Kehidupan Reksa yang Biasa Saja #3

Kehidupan Reksa yang Biasa Saja #3

B.R. Karya
Karya B.R. Karya  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Maret 2016
Kehidupan Reksa yang Biasa Saja #3

Bagian sebelumnya di sini

?

3: SEBUAH KOTA YANG BIASA

?

?Selamat malam!?

Saya menyapa seorang pria yang sedang duduk berjongkok. Ia sibuk menambat perahunya yang terpakir di pinggir kanal.

Sang pria menoleh menatap saya kemudian berdiri. Saya membungkuk hormat.

?Oh, selamat malam,? balasnya sembari turut membungkuk. ?Maaf, tetapi kami sudah tutup. Silakan kembali besok sore.?

Pria itu salah menyangka. Ia mengira saya seorang turis yang hendak?mengikuti tur River Cruise, sebuah tur selama dua puluh menit menikmati keindahan kawasan wisata Dotonbori dengan menelusuri kanal.

Celana gantung krem, kemeja batik gaul bercorak merah-putih, dan sandal gunung adalah setelan saya malam itu. Kamera Nikkon juga terjuntai di pinggang. Dengan wajah dan kulit yang romannya bukan seperti manusia Jepang, mungkin setiap orang bakal menerka dengan yakin bahwa saya adalah turis asing.

Yah, mau gimana lagi. Saya hanya bisa tersenyum.

?Anda Sendo Akira, kan??

?Iya, betul. Anda sendiri??

Saya menyerahkan kartu nama sembari memperkenalkan diri, ?Saya Reksa Aditya, jurnalis dari Osaka Shinbun.?

Ia memandangi kartu nama dan wajah saya bergantian layaknya pengawas ujian yang ingin mencocokkan muka peserta tes dengan fotonya, takut kalau-kalau peserta itu ternyata calo. Yah, barangkali itu sekedar cara Sendo menunjukkan keheranan akan maksud dan tujuan saya.

?Saya kemari ingin membicarakan tentang adik perempuan Anda, Sendo-san.?

Ketika mendengar penuturan saya itu, raut muka Sendo berubah layu.

***

Saya menengguk habis segelas air putih dingin. Belum ada setengah jam bercerita, tenggorokan sudah kering. Kawan obrolan saya, Yamada Taro, bukanlah orang yang banyak omong jadi kebanyakan hanya saya yang berbicara. Untungnya kami sedang berada di dalam izakaya, jadi saya tidak akan mati kehausan.

Saya dan Yamada mengobrol ke sana kemari tanpa topik yang jelas. Sampai kemudian, entah bagaimana kami jadi membahas kejadian orang hilang yang sering terjadi beberapa waktu lalu di Osaka.

?Lalu kelanjutannya?? tanya Yamada. Ia sepertinya mulai penasaran.

Suara Yamada terdengar sedikit nyaring. Saya mengamati suasana izakaya yang telah sunyi senyap. Pelanggan yang tersisa hanya kami yang sedang duduk di counter dan seorang lagi yang duduk agak jauh dari pintu masuk.

Saya mengangkat gelas kosong dan mengisyaratkan kepada bartender untuk mengisinya lagi. Ketika ia tiba untuk mengambil gelas kosong itu, saya berucap, ?Tolong air putih,? dan sang bartender pun mengangguk lalu berjalan ke dapur.

Saya lanjut bercerita.

***

Kami kemudian berjalan menyusuri kanal Dotonbori. Suasana sudah agak sepi. Lampu-lampu neon berwarna-warni menghiasi jajaran pertokoan di kanan maupun di kiri kanal tetapi hanya segelintir orang yang terlihat menikmati gemerlap cahayanya.

Saya dan Sendo melewati sekelompok remaja yang nongkrong menghabiskan malam minggu ketika perbincangan kami mulai masuk ke pokok masalah.

?Akiko gadis yang baik,? katanya.

?Saya dengar ia murid yang populer di sekolah.?

?Benar. Ia punya banyak teman,? lanjutnya. ?Terkadang ia mengajak beberapa temannya itu main ke rumah. Bahkan sampai menginap.?

?Begitukah? Lalu bagaimana hubungannya dengan keluarga? Baik-baik sajakah??

?Baik. Baik sekali. Paling tidak menurut saya begitu tadinya.?

Sendo mendesah panjang kemudian berucap, ?Ia gadis yang tidak pernah mengeluh.?

Tidak pernah mengeluh bukan berarti tidak ada masalah sama sekali, pikir saya. Saya diam sejenak sebelum lanjut bertanya.

