Kehidupan Reksa yang Biasa Saja #2

B.R. Karya
Karya B.R. Karya  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Maret 2016
Kehidupan Reksa yang Biasa Saja #2

Baca bagian sebelumnya di sini.

?

2: Sebuah Kebohongan yang Indah

?Jadi bagaimana wawancaranya dengan Osaka Shinbun? Sudah diterima kerja kah? Sudah, ya?!?

Saya hendak menyeruput kopi hangat ketika Nami bertanya nyerocos kepada saya segera setelah ia mempersilakan dirinya duduk. Nami menatap saya. Saya pun menatapnya. Kami tatap-tatapan.

Sebuah hal yang biasa bagi orang yang pacaran saling bertukar pandang mesra. Tetapi pandangan Nami kepada saya bukanlah pandangan mesra dan pandangan saya kepada Nami pun tidak demikian. Dan jelas dari cara kami berdua berinteraksi, kami bukanlah sepasang kekasih.

?Minami-san, kalau saya tidak diterima kerja, apakah saya bakal minum kopi di kedai ini??

?Ih, tinggal bilang iya atau tidak apa susahnya? Atashi no koto aho ni shite ya??

Nami cemberut.

Saya tidak menangkap kalimat terakhir yang ia ucapkan dengan logat Kansai yang kental. Pastinya ungkapan kekesalan. Jadi saya menatapnya sambil memalsukan senyum dan berkata.

?Iya, saya diterima kerja.?

Nami tidak merespon.

Saya lanjut menikmati kopi sambil memandangi orang yang lalu-lalang di Distrik Umeda. Lalu lintas manusia yang melangkah di bawah kemilau sinar lampu neon tak kunjung sepi meski sekarang sudah pukul sembilan tiga puluh malam.

Saya sebenarnya selalu merasa gelisah bila berada di dekat Nami. Sebab dari tatapan orang-orang sekitar, sepertinya kami tidak terlihat seperti dua orang kawan yang sedang nongkrong melainkan lebih seperti om-om mesum yang sedang mengencani gadis di bawah umur. Itu karena Nami terlihat berumur 15 tahun meski aslinya ia telah berusia 27 tahun.

?Kamu masih hutang cerita sama saya,? Nami tetiba angkat bicara. ?Tolong lanjutkan.?

?Hah? Cerita apa??

?Cerita Jaka.?

?Jaka siapa? Jaka Tarub??

Hahahaha. Hanya saya yang tertawa. Nami mana mungkin tahu cerita Jaka Tarub. Ia hanya duduk terbengong-bengong melihat saya yang tertawa puas.

Meski begitu, saya tidak mau dikatakan ingkar janji. Jadi ketika tawa telah reda, saya menyulut rokok yang tersumpal di mulut lantas mulai berkisah.

***

Pertama-tama, perlu saya beritahu bahwa namanya yang sebenarnya bukanlah Jaka. Itu cuma nama buatan yang saya karang. Sebab mana mungkin saya menceritakan kisah aib kawan saya dengan nama aslinya. Jelas? Clear? Bagus.

Kamu sudah tahu pekerjaan Jaka yaitu gigolo. Dari pekerjaan kotornya itu ia punya uang banyak bahkan sampai bisa membeli motor Awaskaki Ninja yang harganya waktu itu mahal sekali. Tapi satu hal yang tidak akan pernah bisa dibeli seberapa banyak uang yang seseorang punya adalah cinta sejati.

Jaka jatuh cinta dengan seorang gadis. Sebut saja dia Bunga alias Hana. Untuk tahu hubungan Jaka dengan Bunga alias Hana, kita harus menyusuri kehidupan Jaka yang amat kelam.

Jaka adalah pemuda yang tampan. Sejak SMA ia sering menjadi model di majalah Huy!, sebuah majalah yang ngetren di kalangan remaja. Setelah lulus SMA, rupanya ia juga pernah menjadi model di majalah For Her Magazine, sebuah majalah dewasa untuk perempuan.

