Kehidupan Reksa yang Biasa Saja #1

B.R. Karya
Karya B.R. Karya  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Maret 2016
Kehidupan Reksa yang Biasa Saja #1

1: Sebuah Reuni yang Tak Biasa

?Bisa tolong ceritakan tentang diri Anda??

Seorang interviewer bertanya dengan suara yang kalem namun nyaring dan suara tersebut memantul-mantul di dalam kuping saya. Sang penanya, beserta dua pria berjas yang mengapitnya, duduk rapi berjajar membelakangi kaca jendela yang menampilkan kaki langit Osaka di pagi hari. Saya membuang napas kuat-kuat.

Adalah suatu takdir dari Yang Maha Kuasa saya berkesempatan mengikuti sebuah wawancara kerja di Jepang. Tapi yang namanya wawancara di belahan dunia mana pun pasti terlontar pertanyaan pamungkas nan jitu itu: ceritakan tentang diri Anda.

Malangnya bagi si penanya, dari hal-hal yang saya benci di seluruh jagad raya, menceritakan diri sendiri adalah nomor satunya. Kenapa? Karena saya ini adalah orang biasa yang selama 29 tahun setengah, hidup dalam kebiasaan yang biasa dan hanya mengalami hal-hal biasa dengan sedikit nuansa drama hambar yang sangat biasa. Dan saya paling tidak bisa membual dengan berkata, ?Saya adalah orang yang punya banyak kekurangan namun saya suka terhadap tantangan,? karena tidak pernah ada tantangan dalam hidup saya yang datar dan biasa. Jadi, bagaimana saya bisa menyukai tantangan kalau tidak pernah mencicipinya. Maka ketika ditanya dalam setiap wawancara kerja tentang diri sendiri, saya selalu alihkan jawabannya.

?Seseorang dinilai dari kawan duduknya,? kata saya dengan mantap, ?jadi saya akan menceritakan tentang orang-orang terdekat saya. Saya sungguh percaya Bapak-Bapak sekalian memiliki kearifan dalam menilai karakter diri saya yang sebenarnya melalui pergaulan saya dengan manusia sekitar.?

Ruangan kemudian hening. Saya memikirkan kata-kata yang barusan terucap dari congor. Sebuah perkataan yang belagu. Tetapi ucapan saya itu ternyata memancing rasa penasaran jajaran direksi ketika seseorang dari mereka memecah kesunyian dengan berkata, ?Silakan dilanjutkan.?

Dengan sigap saya jawab, ?Haik!? kemudian saya mulai bercerita.

***

Kala itu libur panjang tahun 2008. Seperti biasa, setiap libur panjang saya pulang ke kampung halaman. Dan seperti biasanya pula, setelah puas bercengkrama dengan keluarga, saya berkumpul bersama teman-teman sepermainan waktu kecil dulu untuk sekedar bersilaturahmi dan saling bertukar kabar. Pos ronda biasa menjadi tempat kumpul tahunan kami dan siang itu pun tidak berbeda. Adalah suatu hal yang biasa saya yang pertama tiba di sana. Saya bukan mengeluh. Saya sudah terbiasa menunggu.

Saya sedang duduk bertongkat lutut sambil bengong memikirkan utang, ketika Kombet datang. Dan Kombet datang bersama wajah jeleknya yang amat tidak karuan namun sangat saya rindukan. Kami sedikit berbincang sebelum akhirnya kawan-kawan yang lain pun tiba satu per satu.

Sehabis adzan Dzuhur, pos ronda sudah diduduki oleh para anggota Geng Haji Gopur: Kombet, Piter, Dadap, Landa, Dimas, dan saya. Suasana di sana kala itu pun ramai dengan canda tawa kami semua. Selang setengah jam kemudian, lengkaplah pasukan kami. Jaka datang bersama motornya dengan dandanan mentereng.

Landa menyindir kedatangan Jaka.

?Ari ti mana, Aa Kasep? Meni tampan pisan.? (Dari mana, Mas Ganteng? Tampan sekali hari ini.)

?Ah, biasa...,? jawab Jaka sambil turun dari motornya.

?Anjir, motor anyar?? (Eh, motor baru, ya?)

Dadap bertanya sambil memeriksa dengan seksama motor dua tak keluaran terbaru brand terkenal Awaskaki. Bukan saya saja ternyata yang sadar dengan tanggal di plat nomornya yang baru dua minggu.

?Biasa, rejeki anak soleh,? jawab Jaka sambil nyengir.

Kami semua tertawa.

Percakapan dilanjutkan dengan saling berbagi cerita tentang pekerjaan. Dadap dan Landa berkeluh kesah bahwa barang dagangan mereka akhir-akhir ini kurang laku. Kombet sekarang tengah bangkit akibat usaha rintisannya kena tipu orang. Piter masih menganggur. Dimas, si calon dokter, merasa kelelahan dan hampir muak dengan kuliah. Saya, yang seorang kurir, bercerita bagaimana saya nyungsep ke kolong truk saat jatuh dari motor ketika mengantarkan barang. Namun selain itu dan hutang yang makin menumpuk, hidup saya normal-normal saja.

Jaka absen dari bercerita. Hal itu membuat kami tambah penasaran tentang kehadiran motor barunya.