?Lantas menurut Anda apa yang menyebabkan ia kabur dari rumah??

?Saya tidak tahu.?

?Apa ada kemungkinan ia diculik??

Sendo mengambil napas panjang sebelum menjawab, ?Sepertinya tidak. Ibu saya mengecek lemari kamarnya. Pakaiannya banyak yang tidak ada. Akiko pergi meninggalkan rumah atas kehendaknya sendiri.?

Kami menyebrangi kanal dengan menaiki sebuah jembatan bercat kuning kemudian berhenti tepat di pertengahan. Kanal Dotonbori sekarang berada di bawah kaki kami.

Sendo bersandar ke dinding jembatan, bertumpu dengan kedua lengannya. Pandangannya tertuju pada langit kelam tak berbintang.

?Ayah marah sekali,? lanjutnya.

Ada jeda sejenak sebelum Sendo melanjutkan.

?Katanya kalau Akiko sudah tidak ingin tinggal di rumah lagi, biarlah. Ia boleh berbuat semaunya.?

?Ayah Anda orang tua yang keras, ya??

Sendo tersenyum kecut. ?Ya, begitulah.?

Apa barangkali sifat keras ayah Anda itu yang membuat Akiko kabur dari rumah? Saya ingin bertanya begitu tapi untungnya tidak jadi.

?Ayah memang terkesan keras tetapi sebenarnya ia pria berhati lembut. Ia sering menangis bila mengingat Akiko.?

Saya ikut menatap langit dan berusaha mencari hal yang menjadi pusat pandangan Sendo tetapi tak menemukannya. Kecewa, saya memandang kanal di bawah kami. Kemilau cahaya pelangi lampu-lampu neon sign terpantul di permukaannya yang beriak. Glico Man, maskot snack cokelat Pocky, terpajang di depan sebuah toko pinggir kanal. Wujud besarnya membayang dan menggeliat-geliut tak karuan di permukaan air yang bergelombang itu.

Udara malam bertiup dan membuat saya menggigil. Saya mulai menyesal kenapa memakai batik tipis berlengan pendek. Tapi paling tidak saya sudah mendapatkan informasi yang saya inginkan.

?Kalau begitu saya pamit dulu. Maaf telah menyita waktu Anda, Sendo-san.?

?Ah, tidak apa-apa.?

?Kami di Osaka Shinbun juga berharap semoga Akiko-chan cepat pulang ke rumah.?

Sendo hanya tersenyum hampa.

Saya dan Sendo pun saling membungkuk dan kami berpisah di atas jembatan itu.

Berjalan tiga langkah, saya berbalik kemudian berseru, ?Ah, Sendo-san! Kapan-kapan saya ingin mencoba tur River Cruise Anda!?

?Ah, silakan Reksa-san! Alangkah senangnya saya bila Anda mencobanya!?

Sendo tersenyum dengan senyum yang sebenarnya. Melihat dirinya dengan senyum itu membuat saya senang.

Kemudian kami benar-benar berpisah.

Seraya berjalan pergi saya mencoba merenung.

Akiko, gadis 16 tahun. Tinggal bersama kakak lelaki dan kedua orang tuanya di wilayah Naniwa. Ia menjalani kehidupan yang biasa. Bersekolah dari pukul 8.30 sampai 15.30. Setelah itu ikut klub Kendo. Di akhir pekan, shopping bersama kawan-kawannya. Kesehariannya di rumah menonton televisi dan mengerjakan PR dan terkadang membaca komik.

Lalu tiba-tiba gadis itu menghilang begitu saja.

Malam ketika Akiko menghilang, ibunya menelepon kawan-kawan anak bungsunya itu namun tidak ada yang mengetahui keberadaanya. Sang ayah lalu melapor ke polisi. Dua hari kemudian setelah tanpa ada kabar tentang Akiko, Sendo Akira menghubungi MPS, asosiasi pencarian orang hilang. Dua minggu setelahnya, saya dan Sendo bertemu di Dotonbori.

Akiko terkesan seperti gadis yang bahagia atau setidaknya gadis yang bebas masalah. Lalu mengapa ia kabur dari rumahnya? Yang membuat rancu lagi adalah kaburnya Akiko diikuti dengan kasus hilangnya enam gadis remaja lainnya.

***

?Sudah tiga bulan berlalu. Akiko masih belum ditemukan.?

?Menyedihkan sekali, ya,? sahut Yamada sambil menengguk minumannya.

Yamada dan saya terdiam beberapa lama. Di izakaya sekarang hanya ada kami berdua dan sang bartender.