Ketampanannya menjadi godaan bagi para wanita dan terkhusus mengundang napsu dari istri simpanan seorang pejabat negara. Tak lama, Jaka mendapati dirinya berada di rumah sang istri simpanan tersebut, memenuhi panggilan birahinya. Yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tak perlu saya deskripsikan secara nyata.

Jaka dihadiahi bermacam barang dan sejumlah uang atas ?jasa-jasa?-nya dan tanpa sadar ia telah menjadi budak seks sang istri simpanan tersebut.

***

?Ada yang perlu diterangkan sebelum saya lanjut??

Saya bertanya pada Nami yang sedari tadi mendengarkan kisah Jaka dengan seksama.

?Jadi, istri simpanan tersebut yang merupakan budak seks dari pejabat negara memiliki budak seks juga yaitu Jaka??

?Begitulah. Yah, bisa dibilang ini semacam multilevel-marketing.?

?Hidoi...? (Kejam...)

Saya tidak tahu pernyataan Nami ini mengacu pada sisi perbudakan seksnya atau pada MLM-nya. Hmm, mungkin dua-duanya.

***

Nah, di sinilah Bunga alias Hana berperan. Karena sebuah keberuntungan atau malah takdir Tuhan yang Maha Kuasa, Jaka dan Bunga alias Hana dipertemukan.

Jaka sedang berada di rumah si istri simpanan ketika tiba-tiba sang pejabat datang minta ?diservis? simpanannya tersebut. Melihat adanya motor Jaka yang terparkir, sang pejabat marah besar. Ia mengamuk dan mengobrak-abrik seisi rumah. Jaka yang pandai bersembunyi berhasil menyelinap keluar. Ia ingin segera kabur namun motornya terhalang oleh mobil sang pejabat. Ketika ia sedang bingung-bingungnya, seorang gadis keluar dari mobil sang pejabat. Itulah Bunga alias Hana.

Bunga alias Hana berkata, ?Kalau kamu mau kabur, aku tahu caranya. Tapi bawa aku bersama kamu.?

Kata-kata Bunga alias Hana ini puitis seperti lirik lagu tapi Jaka yang dilanda kepanikan hanya menjawab, ?Iya, iya, iya.?

Lantas Bunga alias Hana membuka pintu kemudi mobil hatchback sang pejabat. Tanpa naik ke dalam mobil itu, ia turunkan tuas rem tangan, membuat hatchback merah sang pejabat meluncur ke belakang. Melihat jalur pelarian akhirnya terbuka, Jaka buru-buru menstarter motornya. Seraya mobil sang penjabat menabrak pagar rumah tetangga di seberang jalan dengan kerasnya, kaburlah Jaka dengan membonceng Bunga alias Hana di atas motor Ninja-nya.

***

?Stop!? Nami menyela.

?Apa??

?Kenapa namanya harus 'Bunga alias Hana'? Kenapa tidak Bunga saja atau Hana saja??

?Soalnya Bunga itu artinya Hana.?

?Tapi kagak perlu segitunye, kan? Capek dengernye! Sebut aje dia Bunga!? Logat Kansai Nami keluar dan ia tidak lagi berbicara formal.

?Ya sudah, kita sebut dia Bunga Saja.?

?KAGAK USEH PAKE SAJA!?

?Haik!?

***

Sejak itulah Jaka menjalin hubungan dekat dengan Bunga dan ia ingin bertobat dari dosa-dosanya. Tetapi si istri simpanan itu mengancam kalau Jaka sampai berhenti memuaskan nafsunya maka ia bakal dibunuh. Sang pejabat tak ingin kalah kejam. Ia pun membuat ancaman yang bertolak belakang: kalau Jaka tidak berhenti memuaskan nafsu istri simpanannya dan/atau tidak mengembalikan simpanan satunya lagi ? yakni Bunga ? maka ia bakal dibunuh. Seperti memakan buah simalakama. Jaka menjadi bimbang dengan keputusannya.