?Carita siah, motor ti mana datangna!? (Cerita dong, itu motor dapat dari mana!)

?Rejeki anak soleh,? katanya. Namun kata-katanya itu tidak lucu lagi.

Jaka memang misterius. Tidak ada yang tahu juga pekerjaan Jaka yang sebenarnya selama empat tahun setelah lepas SMA. Tetapi tak ada seorang pun yang bertanya lebih lanjut. Kami seolah sepakat barangkali Jaka mengelak menjawab karena ia hanya ingin menjaga perasaan teman-temannya yang sedang dirundung kesialan.

Obrolan berlanjut. Suasana berubah serius ketika Kombet mengalihkan topik.

?Opat bulan deui aing ek kawin.? (Empat bulan lagi gue mau nikah.)

Mendengar kabar itu kami semua merasa terkejut namun bahagia. Kombet, yang paling muda di antara kami, sudah mau menikah.

Keseriusan hanya berlangsung sementara. Landa dan Dadap jadi asik mengejek Kombet dengan ucapan seperti, ?Bisa juga orang jelek nikah,? atau, ?Pasti ceweknya udah putus asa,? atau yang semisal dengan itu. Saya gagal menyadari bahwa Jaka kala itu manampilkan pandangan iri yang luar biasa.

Setelah puas memaki-maki Kombet, Dadap dan Landa berpamitan. Kombet menyusul setelah menghabiskan rokoknya. Piter pun tak mau ketinggalan. Sekarang di pos ronda hanya ada saya dan Jaka.

Angin perlahan mengarak barisan awan di langit siang menuju utara. Semilir angin juga membuat ranting pohon dan dedaunan beradu, menciptakan bebunyian yang berkolaborasi dengan udara sejuk untuk mendatangkan kantuk. Hanya ada keheningan di antara saya dan Jaka sebelum ia mengusirnya.

?Duh, si Kombet nikah euy,? kata Jaka.

?Heu euh.?

?Gua bisa gak ya nikah??

Saya sejenak berusaha mencerna maksudnya.

Jaka adalah pemuda yang paling tampan di antara kami. Bahkan Jaka mungkin pemuda yang paling tampan se-Rangkasbitung atau malah se-Banten. Wajahnya yang indo, membuatnya jadi idola gadis-gadis sejak SMA dulu. Maklum, ayahnya orang Belanda. Ibunya Sunda campur Jerman. Bila Kombet yang buruk rupa saja bisa nikah, harusnya Jaka lebih bisa lagi. Malah cukup baginya mengedipkan mata sekali, gadis manapun pasti bakal jatuh hati. Jaka itu bisa dibilang ibarat malaikat yang turun ke bumi.

Belumlah saya mengerti arti perkataanya, Jaka sudah menimpali.

?Kalau gua nikah, gua mati.?

?Heh, jangan bodor, ah.?

?Gua jatuh cinta sama seseorang di mana kerjaan gua yang sekarang melarang gua buat jatuh cinta.?

Saya mulai memandang wajah Jaka dengan seksama sambil menerka ke mana arah pembicaraannya. Sinar matanya seolah menyampaikan pesan bahwa ia tidak sedang bercanda.

?Emang kerjaan lu apa??

Jaka mencomot sebatang rokok lalu menyalakannya. Ia hisap rokoknya kuat-kuat lantas asap putih pekat menyembul keluar dari mulutnya seraya ia menghembuskan napas. Ketika partikel asap putih itu telah lenyap berpencaran di udara, Jaka kembali bersuara.

?Lu pasti penasaran banget dari mana gua punya duit buat beli motor Ninja, kan,? katanya dengan tenang sambil senyum kecut.

Jaka kembali menghisap rokoknya. Beberapa saat hanya ada rentetan asap yang mengepul tanpa diiringi kata-kata yang keluar dari mulutnya.

?Tapi lu mesti janji gak akan menghakimi gua.?

Saya mengangguk perlahan.

?Dan jangan cerita ke yang lainnya.?

Saya mengangguk lagi.

Jaka berdesah dengan kencang dan membuang puntungnya ke jalan. Ia memandang saya agak lama sebelum berucap.

?Itu duit hasil lacuran gua, Sa,? katanya. Suara Jaka lalu mulai pecah, ?Gua cowo jablay, Sa. Gigolo.?

Wajahnya pilu. Saya bisa melihat kedua matanya mulai berair. Tangis pun dengan lembut menetes ke pipi. Isak tangis lantas tak kuat lagi dibendungnya. Jaka menutupi matanya dengan tangan. Saat saya berpikir ia tak mampu melanjutkan cerita, Jaka kembali berujar.

?Gua mau tobat tapi gua gak bisa,? lanjut Jaka. ?Kalau gua tobat, kalau gua berhenti, gua bakal mati, Sa.?

Saya hanya melongo tak tahu harus berbuat apa. Rokok yang belum dibakar masih di tangan, tidak jadi saya sumpalkan ke dalam mulut. Reuni itu adalah sebuah reuni yang tak biasa.

?

(Bersambung ke sini)


  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    thumbnail ini keknya pernah saya liat di videoklip lagu.... itu.. *gambarnyaaja

    • Lihat 2 Respon