Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Psikologi 29 Maret 2016   15:34 WIB
The Science Behind Tears: Mengapa Kita Menangis?

Kita sering meneteskan air mata, entah karena menonton film sedih yang mengharukan atau karena?ditinggalin pacar. Tangis atau tangisan dengan demikian (dilihat dari sudut pandang sains) dapat didefinisikan sebagai sebuah respon fisik terhadap sebuah kondisi emosinal yang kita alami.

Pertanyaan pertama: bagaimana air mata bisa muncul?

Kita ambil sebuah contoh. Kamu putus sama doi karena doi lebih milih untuk kawin sama orang lain yang jauh lebih baik dari kamu. Kamu termehek-mehek sambil curhat sama sohib, ?Ke-kenapa ini mu-mu-mu-musti ter-terja-ja-di?? (Itu mewek apa gagap yak?)

Anyway, yang terjadi selanjutnya adalah air mata mulai diproduksi oleh kelenjar lakrimalis atau kelenjar air mata. Kelenjar ini letaknya antara bola mata dan kelopak mata. Jadi, ketika kamu berkedip air mata menyebar ke seluruh area mata. Setelahnya, ada dua kemungkinan yang bakal terjadi. Pertama, air mata?bakal mengalir melalui saluran lakrimal (lacrimal punctum) sampai ke hidung. Makanya hidung kita kalau mewek ikutan becek (ehehe). Yang kedua, kalau tangisnya berlangsung lama, maka sistem saluran lakrimal tidak mampu lagi membendung volume air mata yang masuk padanya. Air mata yang berlebih kemudian turun dari kelopak menuju pipi. Dan tangisan ini yang kamu tunjukin ke doi waktu dia bilang, ?Kita putus!?

Lantas pertanyaan berikutnya: mengapa kita menangis ketika merasa amat sedih?

Tangisan tidak hanya terjadi pada saat-saat emosional, loh. Sebenarnya ada tiga jenis tangisan.

1. Tangisan basal (basal tears) yaitu tangis yang terjadi secara rutin dan berkala. Tujuan keluarnya air mata ini untuk melumasi dan membersihkan mata dari debu.

?

2. Tangisan refleks (reflex tears) adalah tangis yang terjadi saat benda asing mengiritasi mata, misalnya syn-propanethial-S-oxide yang dihasilkan bawang, gas air mata, merica dari spray gun, dll. Zat asing ini akan menimbulkan reaksi berantai di mana otak akan melepaskan hormon yang akan memicu keluarnya air mata dari kelenjar lakrimalis pada kelopak mata. Air mata refleks ini akan membilas zat pengiritasi tersebut.

Secara komposisi, air mata tangisan refleks berbeda dari tangisan basal. Pada tangisan refleks, air matanya mengandung antibodi tertentu yang melawan mikroorganisme.

Hey, siapa yang menaruh bawang di sini?

?

3. Tangisan emosi (crying/weeping).

Nah, tangis air mata karena faktor emosional ini cuma ada di manusia, loh. Tujuan dikeluarkannya air mata ini (menurut sebuah teori) adalah untuk memberikan sinyal kepada orang di sekitar bahwa kita sedang benar-benar sedih. Air mata yang timbul ini seolah memberi tahu?orang-orang di sekitar bahwa kita butuh ketenangan atau kasih sayang.

Lalu bagaimana dengan tangisan kebahagiaan? Sebenarnya tangisan kebahagiaan ini tidak terlalu berbeda. Tangis kebahagiaan ini bisa juga menjadi sinyal perasaan kita dan menguatkan hubungan antar manusia.

Sebuah teori lain mengatakan bahwa tangis itu adalah cara kita untuk menghilangkan stres.?Air mata tangis emosi memiliki kadar protein yang lebih banyak dari kedua jenis lainnya. Protein itu terutama dalam bentuk adrenocorticotropic hormone (ACTH), sebuah protein yang berkaitan dengan stres. Teori tersebut mengatakan bahwa menangis membantu mengeluarkan bahan kimia pembuat stres ini (ACTH) dari badan sehingga kita tidak stres lagi. Namun ini masih sekedar teori dan belum dibuktikan lebih lanjut.

Demikian.

?

Daftar Referensi:

ASAP Science. Why do we cry. https://www.youtube.com/watch?v=QGdHJSIr1Z0.

Bergeson, Laine. (2015, Desember 13). The science of tears. Maret 2016. http://news.discovery.com/human/life/the-science-of-tears-121213.htm

Knight, Nick. (2014, September 18). Why do we cry? The science of tears. Maret 2016. http://www.independent.co.uk/life-style/health-and-families/features/why-do-we-cry-the-science-of-tears-9741287.html

Thumbnail via youtube

Karya : B.R. Karya