Bocah Bengawan

B.R. Karya
Karya B.R. Karya  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Maret 2016
Bocah Bengawan

Ia menerabas memecah tanah Jawa. Dari kaki Pegunungan Kidul di selatan, ia meliuk-liuk menyusur ke utara melewati kota-kota. Begitu berada tepat di tengah pulau, alurnya beralih ke timur mengitari Gunung Lawu kemudian terus melaju sampai akhirnya berhenti di Laut Jawa.

Sungai Besar Solo. Bengawan Solo. Begitulah ia dikenal sekarang. Sedari dulu deras alirannya telah menarik manusia padanya. Kami, manusia, menggarap sawah yang diairinya dan mencari cara mengusir kelam dengan pelita yang dihidupkan dari eneginya. Kami pun menggubah syair dan lagu yang bercerita tentang kilau kecantikannya. Layaknya kerumunan serangga bersayap yang mengerubungi lentera di malam gelap, kami terpikat olehnya, bergumul mengais sesuatu dari keruh airnya.

Berdesakan di antara para pencari rezeki itu adalah seorang bocah sungai. Ialah salah satu dari kami yang tersihir oleh pesona Bengawan. Dan di sini, di pinggir Bengawan, ia merasakan kesenangan maupun kesedihan.

***

Tono mengayuh dengan kencang. Di jalan tak beraspal, dengan kecepatan luar biasa roda sepedanya berputar, menyisakan debu yang berterbangan sebagai jejaknya. Bagi Tono yang terhuyung-huyung di atas sepeda besarnya, sekarang adalah hari yang spesial.

Pagi sebelum berangkat sekolah, suasana rumah gempar. Ibu di dapur berteriak minta tolong.

?Aduh! Pak! Bapak!?

Rupanya bayi di perut Ibu sudah mau keluar. Bapak kemudian mengantar Ibu ke bidan desa. Sekarang, harapan besarnya yang mengantar Tono ke sana. Senang punya adik, pikir Tono. Rasa senangnya jauh melebihi ketika sekolahnya kebanjiran.

Di jalan berpasir Tono melaju melewati pematang sawah di kanan dan di kiri, meninggalkan padi-padi yang kering. Meski mereka menyerah pada terik, tetapi lain cerita dengan Tono. Panas mentari siang yang membakar kulit tak menghalanginya.

Sekarang ini tidak ada yang bisa mengalihkan Tono. Ketika tadi lonceng pulang sekolah dibunyikan, teman-teman mencegat Tono.

?Tono, main!?

Tono yang sudah menyiapkan sepeda hanya tak acuh dan langsung mengacir pulang. Keinginan bertemu adik baru mengalahkan teman-temannya. Kalau Tono ingin segera bertemu sang adik, ia harus cepat-cepat sebab sekolah dengan tempat tinggalnya jauh.

Tono bersama Bapak dan Ibu tinggal di sebuah rumah sederhana di Sugirejo. Sugirejo adalah salah satu desa yang masyarakatnya hidup dari Sungai Besar. Dari Jalan Raya Solo-Surabaya, pintu masuknya adalah jalan tak beraspal yang di sampingnya berdiri bekas lumbung tebu. Ada tugu kecil di sisi lain jalan masuknya tetapi orang-orang lebih suka memakai lumbung tersebut sebagai penanda.

Bentang darat Sugirejo berwujud petakan-petakan sawah yang ditanami padi. Kalau saja sekarang bukan musim kemarau, desa itu bakal tampak seperti hamparan karpet hijau yang membentang sampai ke cakrawala. Adakalanya karpet itu terbelah oleh rel kereta api yang membujur panjang. Di satu titik, relnya bersimpangan dengan jalan tak beraspal di mana bocah sungai berkendara.

Selepas persimpangan kereta, jalanan agak menurun. Angin menumbuk wajahnya ketika Tono terjun dengan kencang. Siliran menyelip di antara helai-helai rambut dan telinga. Menyejukkan. Ranting-ranting pepohonan ikut melenggang, membuat beradu dedaunan, menghasilkan irama desiran yang membuat pendengarnya serasa mau terbang. Tono merasakan sensasi demikian baru sekarang. Kesemuanya layaknya pentas seni yang berasal dari alam mimpi. Tono yang tersihir kemudian mendapati dirinya sudah berada di rumah bidan.

