The Science of Heartbreak: Mengapa Patah Hati itu Sakit

B.R. Karya
Karya B.R. Karya  Kategori Psikologi
dipublikasikan 01 April 2016
The Science of Heartbreak: Mengapa Patah Hati itu Sakit

?Sejak dulu beginilah cinta, deritanya tiada akhir.?

- Chu Pat Kai

Itulah kata-kata yang sering diucapkan sang mantan jendral kayangan ketika patah hati. Namun patah hati itu apa sih sebenarnya? Menurut sebuah kamus, patah hati dapat diistilahkan sebagai duka, kepayahan, dan kesedihan mendalam akibat putus cinta, baik itu karena sang kekasih pergi meninggalkan kita atau pergi meninggalkan dunia. Tapi apakah patah hati hanyalah sebuah konsep abstrak? Ataukah ada efek fisis yang nyata terhadap tubuh dan otak kita?

Dari sebuah studi ilmiah diketahui bahwa terdapat sebuah area di otak yang aktif ketika kita terluka secara fisik (seperti tersayat, terpukul, dll). Area itu dinamakan Anterior Cingulate Cortex (ACC). Mengejutkannya, ACC ini juga aktif ketika kita mengalami patah hati. Dengan kata lain, ACC ini juga dianggap bertanggung jawab atas rasa sakit akibat luka psikis seperti dikucilkan oleh masyarakat atau putus cinta, baik itu putus cinta karena ditinggal mati, ditinggal pergi, atau ditinggal kawin sama orang lain (ini yang paling nyesek). Hmmm, barangkali rasa sakit fisis dan psikis tidak sebegitu berbeda seperti yang kita bayangkan.

Coba deh pikirkan cara kita menggambarkan rasa yang kita alami ketika putus cinta. ?Dia mencabik-cabik hatiku,? (padahal gak dicabik) atau ?Aku terpukul,? (padahal gak dipukul) atau ?Ia telah menorehkan luka di dada,? (padahal gak disabet pake samurai.)

(via wordpress)

Anyway, sebuah polling menunjukkan bahwa manusia lebih mending merasa terluka secara fisik ketimbang terluka secara emosional. Namun mengapa dua peristiwa berbeda ini mendatangkan rasa yang sama pada tubuh kita?

Sebuah eksperimen akhirnya dilakukan pada sebuah kelompok primata. Seekor primata diasingkan dari teman-teman dan sanak keluarganya. Setelah dijalankan beberapa tes, si primata itu mengalami kenaikan kadar hormon kortisol?dan penurunan kadar hormon norepinefrin?yang menyebabkan respon stres yang tinggi. Perubahan hormon ini lama-kelamaan akan mengakibatkan depresi dan kegelisahan. Pada manusia, patah hati dapat memicu hal yang serupa dan menciptakan persepsi rasa sakit fisis.

?

(via designtaxi)

Lalu bagaimana caranya mengurangi rasa sakit ini? Sayangnya luka patah hati gak bisa disembuhin pake betadin. Hanya dukungan sosial yang mampu meredam rasa sakit. Jadi kalau kamu merasakan patah hati, berkumpullah dengan teman dan keluarga. Dan bila ada kawan atau orang terdekatmu yang mengalami patah hati, hiburlah dia. Jangan biarkan ia kesepian. Dan jangalah bergalau. *halah*

Demikian.

Silakan baca juga Mengapa Kita Menangis?

?

Daftar Referensi:

  1. ASAP Science. The science of heartbreak. https://www.youtube.com/watch?v=lGglw8eAikY.
  2. Simpson, Cash. (2007, Mei 10). The Science Of The Broken Heart. Maret 2016. http://www.science20.com/cash/the_science_of_the_broken_heart.
  3. Schwecherl, Laura. (2015, April 28). The biology of a broken heart?and how to bounce back. Maret 2016. http://greatist.com/happiness/science-broken-heart.

?

Thumbnail