(3) Sang Angin : Jalan Tengah

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 April 2016
(3) Sang Angin : Jalan Tengah

Pagi sudah bangun, bersiap memulai rutinitas harian. Mentari timur telah menampakkan diri, siap mengawasi kerja pagi.

Di pangkal jalan, anak-anak desa mulai membelah uap embun demi janji akan ilmu pengetahuan. Beberapa berdendang pada kayuhan sepeda, yang lain berjalan melagu langkah-langkah ceria. Dan bangunan itu bisa terlihat di antara balut kabut : area sekolah di antara hijau sawah.

Seperti seringnya, aku menceritakan film yang aku tonton semalam, hingga begadang. Begitulah, di saat yang lain sudah berangkat ke pulau kasur, aku masih menatap televisi dan terpekur. Menonton film menjadi hobi yang kulakukan setelah atau kadang sambil belajar. Jika ada manfaat yang bisa diambil sebagai ganti kerugian waktu istirahat yang berkurang, itu adalah bahwa sedikit logat bule pada film-film itu memberiku bantuan untuk memahami Bahasa Negeri Ratu Elizabeth lebih baik. Alibi.

Dan seperti selalunya, teman-temanku begitu antusias mendengarkan saat aku bercerita. Entah karena caraku bercerita yang menggebu-gebu, atau karena memang cerita film-nya yang bagus, aku tidak tahu. Karena, apa lagi yang dibicarakan bocah sekolah selain topik tugas sekolah? Bahkan, tentang anak laki-laki lain yang dipuja pun tak seenaknya  diumbar. Pembicaraan topik laki-laki pujaan harus dilakukan dengan teman tertentu : karena malu. Kadang sinetron menjadi topik pilihan memang. Saat itu yang sedang hangatnya adalah perjalanan hidup gadis lugu di rumah mertuanya yang galak, sementara suaminya meninggal karena kecelakaan.

Sekitar seratus meter menuju gerbang sekolah menengah di tengah sawah...

Tidak perlu hitungan sudut dalam matematika, atau bilangan gaya fisika yang besar. Ruang pandangku yang sebelumnya dipenuhi wajah-wajah berpendar kagum kawan seperjalanan, kemudian berubah. Di sana, ada jalan kecil yang juga di tengah sawah, terletak di seberang sekolah. Jalan kecil itu menghubungkan jalan desa depan sekolah dengan perumahan warga yang terpisah oleh sawah.

Jalan itu, dalam ranah hapalan biologiku telah masuk ke dalam populasi titik refleks yang selalu menarik mata. Jika dikira-kira dengan rumus-rumus himpunan, ia pun sudah menjadi elemen yang tidak bisa aku jelaskan dari semesta hal-hal penting dalam ingatan. Atau, jalan itu diam-diam menjadi penghubung juga, konjungsi untukku dan sebuah keinginan tersimpan setiap pagi._

  • view 69