya. Aku memperhatikan raut mukanya. Percuma. Bocah hitam manis ini pintar berpura-pura, itulah mengapa dia selalu berhasil menjalankan ide-idenya.

“Sumpah lah, yakin, Ra, aku nggak bohong. Sana tanya Toro. Lagian kalo bohong masa’ bawa-bawa nama guru? Sori, yah!” ucapnya lagi mencoba meyakinkan, sambil bersiap pergi dari halaman rumahku. Ia hendak melanjutkan perjalanannya pulang. Tatapannya seperti seorang calon pembeli yang menggertak akan pergi jika harga tawarannya tidak disetujui penjual.

Aku bukan penjual apapun.

“Ya udah, nanti aku tanya Mas Toro,”

“Wokeh!” teriak Mas Atno sambil berlalu, kemudian bersiul-siul menggoda angin.

Kabar mendadak untuk belajar Biologi ini menguapkan napsu makanku. Aku bergegas keluar, menuju rumah uwak untuk menemui sepupuku, Mas Toro.

“Uwak, Mas Toro di mana?”

“Lagi makan, di dalam,” jawab uwak-ku sambil sibuk merapikan es lilin di dalam termos di warungnya.

Aku masuk ke dalam rumah uwak, terus ke belakang karena aku tidak menemukan Mas Toro di ruang depan maupun ruang makan.

Mas Toro ini berbeda dengan keturunan kakekku yang lainnya, cucu satu ini berwajah seperti orang Cina. Matanya sipit dan bibirnya merah muda. Keberuntungan lainnya adalah bahwa dia berkulit kuning langsat, sedang aku bahkan agak jauh dari kata cokelat. Hitam, mungkin lebih dekat. Curhat.

Dia sedang berjongkok di pintu dapur. Seragam putih biru masih melekat di badannya. Ada piring di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sibuk menyuap dan sesekali menyebar nasi ke arah kerumunan ayam dan anak-anaknya. Mereka ikut makan bersama sang majikan yang penyayang binatang.

“Mas Toro,”

Ia menoleh dengan mulut penuh nasi. Wajahnya yang bersih dan mata sipit berpadu pipi gemuk itu membuat wajah Cina-nya semakin kentara.

“Kata Mas Atno, Mas dititipi pesen sama Pak Sumar?”

“Oh, iya! Tadi Pak Sumar nyariin kamu, tapi kan anak-anak kelas satu udah pulang. Kamu disuruh belajar Biologi, besok ada lomba ke Purwokerto. Kamu besok tunggu di Margasana jam setengah tujuh. Nanti Pak Sumar dateng anter kamu ke Purwokerto,”

Aku menatap dan mendengar setiap kata Mas Toro.

“Pake baju apa?”

“Biru putih, Ra,”

Entah bagaimana, aku mempercayai informasi ini. Lagipula Mas Toro adalah anak yang jujur, tak mungkin rasanya dia bersekongkol nakal dengan Mas Atno. Andaipun iya, maka Mas Atno berhasil memperdaya aku dengan terlebih dahulu memperdaya sepupuku yang baik itu!

“Tadi yang dipanggil sebenernya Atno, tapi pas Atno lagi sama aku,” Karena sisi nyentrik, supel, dan humorisnya, Mas Atno lebih dikenal para guru daripada sepupuku.

Untuk sementara, informasi ini benar. Lalu kabar mendadak ini secara biologis memunculkan kemungkinan-kemungkinan logis dalam pikiranku. Tak mungkin aku sendiri. Lagipula, aku belum berpengalaman untuk lomba Biologi. Seseorang yang sudah berpengalaman seharusnya juga diikutkan : Mas Bimo.

“Aku aja Mas?” Tanyaku berharap.

Mas Toro menelan makanan di mulutnya, lalu menjawab, “Nggak, sama anak kelas 2A,”_

Ada speaker di dalam dadaku, memperbesar volume detak jantungku.

  • view 78