Setelah ia parkir pit pancalnya, Tono berlari masuk ke dalam. Ia berharap disambut tangisan adik bayi tetapi yang ada malah suara rintihan dari dalam kamar. Tono tidak tahu bagaimana perempuan melahirkan tetapi ia yakin ibunya pasti sedang sangat kesakitan. Ia tak berani mengintip ke dalam kamar jadi duduklah ia bersandar di tembok sambil memeluk kedua lututnya.

Lamunan melintas di benaknya. Bagaimana rupa adiknya nanti ya? Apa hidungnya mancung seperti Ibu? Atau mungkin lebar seperti Bapak? Lalu bagaimana dengan rambutnya? Apa nanti keriwil seperti Bapak atau lurus seperti Ibu? Setelah dipikir baik-baik ia menebak si adik pasti mirip Ibu, sebab kata orang-orang Tono juga begitu.

Tono berharap adiknya cepat besar. Ada banyak tempat di kampung ini yang ia ingin segera tunjukkan: kolam lele Om Tarmin, kuburan tempat mencari capung, selokan irigasi tempat biak cere, juga bekas pabrik tebu peninggalan jaman Belanda. Ada banyak kegiatan lain pula yang bakal mereka berdua lakukan. Main layang-layang dan bal-balan serta mencari rumput buat makan kerbau hanya sebagiannya saja. Ditambah lagi adiknya pasti senang mengamati dari pos persimpangan, satu-dua kereta api yang melintas di tengah persawahan.

Memikirkan itu semua, Tono yang kelelahan memejamkan matanya kemudian tertidur dengan tenang.

Di dalam tidurnya Tono bermimpi. Di mimpinya sang adik bermain bersamanya. Meski wajahnya tak terlihat tapi Tono bisa merasakan aura kebahagiaan dari adiknya.

Tetapi seketika sang adik menangis. Meski usaha Tono menenangkannya, semakin lama tangisannya semakin kencang. Ketika ia peluk adiknya, tangisannya malah menjadi-jadi. Tono akhirnya ikut-ikutan mewek.

?Heh! Kenapa toh? Adikmu yang lahir, kok kamu yang nangis??

Tono membuka matanya. Dihadapannya, Bapak menampilkan wajah yang heran. Tangan Bapak memegang erat kedua bahunya. Sepertinya setelah digonjang-ganjing berkali-kali barulah Tono kembali ke alam nyata.

Untuk sesaat, Tono mengira Bapak menempel di langit-langit. Tapi sejatinya ialah yang sedang telentang. Tono tidak ingat tidur di atas kursi panjang.

Tono yang silau dengan cahaya lampu menutupi matanya dengan lengan. Suasana ruangan terang benderang, tapi di luar rumah bidan keadaannya agak kelam. Sudah berapa lama ia ketiduran?

?Mau ketemu adikmu?? tanya Bapak.

Tono segera menegakkan badan. Jelas saja ia mau bertemu adiknya. Memang itu tujuannya ke sini. Sang adik menangis sejak tadi tapi baru sekarang Tono sadar akan suaranya.

Tono membuka pintu kamar bersalin. Ia masuk, Bapak membututi. Adik bayinya sedang menangis di gendongan Ibu. Begitu melihatnya, dengan serta-merta Tono berlari menghampiri. Parasnya berseri-seri.

Beberapa lama ia menilik adik barunya dengan wajah ceria. Inilah adik yang telah ditunggu-tunggunya. Namun setelah sadar ada satu fitur pada adiknya yang tak ada, Tono langsung mengernyutkan muka.

?Perempuan?? tanyanya dengan nada kecewa. Pandangannya masih tertuju pada sang adik. Ia mengimpikan yang lahir laki-laki.

Baik Bapak maupun Ibu, tidak ada yang menanggapi Tono. Senyum lebar terpasang di wajah mereka. Keduanya sedang asyik mengamati sang buah hati.

Anita Nuraini. Ia lahir sebelum senja hari. Suasana di luar masih remang. Matahari pun belum sepenuhnya tenggelam. Namun begitu, bulan telah menampakkan sabitnya dengan tenang. Yupiter, Saturnus dan Venus, ketiganya berjajar di antara para bintang yang berkelap-kelip di langit temaram. Rasanya hampir seperti mentari dan rembulan beserta planet dan bintang-bintang ikut menyambut kedatangan Ani di panggung kehidupan.

Semuanya riang. Semuanya senang.

Semuanya kecuali si bocah Bengawan.

?

(Sumber gambar)