(2) Sang Angin: Prasasti (Separuh - 2)

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 April 2016
(2) Sang Angin: Prasasti (Separuh - 2)

Keindahan bisa segera sirna.

Saat terik siang, asap, lembaran sibuk, kata-kata menguap di kursi-kursi bioskop, dendang roman sumbang pada karaoke lagu-lagu cinta, rasa sejuta tertelan bersama helai-helai cah kangkung, rumah makan bintang lima.

Sunyi meledak di antara himpintan-himpitan yang tersimpan. Saling melontar, membebaskan diri, memberontak pada impian. Hingga lupa, padi harus dipanen, karena siang telah beralih petang. Bunga-bunga layu tak tersiram, angkasa berhujan bola-bola api pembakar emosi, sesak di udara, dan permadani meluruh serpihan abu. Lukisan surga luntur tersentuh air mata menggenang.

Kini, malam menjelang...

Aku bertanya bersama  tangkai bakung terkulai... Kita belum bertemu hujan, belum berkenalan dengan badai, tetapi apakah terik ini begitu mudah memanggang hati? Tidakkah kamu ingin menanti November? Memberi kesempatan pada bakung untuk mencoba mekar lagi. Tidakkah kamu ingin mengulang siang? Atau tidakkah kamu ingin memulai kembali dari pagi? Tidakkah kamu tahu, aku menunggu... Lagi?

Tetapi air mata, selamanya tidak bisa menjadi hujan November. Bakung, layu dan mati perlahan walau terik sudah menghilang...

Kamu diam. Hilang. Dan lidahku membeku, kelam. Sampah permadani, aroma asap, debu-debu angkasa : berserakan di lantai taman layu antara kita. Aku tidak ingin membersihkannya. Mungkin hujan masa akan menyapu segalanya, mungkin badai waktu yang akan memusnahkannya. Mungkin, kau pun tidak mengetahuinya.

Malam turun. Aku bertemu rembulan yang ceritakan cahaya matahari dan mengajakku menunggu pagi merambat pelan, dalam renungan bintang-bintang. Senyum angin malam berhembus, menjanjikan kapal tangguh penentang badai. Namun gerimis datang, bersama mu memercik kenangan di jendela yang tak pernah aku tutup. Giliranmu, menemukanku di antara semerbak malam, semarak kesunyian. Aku sedang mendengarkan dongeng bulan dan merenungi kisah bintang, mengapa kamu datang sekarang?

Inilah potongan kisah kita. Akan kuselesaikan ketika bulan menutup cerita. Aku sadar, mungkin sebelum badai datang, aku sendiri yang harus membersihkan ruang antara kita : menyambut kapal penentang badai. Tetapi, tetap akan kucari kayu jati, batu sabak, bahkan berlian untuk prasasti yang sekarang menjadi dambaanku seorang._

  • view 79