(5) Sang Angin : Anomali

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 April 2016
(5) Sang Angin : Anomali

Bel masuk sudah berbunyi.

Jam pelajaran pertama hari itu adalah Fisika. Kami masih mempelajari sifat-sifat zat. Padat, cair, dan gas. Bu Nur mungkin akan menjelaskan pemuaian benda padat seperti beberapa macam logam yang dipanaskan. Aku sendiri lebih penasaran mengenai anomali air yang aku baca semalam. Bayangkan saja, bagaimana mungkin air akan menyusut pada saat dipanaskan dari suhu 0 sampai 4 derajat Celcius, tetapi memuai justeru ketika didinginkan dari suhu 4 sampai 0 derajat Celcius. Nah!

“Ra, kamu diminta menemui Bu Umi di perpustakaan, sekalian mampir ke kelas 2A ya,” demikian kalimat yang muncul dari Bu Nur setelah kami berdoa dan mengucap salam bersama. Anomali terjadi di cairan dalam otakku secara tiba-tiba.

Bukan, ini bukan tentang anomali air di dalam otakku. Ini tentang anomali yang lain. Sesuatu yang tidak biasanya. Bu Nur menyampaikan pesan agar aku menemui Bu Umi pagi itu. Di perpustakaan. Baiklah. Dan aku diminta untuk mampir... Tunggu, ke mana? Untuk apa? Apa aku tidak salah dengar? Apakah ada anomali pada telingaku dan suhu pagi yang cerah ini? Aku diminta mampir ke kelas 2A! Kelas si anak laki-laki bertas oranye! Aku harus memanggilnya untuk ikut serta menemui Bu Umi!

Sebentar...

“Nanti kalian langsung ke perpus saja, tunggu Bu Umi,” lanjut Bu Nur kemudian.

Selesai.

Aku belum menjawab, padahal otakku sudah memerintahkan mulut untuk berkata, tapi malah mataku yang bekerja : terpana. Namun sepersekian detik kemudian, aku bisa menguasai diri. Aku mengucapkan terima kasih, lalu segera bangun dari tempat duduk. Aku diam sambil mulai berjalan, tetapi aku melihat sekilas bahwa Yanti, teman semejaku, menatap aku lekat-lekat.

Keluar dari ruang kelasku, aku menyusuri lorong kelas 1A dan 1B, lalu menyeberang ke gedung sebelah di mana ruang kelas 2A berada.

Sebelas, dua belas, ... langkah kaki ini lebih mudah untuk dihitung daripada detak jantung yang meningkat kecepatannya.

Ada apa aku dipanggil Bu Umi? Apakah karena ada yang salah dengan catatanku kemarin? Tunggu, memang apa yang kutulis di sana? Bukankah materi pelajaran saja? Pertanyaan-pertanyaan ini cukup membantu meredakan kegugupanku karena akan bertemu dengan dia. Sederhana, dengan menambah kegugupan yang lainnya. Gugup dipanggil guru dengan alasan yang aku belum tahu.

Pintu kelas 2A sudah di depan mata.

Tok... Tok... Tok...

Semua makhluk di kelas 2A menoleh, termasuk Bu Wiyati yang sedang mengajar seni musik. Aku tidak peduli apakah ada makhluk lainnya. Saat itu, setiap anak memegang alat musik, sepertinya. Yang segera tertangkap oleh mataku dengan jelas adalah dia, memegang sebuah gitar. Dengan segala alasan-alasan anomali, ketampanannya meningkat sekian derajat! Bagaimana jika dia menyanyikan lagu untukku dengan gitar itu di tangannya?

“Ibu, maaf saya diminta Bu Nur untuk memanggil Mas Bimo menemui Bu Umi,” ucapku sesopan mungkin, sespontan mungkin.

Di saat yang sama, aku merasa dahiku mulai basah. Anomali cairan keringat-kah ini?_

  • view 87