Kemudian ponsel berdering. Tapi bukan ponsel saya yang berbunyi melainkan ponsel milik Yamada.

?Moshi moshi! Haik. Hmmm.....hmmm. Oke. Saya berangkat.?

Yamada kemudian menutup panggilan poselnya. Dari ekspresi mukanya, sepertinya ada masalah serius.

Saya belum sempat bertanya sesuatu ketika Yamada langsung berdiri sambil berseru, ?Belum lama terjadi baku tembak lagi di Kamagasaki! Saya pergi ke sana sekarang!?

?Tunggu!? saya menyela. ?Mau pergi sendiri??

?Iya.?

?Bahaya! Paling tidak ijinkan saya ikut dengan Anda!?

?Tidak usah. Reksa-san, Anda mungkin bisa mewawancarai polisi saja besok pagi.?

Seraya keluar dari izakaya Yamada berseru, ?Ittekimasu!? (Saya berangkat!)

Yamada main ngacir saja meninggalkan saya melongo. Belegug siah, pikir saya.

Sendirian, saya duduk termenung memikirkan tentang Osaka. Osaka dengan 2.7 juta penduduknya. Osaka dengan wisata River Cruise-nya. Osaka dengan gedung-gedung megah bertingkatnya. Osaka dengan segala festival meriahnya yang bertaburkan kembang api warna-warni. Namun, cobalah buang semua pernak-pernik indah padanya maka kamu akan mendapati Osaka hanyalah sebuah kota biasa layaknya kota-kota lainnya. Kota yang berisikan manusia dengan segala mimpi-mimpi mereka. Mimpi-mimpi yang saling bertabrakan satu sama lain. Mimpi-mimpi yang hilang tak berbekas dan lenyap ditelan bumi seperti halnya Akiko.

Osaka pun punya segudang masalah besar. Kasus orang hilang dan perang antar kelompok Yakuza yang semakin berkecamuk hanya sebagiannya saja.

Haaaah. Saya mendesah panjang-panjang.

Karena tidak ada teman bicara lagi, letih pun melanda. Saya akhirnya memutuskan pulang.

?Ah, Reksa-san!? Sang bartender menyetop langkah saya sebelum saya sempat keluar dari izakaya.

?Iya??

?Saya hampir lupa. Tadi Minami-san datang kemari.?

?Oh iya? Apa dia bilang sesuatu??

?Tidak ada sih. Hanya saja saya berpikir mungkin Anda perlu tahu.?

Saya tersenyum dan berucap, ?Terima kasih, Sato-san. Saya permisi dulu.?

Menghirup angin malam di luar, saya seperti mendapatkan kekuatan lagi. Saya mengecek ponsel. Ada panggilan tak terjawab dari Nami satu jam yang lalu. Mau apa dia?

Saya hendak menelepon balik ketika datang panggilan masuk dari Kepolisian Prefektur Osaka. Saya pun menjawab panggilan.

?Apa benar Anda Reksa Aditya??

?Iya. Ada masalah apa ya??

?Kami memohon maaf sebelumnya tapi kawan Anda, Minami Nami, tertembak di dada dan dalam kondisi kritis.?

Ada suatu kekuatan tersembunyi yang menusuk-nusuk dada saya kala itu. Namun kekuatan tersembunyi itu pula lah yang menggerakkan kaki saya berlari.

Iya. Berlari.

Berlari sekencang-kencangnya menuju Nami.

?

(Bersambung bung bung...)

?

Daftar Istilah

Izakaya: Tempat nongkrongnya orang Jepang selepas kerja. Kalau di Indonesia mungkin bisa disamakan dengan warkop.

Yakuza: Sindikat mafia Jepang.


  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    2 tahun yang lalu.
    Asik dapet ilmu baru.. "bagian sebelumnya disini (link)" utk tulisan bersambung gw.. *terima kasih mas.. gw contek ya..

  • B.R. Karya 
    B.R. Karya 
    2 tahun yang lalu.
    Kalo sempet bakal diceritain kenapa namanya reksa. Dan brubung lappy lagi eror dan saya sedang uts, mungkin baru minggu depan lagi kelanjut annya

    • Lihat 6 Respon

  • Anis 
    Anis 
    2 tahun yang lalu.
    muncul juga part 3-nya. *belum dibaca sih btw, kemarin lupa nanya. kenapa namanya REKSA? jadi inget kata reksadana dan danareksa #ups

  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    2 tahun yang lalu.
    Permainan waktu yang memukau.