Kemudian pada reuni tahun 2008 saya berkesempatan menatap wajah Jaka untuk yang terakhir kalinya. Saya berusaha meyakinkannya pergi menjauhi kehidupan kelam tapi saya tidak tahu apakah ia benar-benar meninggalkannya.

***

?Apa yang terjadi selanjutnya?? Nami penasaran.

Saya menghisap habis rokok dan menyisakan hanya puntung kecil yang saya ucek-ucek ke asbak. Saya terdiam sejenak menatap wajah Nami yang lugu itu. Sepertinya Nami bukan wanita yang peka. Atau mungkin ia cuma perlu diyakinkan?

?Jaka dan Bunga masuk berita koran dan televisi,? saya menghembuskan napas panjang kemudian lanjut berucap, ?keduanya tewas terbunuh.?

Nami terkejut. Ia menutup mulutnya yang tenganga dengan kedua tangan.

?Orang tua Jaka tidak pernah tahu motif pembunuhan anak mereka tersebut. Pelakunya pun tidak pernah ditemukan.?

Saya sudah hendak merokok sebatang lagi tapi niat itu tidak jadi saya laksanakan. Nafsu saya hilang entah ke mana. Rokok pun saya masukkan kembali ke bungkus.

?Ya, ampun. Apa kamu tidak bersaksi??

Nami bertanya sesuatu yang ia sendiri sudah tahu jawabannya.

?Kenapa kamu tidak bersaksi?? Tanyanya lagi dengan nada tinggi. ?Kamu kan temannya!?

?Lalu menurut kamu apa yang bakal terjadi??

?Ya, mungkin pelakunya bisa ketangkep!? Nami terlihat kesal.

?Lantas menurutmu berapa lama pelakunya bakal mendekam di penjara? Dua puluh tahun? Sepuluh tahun? Lima tahun? Saya tidak yakin. Malah bisa jadi setelah tertangkap, pelakunya bakal bebas sebab mereka adalah orang yang berkuasa di negeri itu dan kebal terhadap hukum yang ada.?

Nami seperti ingin protes namun ia hanya terdiam.

?Kalau saya bersaksi, bagaimana menurutmu perasaan orang tuanya setelah mereka mengetahui bahwa anak mereka satu-satunya, yang sangat mereka sayangi, adalah gigolo yang tewas ditembak di kolong jembatan, yang mayatnya dihanyutkan ke sungai karena memuaskan birahi seorang tante lonte simpanan pria hidung belang??

Nami masih terdiam.

?Sometimes ignorance is a bliss,? kata saya. Ungkapan yang sering digunakan untuk menunjukkan bahwa ketidaktahuan akan suatu hal bisa menjadi anugrah.

Saya dan Nami tidak lagi banyak bicara setelahnya dan tepat pukul 10.00 malam kami pun pulang. Saya menunggu taksi dan Nami berjalan ke stasiun. Seraya taksi tiba, saya memperhatikan sosok Nami yang hilang di balik gedung saat ia berbelok di perempatan. Saya merasa Nami masih menyimpan kekesalannya pada saya.

Yah, besok palingan udah baik lagi, pikir saya waktu itu.

?

(Bersambung...)


  • Jihan Suweleh
    Jihan Suweleh
    1 tahun yang lalu.
    Belum ada lanjutannya nih?

    • Lihat 5 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    Lantas Bunga alias Hana menurunkan tuas rem tangan dan mobil sang pejabat meluncur ke belakang, menabrak pagar rumah tetangga di seberang jalan dengan dahsyatnya. Kemudian kaburlah Jaka membonceng Bunga alias Hana. ---> ini kaburnya pake mobil atau motor?

    • Lihat 6 Respon

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    Awaskaki Ninja. Awaaaass kakimu keinjak