(4) Sang Angin : Mentari Timur

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 April 2016
(4) Sang Angin : Mentari Timur

Ruang pandang kini dipenuhi binar cahaya emas mentari timur, hamparan sawah, jalan tengah, dan sejuk udara pagi lebih terasa menyusup ke paru-paru. Paduan sempurna bersama embun tipis yang melayang meninggalkan ujung-ujung dedaunan.

Di jalan itu, dia muncul setiap pagi!

Seorang anak laki-laki menggendong tas sekolah berwarna oranye terang. Ia berjalan ringan di antara kabut embun pagi. Sementara, sinar emas mentari timur itu membuatnya seperti semburat siluet pagi. Tetapi, sosoknya sudah begitu aku kenali. Dari jarak sekian saja, kecepatan tebakanku tidak akan meleset untuk mengetahui bahwa itu adalah dia!

Teman-temanku tidak tahu, bahwa detak jantungku berdegub lebih cepat. Napasku mengalir lebih deras. Jikapun mereka tahu, biar saja mereka mengira itu sebagai akibat dari tidak berhenti bercerita sejak dua kilometer yang lalu.

Tidak lama kemudian, anak laki-laki dengan tas oranye terang itu berbelok, hingga kami berada pada jalan yang sama : jalan desa depan sekolah, menuju tempat yang sama : sekolah tercinta nan permai di tengah sawah. Dan di sinilah jalan kecil itu membuktikan dirinya sebagai penghubung antara anak warga dan pelita pengetahuan, juga antara aku dan keinginan pagiku.

Apa yang membuatku mulai menanti kemunculannya di jalan kecil tengah sawah itu? Sejak kapan aku begitu memperhatikan caranya membawa tas oranye terang itu? Pertemuanku langsung dengannya masih bisa dihitung dengan jari. Ah, tetapi mentari timur menjadi saksi, pertemuan lainnya di setiap pagi tentu saja lebih banyak lagi!

Aku tidak tahu, di setiap pertemuan pagi itu apakah dia melihatku. Memandangnya dari jauh memang menyenangkan, tetapi semakin dekat, semua terasa menegangkan! Jadi bagaimana aku bisa menebak jika tatap matanya adalah untukku?

Maka, aku kembalikan ruang pandangku pada wajah-wajah antusias teman-temanku, mengalirkan lagi cerita seru. Hingga akhirnya, kami memasuki gerbang sekolah. Aku yakin dia berada beberapa meter di belakangku. Lalu aku sadari, begitulah pentingnya kerja kaca spion : melihat apapun yang ada di belakang kita.

Dan untuk alasan yang sama dengan sedikit kegilaan, aku ingin memiliki kaca spion, sekarang juga!_

  • view 92