Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Filsafat 25 Juni 2017   03:51 WIB
“Rasa ingin tahu” sebagai syarat berfilsafat

“Rasa ingin tahu” sebagai syarat berfilsafat
Oleh : Bentar Wirayudha

 

Apakah filsafat itu? Seperti apakah berfilsafat?
Tidak  sedikit orang yang menolak filsafat, menurutnya filsafat tidak perlu ada dan tidak perlu untuk berfilsafat karena terlalu berlebihan dalam berfikir, merepotkan, melangkah mundur karena terus berfikir terlalu dalam.


Sejatinya manusia adalah makhluk yang berfikir, berfikir inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya yang ada di bumi ini, namun tentu dalam berfikir pun pastilah berbeda, maka filsafat ini adalah cara berfikir yang berbeda, filsafat tidak hanya melihat dan membicarakan yang ada namun filsafat juga membicarakan hal tidak ada atau yang mungkin ada.


Memang berikir adalah tanda hakikat manusia, namun tentu tidak hanya semata-mata dalam berfikir, berfilsafat adalah berfikir secara mendalam sampai ke akar (radix) inilah yang disebut berfilsafat. Sebetulnya berfilsafat itu merupakan hal yang penting karena berfilsafat sejatinya berusaha mencari kebenaran, dengan berfilsafat kita tidak hanya melihat satu sisi namun semua sisi kita lihat sehingga mendapatkan makna yang lebih kuat.


Ketika melihat pohon yang subur berdiri kokoh dengan daunnya yang lebat dan di penuhi dengan buah-buahnya maka orang yang berfilsafat tidak cukup hanya melihat itu semua, orang yang berfilsafat tentu bertanya mengapa pohon tersebut bisa berdiri kokoh dengan daun yang lebat dan di penuhi buah? ternyata pohon yang kuat memiliki akar yang sehat, ia dirawat disirami dan di pupuki dengan sangat teliti sehingga menjadikan pohon itu berdiri kokoh dan tumbuh dengan suburnya.

Atau sama kalanya ketika sedang berada di tepi pantai menikmati detik-detik tenggelemanya mata hari tentu itu menghasilkan pemandangan yang indah, maka orang yang berfilsafat tidak hanya sekedar menikmati keindahan, bahkan tidak hanya sekedar bertanya mengapa bisa seindah itu? Namun akan menimbulkan pertanyaan “apakah indah itu?” berfilsafat inilah yang akan mengahasilkan pemahaman yang kuat dan luas, karena pemahaman tersebut tidak hanya dilahirkan dari cara berfikir namun perlu adanya penghayatan yang sangat dalam.


Allah adalah tuhan yang maha kuasa, ia menitipkan bekal kepada manusia berupa al-aql (akal/rasio) untuk dapat menjalani kehidupan di bumi serta agar dapat memelihara bumi, akal ini adalah karunia yang teramat hebat karena akal manusia tidak semata-mata berupa akal namun ia terhubung dengan qolbu (hati).


Dengan adanya akal inilah yang mendorong manusia mempunyai rasa ingin tahu yang dimana ini merupakan syarat dalam berflsafat. “Rasa ingin tahu membuat manusia terus berfilsafat” Plato. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong kita berfikir pada tahap-tahap lebih lanjut sehingga dapat menemukan makna yang lebih dalam hingga dapat menemukan kebenaran.
Kebenaran inilah yang akan menuntun manusia menuju kebahagian, lantas mengapa untuk menemukan kebenaran harus dengan berfilsafat? Bukankah bisa menemakan kebenaran hanya dengan berfikir biasa-biasa saja seperti melakukan yang benar dan menjauhi yang salah?


Dalam filsafat tentu adanya berupa Etika dan Estetika, yang dimana etika merupakan kebiasaan atau tingkah laku kita mengenai mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, dan tentulah dalam beretika ini dilandasi Moral yang merupakan pendorong kita dalam melakukan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.
Mari kita ulas sedikit mengenai moral agar mendapat pemahaman yang luas dan mendalam. Moral dalah suatu landasan dalam beretika berupa rasa kasih, rasa cinta, atau kebesaran hati dengan kata lain moral yaitu berbicara hati nurani yang sejatinya bisa dapat merasakan benar salah dan baik buruk, maka moral ini jika di tuangkan dalam puisi merupakan “suara hati”. Jika manusia terus menerus berbuat salah dan buruk maka patut dipertanyakan, dimanakah hatinya?!


Maka dalam beretika yang dilandasi moral tersebut akan menghasilkan Estetika (keindahan). Keindahan ini lah tentu hasil dari sebuah kebenaran. Maka dapat disimpulkan bahwa berfilsafat inilah jalan untuk menuju kebenaran yang melahirkan kebahagiaan, karena dengan berfilsafat akan menumakan suatu pemahaman sampai pada akarnya sehingga dapat menumukan kebenaran dan hakikat suatu persoalan tersebut.


Filsafat berasal dari bahasa yunani, Philos yaitu mencintai dan Sophia yaitu kebenaran, kebijaksanan. Jadi filsafat yang dalam bahasa yunani Philosophia adalah mencintai kebenaran dan kebijaksanaan.
Sebagaimana dari Plato “filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli, kemudian muridnya yaitu Aristoteles “filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.


Orang yang mencintai kebenaran dan kebijaksanaan disebut seorang filosof, namun filosof ”bukanlah orang yang sudah benar maupun bijaksana melainkan orang yang terus berusaha bijaksana dan mencari kebenaran” Socrates.
Lantas mengapa harus monolak filsafat atau berfilsafat?


Berfilsafat ini merupakan berfikir secara luas lagi mendalam hingga menemukan makna yang sejati tidak sekedar arti, maka akan menemukan kebenaran yang menuntun pada kebahagian.
Jika olahraga membuat raga kita sehat maka berfilsafat adalah cara agar membuat akal kita sehat, dengan berfilsafat akan mampu merubah akal dan hati yang dangkal serta sempit menjadi kuat, luas dan dalam.

“orang-orang yang datang kepadaku bukanlah orang  yang mau belajar filsafat, melainkan orang-orang yang mau belajar berfilsafat” Immanuel Kant.

Mari berfilsafat..

Bentar Wirayudha
Pandeglang, 25 juni 2017

Karya : Bentar Wirayudha