(9) Sang Angin : Meliuk Lepas

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 April 2016
(9) Sang Angin : Meliuk Lepas

Pagi ini, aku hanya menaruh tasku di kelas, lalu segera ke perpustakaan. Detik, menit... Mas Bimo belum juga muncul. Aku mulai merasa tidak menentu. Membolak-balik lembaran buku paket cetak Biologi, tetapi tidak benar-benar membacanya. Hingga bel masuk berbunyi,

Lalu sebuah salam terucap dari arah pintu perpustakaan : Mas Bimo. Aku menoleh, menjawab salamnya.

“Wah, Ratih udah di sini,”

Apa aku terlalu bersemangat? Aku tersenyum, tanpa pembelaan apapun. Kalah. Senyumnya kembali memenangkan hatiku, diriku.

Dia masuk, lalu duduk di sebelahku.

“Baca apa, Ra? Aku cuma bawa buku paket cetak, LKS, sama buku catetan,“

“Sama, Mas,”

Lalu kami membaca buku cetak Biologi masing-masing, sampai Bu Umi masuk dengan senyum sumringah cantiknya. Beliau memberikan beberapa kalimat basa-basi, motivasi, lalu karena harus mengajar, beliau memberi kami beberapa bendel ujian Biologi. Kami diminta latihan mengisinya, dan boleh mencari jawabannya di buku. Sekalian membaca dan latihan, begitu kata beliau. Nanti setelah mengajar, beliau akan memeriksa hasilnya.

Bagitulah. Seharian mengejar materi Biologi di sekolah. Di rumah malamnya, aku mengejar materi di kelas. Yanti, teman semejaku di kelas, selalu siap sedia dengan catatannya. Aku meminjam buku Yanti, menyalin, membaca ulang, dan mencoba memahami sendiri. Kupikir, memiliki teman semeja yang tulisannya begitu nyaman dibaca, adalah sebuah anugerah juga.

Aku menikmati semua ini. Pada awal-awal materi, ternyata di kelas 2 masih dipelajari Biologi tumbuhan! Terlalu cepat aku mencoba mengartikan manusia dan metabolisme perasaan-perasaan, padahal macam-macam gerak alami tumbuhan juga begitu menawan.

Selalu kupikir sederhana, bahwa tumbuhan selalu tumbuh mengejar arah datangnya cahaya. Tetapi ternyata semua ada prosesnya, ada kronologis indahnya. Bahwa dalam tubuhnya, tumbuhan menyimpan hormon pertumbuhan. Hormon itu bekerja jika terkena cahaya saja. Itulah mengapa ia berkumpul pada bagian-bagian tumbuhan yang terkena sentuhan sinar surya. Jadilah, hanya bagian tubuh yang tumbuh, seolah mengejar sari cahaya.

Apakah ada hormon tertentu juga dalam tubuhku, sehingga aku tertarik pada pendar pesona Mas Bimo?

Dan banyak gerak-gerak lain, seperti putri malu yang terkatup saat disentuh. Lalu bunga pukul empat yang mekar pada pukul empat sore. Ada apa dengan pukul empat sore? Cahayanya? Suhunya? Ah, selain keinginan mengenal Mas Bimo lebih dekat, ternyata keajaiban tumbuhan pun begitu menggoda, hingga aku lupa : sudah lewat tengah malam...

Waktu bergulir begitu menyenangkan, terlalu menyenangkan. Dunia pelik hewan dan tumbuhan tak mengalahkan napsu makan, memang, tetapi terlalu banyak yang harus kumasukkan ke dalam otak. Terlalu banyak yang aku inginkan. Dan malam itu, sepulang dari warung uwak (panggilan untuk kakak bapak atau ibu di daerah Banyumas), hujan mendadak turun. Sementara aku masih di depan warung uwak. Kemudian aku berlari pulang. Beliau berteriak agar aku menggunakan payung. Tetapi aku berlari menerjang hujan. Toh, jarak rumah kami tidak terlalu berjauhan.

Kakiku berlari, tetapi hatiku menari. Rintik hujan begitu menggoda, seperti dendang remaja. Riuhnya menggelitik telingaku, dinginnya menyusup bagai mafia ke dalam tubuhku. Hujan tak selamanya tentang air jatuh, udara dingin, tubuh yang kuyup. Tetapi juga tentang hati yang jatuh, perasaan yang sejuk, dan kuyupnya harapan karena kesempatan. Debar jantung dan deru napas tak jadi apapun, kecuali sebuah senyum : bayangan bahwa esok datang kembali dan aku bersama dia lagi.

Sudah pagi.

Hal pertama, adalah bahwa rasanya begitu sulit membuka mata. Aku mendongak, tetapi kepalaku begitu berat, sementara badanku menggigil hebat. Badanku panas, mataku panas. Sejak hari itu hingga beberapa hari ke depan, aku tidak masuk sekolah. Tidak ada belajar bersama dengan Mas Bimo, tidak ada hembusan angin sejuk di perpustakaan. Angin itu menjadi dingin, dan sedang meliuk dalam tubuhku, sama kuatnya dengan rasaku ingin segera (bertemu Mas Bimo di sekolah) masuk sekolah. Tentu saja, kesempatan untuk kompetisi mewakili sekolah pada saat itu pun lepas. Saat itu._

  • view 74