Frekuensi

B.R. Karya
Karya B.R. Karya  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Frekuensi

Seorang perempuan mendendangkan lagu asmara. Suaranya amat lembut di telinga. Tapi dari cara gadis itu bernyanyi, ia terdengar seperti sedang merana.

Aja lali mas
Janjimu marang aku

Suara si gadis pelan, naik turun melantunkan irama tembang.

Seorang perjaka muda menangkap siaran melodi kemesraan. Ia terpana dalam kenikmatan indra pendengaran. Namun bukanlah adegan ini sebagaimana penonton pentas kesenian yang mengagumi biduanita pujaan. Si perjaka tidak dapat melihat si gadis dan si gadis pun tak dapat melihatnya. Sang gadis, yang bernyanyi untuk diri sendiri, tidak tahu ada lelaki yang terpesona oleh keindahan suaranya. Pikirnya mungkin, tidaklah salah menghibur diri sembari mengangkat jemuran.

Si perjaka muda jongkok di tepi jalan berkerikil. Ketika kakinya mulai baal, ia turunkan pinggulnya ke tanah. Di belakang pinggul ini tertancap pagar dari semak belukar yang mengelilingi sebuah rumah. Di balik pagar tersebut, di sebuah pekarangan, seorang dara melagukan suasana hati yang gundah.

Lalu, hampir seperti terbang terbawa angin, perlahan-lahan alunan indah dara itu melemah. Lantas hilang suaranya sama sekali dan seluruh dunia senyap seketika itu jua.

Siliran menerpa pohon jambu di pekarangan. Pohon jambu pun berayun dan bergoyang sembari mengeluarkan bunyi desiran. Manuk-manuk sawah berkicau sahut-menyahut sambil berkejar-kejaran. Dari horison di kejauhan, siulan kereta api menghantarkan bunyi deraman mesin diesel yang samar-samar menderu. Seluruh kegaduhan ini telah menggantikan suara si gadis dara yang merdu.

Perjaka muda masih duduk bertongkat lutut. Ia hampir tak bergerak beberapa lama. Sebuah tas besar tergeletak di sampingnya. Peluh mengalir dari lengan kemudian menetes ke tas tersebut. Titik-titik keringat yang jatuh telah membuat bekas yang cukup nyata pada tasnya.

Si perjaka seperti mengetahui bahwa pertunjukkan belum usai karena kemudian suara nan halus itu kembali.

Indhil piyik lulange emas
N
ggoleki pangan emboke bali
Aku marang kowe mas
Salawase t
resna sanuli

Kali ini sang dara bernyanyi penuh riang.

Getaran-getaran sonik lembut memancar dari mulut seorang wanita dan merambat di udara. Pada saat bersamaan, bunyi gerisik akibat dari dedaunan kering yang disapu terdengar berulang, menciptakan melodi ritmis nan sumbang. Meski begitu, sang perjaka seperti dapat menapis bunyi gangguan tersebut karena hanya gelombang nada si gadis dara yang diterima antena telinga.

E yak e yaaak e...

Ketika sang gadis menyanyikan lagu dengan nada agak genit, perjaka muda tersenyum membayangkan si gadis melela. Ia putuskan cukuplah sudah. Sang perjaka pun bangkit.

Si penggemar gelap memposisikan diri dengan cerdas. Meski pagar tanaman menyembunyikan punggungnya saat ia duduk, pagar itu tidak bakal mampu menutupi seluruh tubuhnya ketika berdiri. Tetapi ketika perjaka muda menegakkan badan, si gadis masih tak dapat melihat sosoknya lantaran garis pandang gadis itu terhalangi oleh kandang. Perjaka muda pun melangkah keluar dari pertapaan dengan mejinjing tas besarnya.

?Mbakyu!?

Si gadis bergeming. Badan membungkuk sambil menggenggam sapu lidi. Ketika telah paham siapa yang memanggilnya, barulah ia menjawab sapa.

?Eh, Dik Tono.?

?Titipan dari Mbah Jinah.?

Tono mengeluarkan sebuah bingkisan dari tas besar kemudian menyodorkannya kepada si gadis. Bingkisan pun berpindah tangan.

?Terima kasih, ya!?

Si gadis tersenyum, menampilkan lesung pipi yang hanya sebelah. Pada pipi kirinya, pipi yang tak berlekuk manis, melekat tahi lalat. Tepat di tengah-tengah di antara lesung pipi dan tahi lalat, bibir si gadis merekah. Secercah sinar mentari keemasan menyeka ujung genting lantas menerangi wajah, membuat bibir yang lembap itu berpendar cerah. Kilauan cahaya di ujung bibir merah menjadikannya laksana batu mirah.

Si gadis berkaus ungu. Kain batik yang dijadikan bawahan menutupi kaus itu sampai ke bawah dada. Batiknya coklat muda bergambar merak yang bercorak gelap. Tetapi kain batiknya terpasang miring, menyebabkan sang merak seolah meluncur vertikal ke kahyangan. Kemiringan kain itu juga menyingkap betis putih di balik tulang kering yang sama-sama putih. Keputihannya menunjukkan kebersihan diri yang tercermin bukan hanya pada kakinya tetapi juga pada lengan, tangan, wajah dan leher.

Merah, cokelat, ungu, putih bergabung bersama kemudian berpadu dengan hitam, corak rupa dari rambut kuncir kuda. Tak disangka, Tono menemukan kecantikan dalam ketidakharmonisan warna.

Kecantikannya adalah kecantikan yang paripurna. Bahkan kantong plastik yang dijinjing dan sapu lidi yang digenggam si gadis jelita tidak sedikitpun mampu menodai kadar kemolekannya.

Mampir dulu kemari!

Tono berharap si gadis berucap begitu. Tetapi tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut manis itu dan Tono akhirnya melepaskan diri dari pesona yang membelenggunya. Seraya berjalan pergi, ia kembali mendengar bunyi-bunyi gerisik kasar tetapi bunyi-bunyi itu tidak lagi mengiringi suara nyanyian.

Menatap langit, Tono tersenyum menertawai dirinya. Dirinya yang selalu datang kemari untuk menyetel telinga pada sebuah frekuensi yang sama. Frekuensi suara si gadis jelita.

  • view 174