(1) Sang Angin : Prasasti (Separuh - 1)

Bina Raharja
Karya Bina Raharja Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 April 2016
(1) Sang Angin : Prasasti (Separuh - 1)

Aku ingin ucapkan banyak hal padamu, tentang mimpi-mimpi, kenyataan, terutama kisah kita yang kamu pasti tidak sepenuhnya tahu. Bahwa sinar mentari pagi pernah membantuku menemukan sosokmu di antara uap embun pagi dan rumpun benih padi. Bahkan, dinding pucat nan ringkih, lapuk, retak, pun pernah menyangga bahuku saat kamu melangkah di antara kicau sore.

Aku pikir aku harus berteriak, agar kamu  menoleh! Karena berbisik lewat punggung manusia, hanya memberiku catatan kecil : Jejak pena jemarimu. Andai pun aku berteriak, mungkin hanya akan ada tawa tergelak? Atau wajah terdongak, mata heran terbelalak. Sedangkan langkah-langkahmu kudengar tetap jauh berderak.

Diam, adalah caraku berdoa di antara embun turun, bantuan sinar mentari, bisik angin, dan dinding pucat.

Kamu pasti tidak tahu, bahwa riuh melodi yang dikumandangkan manusia-manusia polos itu, kuharap sampai pada lantai ruang hampa antara kita, yang dingin lama. Biar ada sedikit gema yang berbisik mengisi kesendiriannya.

Lalu waktu memisahkan sinar mentari dari embun pagi, merampas jejak-jejak langkahmu dari angin pengayun benih padi. Tak peduli tangan pedih kusibak rumpun padi, memuaskan rasa ingin tahu dengan jawaban-jawaban semu. Namun, aku menikmatinya, seperti penawar bisa harapan. Atau diam-diam ia menjelma belenggu yang tanpa kusadari memenjarakan kepastian.

Saat padi mulai ranum, wahai kamu yang tertiup angin sore, bagai nelayan merengkuh pantai setelah mengarung badai. Aku menemukanmu lagi, namun bukan di antara embun pagi. Bukan pula bersama sinar mentari. Melainkan aroma asap dan terik siang hari. Dan kamu tetap sama, dengan kesejukan di sungging senyum madu rimba legenda.

Ruang hampa menjadi semarak. Tanahnya adalah taman bunga sejuta warna, langitnya melengkung lukisan angkasa, sementara udara menyerbak manis wewangian surga, lalu dindingnya merupa sutra-sutra permadani negeri seribu satu masa.

Bukankah kita harus menuliskan kisah kita pada kertas warna-warni? Apakah kau inginkan kayu jati, agar ia terukir rapi? Baik, akan kucari di tengah belantara asmara. Atau kau dambakan prasasti? Baik, akan kucari batu sabak pada aliran suci Gangga. Bahkan jika kau pinta batu berlian, akan kuselam Gangga hingga kedalaman samudera!

Sempurna, kita genggam impian-impian masa depan, atau... Mungkin aku saja. Hingga aku berlompatan seirama hembusan jantung, detak napas, bernyanyi dalam malam, menari menggoda khayalan. Dan, sepasang sepatu menyulapku : Cinderella dimabuk asmara, yang lupa bahwa lonceng tengah malam bisa tiba-tiba menggema.

Dan keindahan bisa segera sirna._

  • view 98