Menuai Kisah Rodia dari Bima

Ujank Ahmad Solihin
Karya Ujank Ahmad Solihin   Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Januari 2017
Menuai Kisah Rodia dari Bima

Kamis (29/12) yang cerah membawa saya dan tim relawan yang tergabung di Posko Bersama Peduli Banjir Bima menuju salah satu kampung yang berada di bantaran sungai. Ada paket sembako, makanan dan lain-lain, yang hendak kami berikan di kampung tersebut.

Melewati gang sempit, mobil kami masuk menerobos jalanan yang masih penuh dengan sampah dan lumpur.

Suasana saat pembagian bantuan tentu antusias dan ramai, namun saya mengalihkan langkah tak hanya berada di keramaian tersebut, berjalan di sekitar bantaran sungai dan sesekali memotret kondisi bangunan serta lingkungan yang rusak. Namun pandangan teralihkan pada sosok gadis kecil yang tengah asik membawa buku di atas sisa-sisa reruntuhan rumah, saya mencoba menyapanya.

"Assalamu'alaikum, ade," sapa saya.

"Wa'alaikumsalam," jawabnya dengan sedikit malu.

"Lagi apa di sini? gak main sama temannya di sungai?" tanyaku kembali.

"Saya belajar," jawabnya masih malu-malu.

Rodia nama gadis kecil tersebut. Saya kira buku yang dipegang itu ia temukan di mana atau di kasih orang lain, ternyata itu buku satu-satunya yang selamat dari rumah Rodia yang telah ambruk dan rusak. Sambil menunjuk ke arah rumahnya, Rodia mengatakan bukunya ditemukan di reruntuhan rumahnya.

Rodia bilang pekan depan sudah masuk sekolah, meskipun dalam kondisi rumahnya yang telah rusak, Rodia tetap menyempatkan belajar dimana pun.

Ada semangat dan harapan yang terpancar dari Rodia, semangat untuk tetap belajar meski dalam kondisi yang terbatas, senyumannya begitu menguatkan.

Selain Rodia, mungkin masih banyak anak-anak di Bima yang saat ini kehilangan buku, kehilangan sepatu, kehilangan apa pun yang mereka miliki akibat hanyut terbawa banjir.

Semoga mereka tidak kehilangan semangat untuk belajar, semangat untuk tetap mendapatkan pendidikan dan ilmu yang bermanfaat.

-Ahmad CS-